Temperamental ke Jurnalis, Pengamat: Prabowo Bisa Kehilangan Trust

Capres Prabowo Subianto

Jakarta, PONTAS.ID – Sikap tempramental ditunjukkan calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto kepada para jurnalis dan media dalam acara Peringatan Hari Disabilitas Internasional di Jakarta, Rabu (5/12/2018) kemarin berpotensi merugikan Prabowo sebagai kandidat di Pilpres 2019.

“Hati-hati ini bisa menjadi senjata makan tuan. Kenapa? Sebab Prabowo membuat distrust terhadap media mainstream di tengah masyarakat,” ujar Direktur Eksekutif Lembaga Riset Populi Center Usep Saiful Ahyar saat dihubungi, Kamis (6/12/2018).

Usep menjelaskan, ketika terjadi distrust, maka masyarakat yang tergiring opini Prabowo akan beralih kepada media sosial. Padahal, seluruh berita yang disebarkan melalui media sosial tidak memiliki penyaring bahkan lebih liar dan tidak terkontrol. Pada titik tersebut, bukan tidak mungkin akan ada berita-berita yang menyerang Prabowo lalu diamini pengguna media sosial.

Menurut Usep, sikap yang ditunjukkan oleh Prabowo serupa sikap yang ditunjukkan Presiden AS Donald Trump kepada seluruh media mainstream di AS. Trump, kata dia, sengaja memusuhi media massa agar masyarakat tak lagi percaya.

“Seharusnya kalau Pak Prabowo kalau merasa ada yang salah ya dituntut saja. Sudah ada mekanismenya jika mau menuntut media mainstream,” katanya.

Bagaimanapun juga, kata dia, Prabowo sebagai kandidat penantang pejawat Joko Widodo membutuhkan peran media untuk mengangkat elektabilitasnya. Sebagai calon presiden, Prabowo juga tidak bisa memaksakan kehendak agar semua pemberitaan media berpihak kepadanya.

Wajar Prabowo Marah

Sebelumnya, Partai Gerindra menganggap kritikan terhadap media yang disampaikan calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto sangat wajar terjadi.

Hal ini lantaran media kerap tidak bersikap objektif saat menginformasikan apa yang disampaikan oleh Prabowo kepada publik. Bahkan dalam beberapa kasus, pernyataan Prabowo kerap dikemas bertolak belakang dari maksudnya.

Namun Sekjen Partai Gerindra, Ahmad Muzani mengatakan, Prabowo tidak pernah marah atau benci dengan wartawan yang berada di lapangan atau ikut dalam liputan kegiatannya.

Prabowo marah terhadap pemilik media yang saat ini lebih sebagai partisan politik daripada menjadi rujukan informasi bagi masyarakat.

“Pak Prabowo itu tidak menyalahkan para jurnalis dan wartawan di lapangan yang telah melaksanakan tugasnya, tetapi pak prabowo mengkritik para petinggi dan pemilik media yang memang terkesan sebagai partisan politik,” ujar Muzani dalam keterangan pers, Kamis (6/12/2018).

Tak hanya itu, Muzani juga menilai ada upaya dari pihak tertentu yang mempengaruhi media arus utama untuk tidak bersikap objektif saat memberitakan kegiatan Prabowo Subianto.

“Ada beberapa peristiwa ya. Pertama pidato Pak Prabowo soal Profesor fisika, ini dipelintir. Soal Ojol, ini dipelintir. Bahkan soal dukungan Prabowo ke Palestina juga dianggap pro Israel, Jelas ini ada yang bermain,” tutur Muzani.

Puncak kekesalan Prabowo lanjut Muzani adalah ketika sejumlah media televisi tidak secara proporsional memberitakan acara Reuni 212.

“Ketika acara yang sangat besar dan menjadi salah satu sejarah berkumpulnya umat Islam Indonesia malah tidak ditayangkan. Malah kebanyakan dari media menyoroti pasca reuni. Ada soal sampahnya, ada soal ditunggangi kelompok politik tertentu. Ini kan bahayanya. Masyarakat tidak dapat informasi yang benar,” terang Muzani.

Padahal lanjut Muzani, sebagai salah satu dari empat pilar demokrasi, media seharusnya bersikap objektif dan berkewajiban memberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat.

“Masyarakat punya hak untuk mendapat informasi yang benar. Apalagi, media tv itu kan menggunakan frekuensi publik yang seharusnya bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia dengan pemberitaan yang objektif dan bukan untuk kepentingan sekelompok orang saja,” ucap Muzani.

Karenanya, Muzani menganggap kritik Prabowo terhadap media merupakan hal yang wajar.

“Jadi menurut saya wajar jika Pak Prabowo menyampaikan kritiknya kepada pemilik media dan para pimpinan media. Tapi, jangan tersinggung kalau Pak Prabowo menyampaikan hal tersebut jika kalian memberitakan secara objektif pada masa pemilu ini. Yang tersinggung itu cuma mereka yang tidak objektif,” pungkas Muzani.

Seperti diketahui, dalam peringatan Hari Disabilitas kemarin, Prabowo juga mengaku tidak lagi percaya dengan media mainstream. Bahkan Prabowo mengaku membaca koran hanya untuk melihat kebohongan demi kebohongan yang dilakukan media cetak setiap harinya.

“Saya katakan, hey jurnalis-jurnalis, kalian tidak berhak sandang predikat sebagai junalis. Saya katakan mulai sekarang jangan lagi hormati mereka karena mereka semua antek,” ucapnya.

Editor: Luki Herdian

Previous articleKaji Pemindahan Ibukota, DPR Studi ke Myanmar
Next articleAirlangga: Jadikan Manufaktur Jadi Sektor Mainstream Pembangunan