Kemendag: Capaian Ekspor Nonmigas 2018 Lampaui Target

Jakarta, PONTAS.ID – Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaporkan bahwa capaian ekspor nonmigas periode Januari-November 2018 berhasil melampaui target rencana kerja pemerintah (RKP) dengan peningkatan nilai ekspor nonmigas sebesar 7,5 persen.

Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita mengatakan bahwa dengan peningkatan nilai ekspor nonmigas sebesar 7,5 persen tersebut, sehingga nilainya naik menjadi 150,14 miliar dolar AS jika dibandingkan selama periode yang sama tahun 2017 lalu yang mencapai 139,7 miliar dolar AS.

“Meski belum melampaui target peningkatan ekspor nonmigas Kemendag sebesar 11 persen, nilai ini telah melampaui target RKP yang ditargetkan sebesar 5-7 persen,” kata Enggar dalam siaran pers Kemendag, Jumat (11/1/2019).

Dengan pertumbuhan tersebut, pemerintah katanya telah berhasil mempertahankan surplus neraca nonmigas di tengah ketidakpastian kondisi perdagangan global, akibat efek perang dagang yang ditimbulkan Amerika Serikat (AS).

Surplus neraca perdagangan nonmigas tercatat sebesar 4,64 miliar dolar AS (Januari-November 2018). Ekspor secara keseluruhan tumbuh positif sebesar 7,7 persen dengan nilai ekspor migas sebesar 15,65 miliar dolar AS, dan ekspor nonmigas 150,14 miliar dolar AS.

Untuk meningkatkan kinerja ekspor, selain menyasar pasar tradisional seperti China, AS, Jepang, Malaysia, Filipina, Korea Selatan, dan Thailand, Kemendag juga serius melakukan penetrasi pasar ekspor ke negara-negara nontradisional.

Kemendag, lanjut Enggar, berhasil mendorong peningkatan pertumbuhan nilai ekspor di negara nontradisional seperti Bangladesh (15,9 persen), Turki (10,4 persen), Myanmar (17,3 persen), Kanada (9,0 persen), Selandia Baru (16,8 persen), Polandia (23,3 persen), Nigeria (17,3 persen).

“Pembukaan lebih banyak akses pasar ekspor, kami lakukan dengan aktif menambah perjanjian perdagangan internasional baru, dan secara simultan diimbangi dengan kegiatan misi dagang, untuk mendongkrak peningkatan ekspor di negara-negara nontradisional,” ujarnya.

Ekspor ke negara-negara yang memiliki perjanjian perdagangan internasional (FTA) dengan Indonesia, berkontribusi sebesar 63 persen terhadap postur ekspor nasional. Sampai akhir 2018, Indonesia juga telah meratifikasi 8 perjanjian perdagangan internasional, mengajukan ratifikasi terhadap 2 perjanjian, dan menandatangani 4 perjanjian.

Delapan perjanjian yang telah diratifikasi yaitu MoU antara Indonesia dengan Palestina, PTA Indonesia dengan Pakistan, ASEAN Agreement on Medical Device Directive, Protocol to Implement the Ninth Packages of Commitments under the ASEAN Framework Agreements on Services, serta perjanjian teknis internal ASEAN.

“Sementara perjanjian yang sedang dalam proses ratifikasi adalah Indonesia-Chile CEPA dan ASEAN-Hong Kong FTA and Investment Agreement. Perjanjian yang ditandatangani pada akhir 2018 adalah Indonesia-EFTA, berupa kerja sama ekonomi komprehensif antara Indonesia dengan 4 negara Eropa, yaitu Swiss, Norwegia, Islandia dan Liechtenstein,” tutur Enggar.

Ada pula 10th ASEAN Framework Agreement on Service, First Protocol to Amend ATIGA, dan ASEAN Agreement on Electronic Commerce. Berbagai perjanjian perdagangan internasional di tahun 2018 tersebut berdampak positif dan diperkirakan meningkatan ekspor Indonesia sebesar 1,9 miliar dolar AS.

Selain itu yang tidak kalah penting, tambah Enggar, pada 2018 Kemendag membentuk FTA Center di lima daerah, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar yang berfungsi sebagai pusat edukasi, konsultasi, dan advokasi hasil kesepakatan kerja sama ekonomi internasional.

Lebih lanjut Enggar mengungkapkan, bahwa program misi dagang 2018 juga turut menyumbang nilai ekspor dengan transaksi sebesar 14,79 miliar dolar AS atau setara 207,06 triliun rupiah (kurs 14 ribu rupiah). Nilai tersebut meningkat empat kali lipat dibandingkan misi dagang di enam negara pada tahun 2017 dengan transaksi 3,6 miliar dolar AS.

Sepanjang 2018, Kemendag katanya juga telah melancarkan misi dagang ke 13 negara, yaitu India, Pakistan, Selandia Baru, Taiwan, Bangladesh, Tunisia, Maroko, AS, Swiss, Spanyol, China, Aljazair, dan Arab Saudi.

“Kemendag juga berhasil menyelamatkan nilai ekspor komoditas yang terkena hambatan teknis perdagangan dengan total 1,74 miliar dolar AS atau 25,2 triliun rupiah dan memenangkan 19 kasus sengketa perdagangan pada 2018,” imbuh dia.

Nilai ekspor yang terselamatkan tersebut terdiri dari nilai perdagangan yang mengalami hambatan di negara Argentina (8,1 juta dolar AS), Afrika Selatan (0,93 juta dolar AS), Australia (57,4 juta dolar AS), Malaysia (116 juta dolar AS), Vietnam (170 juta dolar AS), Filipina (600 juta dolar AS), India (94,73 juta dolar AS), Prancis (3,8 juta dolar AS), dan AS (691,01 juta dolar AS).

“Peningkatan kinerja eskpor juga terus diupayakan Kemendag dengan melakukan penyederhanaan dan transparansi perizinan ekspor, serta perbaikan tata kelola impor. Dengan demikian akan berdampak pada peningkatan kemudahan berusaha dan peningkatan iklim usaha perdagangan luar negeri,” tegas Enggar.

Penyederhaan perizinan dan transparansi ekspor juga dilakukan secara terintegrasi melalui Sistem OSS bagi pelaku usaha, dalam mendapatkan nomor induk berusaha (NIB) sebagai tanda daftar perusahaan (TDP) dan angka pengenal impor (API). OSS mendukung penerbitan 41 perizinan ekspor-impor dengan tanda tangan digital yang telah tersertifikasi Badan Siber dan Sandi Negara.

Prestasi perolehan transaksi perdagangan juga dicatatkan Kemendag melalui penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) 2018. Transaksi selama TEI 2018 tercatat sebesar 8,49 miliar dolar AS atau setara 127,33 triliun rupiah. Total nilai transaksi tersebut meningkat lima kali lipat dari target transaksi TEI 2018 yang sebesar 1,5 miliar dolar AS.

Editor: Risman Septian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here