Demonstrasi Berkepanjangan Jadi Sinyal Buruk untuk Investor

Mahasiswa dan Polisi Bentrok di Sekitar Kawasan Senayan Menolak RUU KPK dan KUHP
Mahasiswa dan Polisi Bentrok di Sekitar Kawasan Senayan Menolak RUU KPK dan KUHP

Jakarta, PONTAS.ID – Aksi demonstrasi masih berlanjut yang dialamatkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI terkait sejumlah Revisi Undang-undang (RUU) kontroversial.

Mencermati itu, Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo mengungkapkan, demo yang berlangsung lama atau berkepanjangan akan berdampak negatif pada perekonomian Indonesia, termasuk investor dan pelaku ekonomi.

Oleh karena itu, dampak demonstrasi tidak boleh dipandang sebelah mata.

“Menurut saya memang demonstrasi sebaiknya tidak dibiarkan terus-menerus terjadi. (Ini) jelas akan jadi sinyal buruk untuk pelaku ekonomi,” kata Yustinus di Jakarta, Rabu (2/10/2019).

Menurut dia, adanya aksi demonstrasi yang dilancarkan akan memberikan dampak bagi investor maupun calon investor yang akan menanamkan modal di Indonesia.
Mereka akan sangat selektif dan mempertimbangkan soal risiko ketika memutuskan untuk investasi di tengah gelombang demonstrasi.

“Calon investor akan mengkalkulasi ini sebagai bagian dari risiko,” ungkapnya.

“Pelaku usaha juga akan kena dampak langsung berupa kenaikan biaya usaha karena demonstrasi, baik biaya logistik, sosial, dan lain-lain,” tambahnya.

Dia memandang, unjuk rasa oleh mahasiswa dan pelajaran itu memang bagian dari hak setiap warga negara dalam menyuarakan pendapat.

Beri Jaminan Investor

Sementara itu, Anggota DPR RI, Sartono Hutomo mengimbau Pemerintah agar dapat terus bekerja efektif memberikan jaminan kepercayaan kepada investor agar mau menanamkan modalnya ditengah memanasnya suhu politik tanah air.

“Pemerintah harus bisa mengembalikan kepercayaan investor jika ingin ekonomi nasional ini terus melaju dan bangkit,” kata Sartono di Jakarta.

Politikus Demokrat ini pun berharap, agar investor tidak terpancing dengan maraknya aksi demonstrasi belakangan ini. Karena menurut Sartono, tidak ada hal perlu ditakutkan oleh keamanan di Indonesia.

Tolak Demo Anarkistis

Terpisah, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menolak segala bentuk aksi demonstrasi yang anarkis atas nama apa pun. Sebab, hal itu hanya menciptakan ketakutan.

Menurutnya, unjuk rasa yang anarkistis justru merugikan masyarakat dan negara.

“Ini adalah dinamika demokrasi yang sehat selama dia tidak anarkistis dan menciptakan suasana yang kerusuhan,” ujarnya di Jakarta.

“Namun, kalau sudah anarkistis itu akan sangat disayangkan (menciptakan ketakutan) semua masyarakat pasti tidak mengharapkan hal itu,” sambung dia.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu berharap agar aksi demonstrasi yang terus terjadi tetap ada di koridor tata hukum nasional dan koridor menjaga ketertiban.

Demontrasi yang berjalan aman dan damai juga akan membuat pengusaha atau investor tenang. Lain halnya bila demonstrasi dilakukan secara anarkistis.

“Aspirasi tetap bisa dan harus disampaikan karena ini pandangan dari berbagai lapisan masyarakat,” kata dia.

Sri Mulyani sebelumnya berharap kian besarnya aksi gerakan mahasiswa menentang UU KPK dan RUU KUHP tidak mengganggu stabilitas ekonomi.

Ia ingin agar semua pihak untuk duduk bersama membahas permasalahan yang ada dan mencari jalan keluar terbaik.

Sehingga, situasi panas bisa kembali mereda. Pada 2019, kata dia, Indonesia diselimuti sentimen positif investor. Oleh karena itulah aliran modal asing banyak masuk mengalir ke dalam negeri.

Menurut Sri Mulyani, situasi ini harus dijaga bersama-sama sehingga tetap terjaga dan memberikan dampak positif kepada ekonomi Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan menjaga stabilitas politik dan keamanan

Penulis: Luki Herdian

Editor: Stevany

Previous articleRibuan Personel Gabungan Amankan Demo Buruh di DPR
Next articlePasca-rusuh, Kelistrikan Wamena Baru Pulih 70 Persen