
Palangka Raya, PONTAS.ID – Wacana pemindahan Ibu Kota dari Jakarta ke Kalimantan kian santer. Dilatarbelakangi hal tersebut, BPH Migas segera merealisasikan pembangunan jaringan pipa trans Kalimantan sepanjang 2.019 kilometer.
Kepala BPH Migas, Fanshurullah Asa, pun lantas meminta seluruh pemerintah daerah di Kalimantan, mengevaluasi dan menghitung angka kebutuhan gas bumi di wilayahnya.
“Hal ini sebagai salah satu dasar bagi kami, untuk melanjutkan pengembangan serta pemanfaatan gas bumi di Kalimantan ke tahap selanjutnya,” kata Fanshurullah, saat Focus Group Discussion (FGD) tentang Prospek Pengembangan dan Peningkatan Pemanfaatan Gas Bumi di Kalimantan Melalui Pembangunan Pipa Transmisi Gas Bumi Kalimantan, di Palangka Raya, Rabu (31/7/2019).
Menurut Fanshurullah, pembangunan jalur pipa itu merupakan suatu keharusan, guna mewujudkan keadilan energi di Indonesia, utamanya di Kalimantan. Saat ini, perbandingan jaringan pipa yang ada di wilayah Jawa dan Sumatera, sangat tidak seimbang dengan Kalimantan maupun Papua.
Lebih lanjut, Fanshurullah menuturkan bahwa dari sisi alokasi gas BPH Migas, maka diperkirakan kebutuhan gas bumi terkait rencana pemindahan ibukota di Kalimantan sekitar 1.532,52 MMSCFD.
Perkiraan kebutuhan itu terdiri dari perkiraan kebutuhan untuk pembangkit listrik sekitar 528,6 MMSCFD, kemudian potensi untuk kebutuhan Ibu Kota dengan asumsi 1,5 juta penduduk sekitar 34,7 MMSCFD, lalu potensi pemindahan 34 kantor kementerian membutuhkan sekitar 17,02 MMSCFD.
Sedangkan, potensi kebutuhan gas untuk kawasan industri yang dibangun sepanjang Kalimantan, yakni di Maloy Batuta (Kalimantan Timur), Tanah Kuning (Kalimantan Utara), Landak dan Ketapang (Kalimantan Barat) serta di Batulicin dan Jorong (Kalimantan Selatan) mencapai sekitar 851,2 MMSCFD.
“Kebutuhan gas bumi di Kalimantan tahun 2018-2027 berdasarkan neraca gas sebesar 622,51 MMSCFD. Sementara, potensi alokasi pasokan dan pengembangan sumber gas di Kalimantan baik berdasarkan dari neraca gas bumi Indonesia 2018-2027 maupun dari yang kami lihat terkait potensi kargo gas (alam cair) yang belum ada pembelinya atau uncommited di mana adanya potensi 40 kargo, diperkirakan mencapai sekitar 2.609,49 MMSCFD,” paparnya.
BPH Migas berharap, bahwa Kalimantan bukan hanya menjadi Ibu Kota baru bagi Indonesia, namun juga bisa menjadi percontohan bagi kawasan green energy secara nasional.
“Sudah jelas dalam RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) teknokratik 2020-2024 itu semangatnya menggunakan green energy untuk ibukota. Tapi kalau kami ingin lebih luas, di mana bukan hanya green energy untuk area Ibu Kota juga melainkan juga mencakup seluruh area Kalimantan,” tuntas Fanshurullah.
Penulis: Riana
Editor: Stevanny

























