Jakarta, PONTAS.ID – Industri pariwisata, termasuk di antaranya perusahaan perjalanan wisata (travel agent) maupun akomodasi hotel (hoteiler), diminta untuk mempersipakan diri dalam menghapi perubahaan pasar di era tourism 4.0.
Permintaan tersebut disampaikan oleh Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya dalam acara Rakornas Kementerian Pariwisata (Kemenpar) II Tahun 2019, yang mengangkat tema ‘Curriculum & Training Wonderful Indonesia Digital Tourism (WIDI) Champion 4.0’ di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Kantor Kemenpar, Jakarta.
“Saya yakin pasar sudah siap karena didominasi wisatawan milenial yang sudah digital, sedangkan industri masih perlu dipersiapkan,” kata Arief, Jumat (5/7/2019).
Dia pun menjelaskan, belum siapnya industri pariwisata menghadapi tourism 4.0 terlihat dari masih banyaknya keluhan para pelaku usaha travel agent, yang masih mempersoalkan online travel agent (OTA) serta bagaimana seharusnya menyikapi hal tersebut.
Padahal menurut Arief, perubahan tersebut merupakan suatu keniscayaan karena saat ini perilaku pasar sudah berubah dan telah bergeser ke arah digital.
“Dalam industri pariwisata perubahan customer behavior terlihat ketika melakukan ‘search and share’ yang 70 persen sudah melalui digital. Industri travel agent sudah tidak lagi bisa mengandalkan ‘walk in service’ untuk reservasi tiket dan memilih paket wisata. Semua sudah berubah dengan digital,” ujar Arief.
Oleh karena itu dia menegaskan, bahwa suka tidak suka industri pariwisata harus mengikuti perubahaan pasar yang bergeser ke digital tersebut. Arief lantas mengingatkan, bahwa dalam menghadapi perubahaan bisnis tersebut, hanya ada dua pilihan yakni menghadapi persaingan (compete) atau bekerja sama (colaboration).
“Kalau yang pertama menjadi pilihan, industri pariwisata harus membuat platform berbasis online sendiri. Misalnya, Asita membuat asita.co.id. dan PHRI membuat bookingina.com, sedangkan jika pilihan kedua mau tidak mau harus berkerja sama dengan perusahaan online,” ujarnya.
Sementara itu dalam menghadapi tourism 4.0, Kemenpar telah menyiapkan 5 program besar (grand strategy) yakni Strategic Theme: Wonderful Indonesia Digital Tourism 4.0; Strategic Imperatives for Transforming Tourism HR to Win Global Competition in Industry 4.0; 5 Technology Enabler; 9 Key Initiatives for Discipline Executions; dan Pentahelix Collaboration Approach.
Arief menjelaskan bahwa grand strategy transformasi menuju tourism 4.0 tersebut, sebagai upaya pengembangan wisata di Indonesia dan dikenal di mata dunia.
“Kunci dalam grand strategy pariwisata era industri 4.0 adalah sumber daya manusia atau SDM, dan ini sebagaimana program yang ditetapkan Presiden Jokowi tahun ini, yakni fokus pada SDM,” katanya.
Untuk diketahui, penyelenggaraan Rakornas Pariwisata II Tahun 2019 dimaksudkan sebagai upaya mensinergikan seluruh kekuatan kepariwisataan nasional melalui penguatan SDM pariwisata agar dapat memenangkan kompetisi global di era industri 4.0.
Rakornas tersebut menghadirkan sejumlah nara sumber dari dalam negeri dan mancanegara antara lain Yuswohady dan Priyantono Rudito, PhD (Advisor to MoT); Wawan Demanto (SBM ITB/Tim Penyusunan Kurikulum Digital); Dr. Elidjen (Binus University/Knowledge Management & Innovation Director); Indrawan Nugroho (Corporate Innovation Asia); dan Rukhsana (Expert/Deloitte Digital Philipine).
Rakornas II ini digelar sebagai kelanjutan dari Rakornas I Kemenpar Tahun 2019 yang berlangsung di Hotel Sultan pada 28 Februari hingga 1 Maret 2019 dengan mengangkat tema ‘Wonderful Indonesia Digital Tourism (WIDT) 4.0:Transforming Tourism HR to Win The Global Competition in The Industry 4.0 Era”.
Dalam Rakornas I tersebut dihasilkan 6 program inisiatif yakni program pemetaan digital maturity di industri pariwisata di Indonesia; program pemetaan kompetensi, kurikulum, dan metode pembelajaran dan sertifikasi WIDT 4.0; program kerjasama link & match antara Perguruan Tinggi Negeri Pariwisata (PTNP) dan industri di bidang pengembangan kompetensi digital.
Di samping itu program pengembangan dan pembinaan SDM desa wisata dengan PTNP, dan program kerja sama pengembangan startup pariwisata dan industri kreatif di berbagai destinasi wisata, serta program pengembangan dan pelatihan WIDI Champion.
Penulis: Risman Septian
Editor: Luki Herdian



























