Jatuh di Perairan Karawang, Begini Kecanggihan Pesawat 737 MAX-8

Jakarta, PONTAS.ID – Pesawat Lion Air dengan rute Jakarta-Pangkalpinang jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018). Pesawat dengan nomor penerbangan JT 610 lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta dan diperkirakan jatuh pada pukul 06:33 WIB.

Pesawat Boeing 737-800-X (737 MAX-8) dengan registrasi PK-LQP ini merupakan keluaran tahun 2018 dan baru dioperasikan oleh Lion Air sejak 15 Agustus 2018.

Boeing 737 MAX-8 merupakan pesawat buatan perusahaan industri penerbangan asal Amerika The Boeing Company (BCA). 737 MAX-8 didisain dengan bodi sempit dan merupakan generasi ke-4 dari pesawat sebelumnya yaitu Boeing 737, Boeing 737 Classic, dan, Boeing 737 NextGen.

Produk yang di luncurkan Agustus 2011 ini pertama kali terbang pada Januari 2016. Sementara itu akan keluar MAX-9, yang mulai dioperasikan secara terbatas pada Maret 2018 dan akan di terbangkan perdana secara luas di awal 2019 nanti.

Kelebihan dari series Boeing 737 ini, ialah penggunaan bahan bakar lebih efisien sehingga penghematan bahan bakar dapat mencapai 20% lebih hemat dari generasi sebelumnya, juga suasana kabin yang lebih senyap mendukung kenyamanan penumpang.

Hal ini dikarenakan ujung mesin CFM LEAP-1B pada B737 MAX didesain bergerigi (chevron-fringed) untuk mengurangi suara bising yang keluar dari mesin pesawat.

Selain itu, aerodinamika dan mesin Boeing 737 MAX-8 diperbaharui dengan avionik (sistem elektronik pesawat), kokpit (ruang kendali pesawat) yang lebih sederhana dengan ukuran panel yang lebih besar. Kedua hal tersebut dirancang untuk meningkatkan kenyamanan dan efisiensi pesawat.

Boeing MAX-8 dari segi Aerodinamika mengusung model Winglet yang dijuluki Scimitar Winglet, dengan ujung sayap yang terlihat seperti terbelah 2, dan satu menjulur ke atas dan yang lainnya ke bawah.

Dengan bobot pesawat yang hanya mencapai 41 ton dalam keadaan kosong dan tanpa bahanbakar, 737 MAX-8 terbilang ringan. Dari model sayap Scimitar Winglet, berguna untuk memecah turbulensi udara yang terjadi di ujung pesawat saat kecepatan tinggi.

Turbulensi yang dihasilkan itu menghasilkan drag (daya hambat). Karena menghambat laju pesawat, maka mesin membutuhkan tenaga lebih, yang ujung-ujungnya drag ini membuat konsumsi bahan bakar boros.

Dalam Uji Aerodinamika, winglet tambahan pada ujung pesawat, membuat  turbulensi udara di ujung sayap dapat dipecah. Udara yang menggulung pada ujung sayap dapat terlihat lurus alirannya dan meminimalisir drag. B737 MAX-8 menggunakan mesin terbaru berjenis CFM LEAP 1B, dengan diameter lebih besar 20cm, dapat menghasilkan ‘dorongan’ lebih besar.

Sebagai tambahan, Sampai 2017 lalu, lebih dari 5000 pesanan MAX-8 telah dipesan secara global.

Terkait jatuhnya JT-610 dari Soetta ke Pangkal Pinang, Presdir Lion Air Group Edward Sirait mengatakan telah menggunakan B737 MAX-8 kurang dari 3 bulan.

“Baik Pilot dan Co-Pilot telah memiliki jam terbang yang cukup, serta terbebas dari penggunaan Narkoba,” kata Edward siang tadi, Senin (29/10/2018)

Penulis: Corani
Editor: Pahala Simanjuntak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here