Puting Beliung Terjang Rancaekek, Jumlah Kerusakan Terus Bertambah

Atap puluhan rumah di kawasan Rancaekek, Kabupaten Bandung diterbangkan angin puting beliung Jumat (11/1/2019) sore

Jakarta, PONTAS.ID – Bencana puting beliung makin meningkat saat dari tahun ke tahun. Peningkatan puting beliung disebabkan ada perubahan penggunaan lahan, dampak perubahan iklim yang menyebabkan makin meningkatnya ketidaksatabilan dinamika atmosfer lokal, dan aktivitas penduduk dan lainnya.

Bencana puting beliung melanda Desa Jelegong Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung Jawa Barat pada Jumat (11/1/2019) pukul 15.15 WIB. Puting beliung menyebabkan rumah penduduk rusak dan pohon tumbang.

Data sementara yang berhasil dihimpun BPBD Kabupaten Bandung dampak puting beliung tercatat 1 orang luka berat, 15 orang luka ringan, 15 rumah rusak berat, 71 rumah rusak ringan dan lebih dari 300 rumah rusak yang belum dikelompokkan tingkat kerusakannya.

“Diperkirakan jumlah kerusakan rumah dan bangunan bertambah karena pendataan masih berlangsung,” ungkap Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho melalui keterangan resminya, Jumat (11/1/2019).

Daerah yang mengalami kerusakan antara lain Perum Rancaekek Kencana Blok 16 RW.16. RW.08 Desa Jelegong Kec Rancaekek, dan beberapa perumahan lain. Atap rumah banyak yang diterbangkan oleh puting beliung.

Sebelum kejadian, pagi cuaca cerah kemudian pada siang awan-awan banyak terbentuk dan terdapat awan Cumulonimbus yang menutup daerah di Rancaekek dan sekitarnya. Langit terlihat mendung dan cuaca gerah atau sumug.

“Menjelang sore kemudian bertiup angin yang makin lama makin kencang disertai hujan berintensitas sedang hingga tinggi. Puting beliung terlihat di langit sesaat,” terang Sutopo.

BPBD Kab. Bandung saat ini masih melakukan pendataan. Pemasangan tenda pengungsi oleh TNI dan Brimob Polda Jabar kata Sutopo, didirikan untuk menampung sebagian masyarakat yang mengungsi. Tagana, BPBD dan relawan membantu pengungsi. Kondisi listrik masih padam.

“Kebutuhan mendesak saat ini adalah tenda pengungsi sementara, terpal, alat penerangan, bahan makanan dan air bersih,”

Tetap Waspada
Sebelumnya, Kepala Stasiun BMKG Bandung, Toni Sukma Wijaya mengatakan angin puting beliung tersebut akibat pembentukan angin dan hujan yang terjadi di wilayah Bandung timur disebabkan faktor regional dan global. Dari sisi regional, adanya pertemuan massa udara di sekitar Jabar dan belokan angin (shareline) di Jawa Barat bagian tengah.

“Kemudian faktor global, karena terdapat anomali suhu permukaan laut di perairan Jawa Barat yang cenderung hangat sehingga berpeluang terjadi pembentukan awan konvektif potensial hujan,” kata Toni.

Ditambahkan Toni, kondisi atmosfer berdasarkan citra satelit himawari, terpantau awan konvektif (terjadi karena adanya perbedaan suhu yang signifikan antara massa udara dengan lingkungan) berjenis Cumulonimbus meliputi wilayah Bandung bagian timur.

“Pengukuran pos hujan observasi yang tercatat di Pos Hujan Cileunyi, kurang dari satu jam tercatat 16 mm, masuk dalam kategori curah hujan dengan intensitas lebat,” ujar Toni saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Mengingat Jawa Barat masuk dalam puncak musim hujan, Toni mengimbau kepada masyarakat agar tetap tenang dan waspada, serta menjauhi pohon-pohon yang rindang atau bangunan-bangunan yang rapuh.

“Usahakan tidak keluar rumah di saat hujan lebat disertai angin kencang, petir atau kilat. Bagi pengendara motor agar menghindari genangan air dan tidak berteduh di bawah pohon saat hujan lebat disertai angin,” kata Toni.

Sementara itu, Humas Basarnas Bandung, Joshua Banjarnahor mengatakan, pihaknya akan terjun ke lokasi untuk memastikan tidak ada korban jiwa.

“Kantor SAR Bandung menerjunkan pasukannya. Bila ada korban kami siap mengevakuasi warga ke lokasi lebih aman,” kata dia.

Penulis: Pahala Simanjuntak
Editor: Hendrik JS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here