Ini Sindiran Menteri Susi untuk Pengkritik Ikan Tak Punya KTP

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti

Jakarta, PONTAS.ID – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menuturkan Indonesia sebagai bangsa merdeka tak boleh berkompromi dalam menjaga kekayaan alam negeri ini.

Susi pun bersyukur Indonesia melalui Deklarasi Djuanda yang dicetuskan pada 13 Desember 1957 silam yang juga diakui internasional yang telah meletakkan fondasi kuat demi melindungi kekayaan alam termasuk sumber daya laut di dalamnya.

“Bayangkan jika Djuanda tidak menyatakan deklarasinya itu dan dunia tidak mengakomodirnya, ” ujar Susi kala menghadiri event Security Summit di Yogya, Kamis (18/102018).

Deklarasi Djuanda menyatakan kepada dunia bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI.

“Berkat seorang Djuanda, lautan itu menyatukan pulau-pulau itu menjadi satu NKRI,” ujar Susi.

Susi pun bercerita ketika dalam perang ilegal fishing ia tak henti mendapati pertentangan yang beragam dari berbagai pihak.

Misalnya ada tokoh yang menyerangnya dengan mengatakan bahwa ikan itu tidak memiliki kartu tanda penduduk (KTP) sehingga bebas berenang kemana saja dan ditangkap kapal negara lain.

“Masak kita terus buatkan KTP buat ikan, wong buat KTP orang saja bertahun tahun masalah enggak selesai,” ujarnya.

Susi Pudjiastuti tak mempermasalahkan jika ikan di perairan Indonesia berenang sampai keluar perbatasan wilayah lalu ditangkapi kapal negara lain.

“Makanya saya bilang (ke pengkritiknya) ‘Bilang ke negara tetangga suruh tunggu saja di rumah masing-masing sampai ikan Indonesia sampai ke sana (berenang ke luar perbatasan),” ujarnya.

Susi mengakui, jika pengambil kebijakan bisa konsisten, dan sedikit keras kepala dalam menegakkan peraturan, maka hasil dari kebijakan itu lambat laun bakal dirasakan.

Susi Pudjiastuti menyebut saat ini kondisi perikanan Indonesia sekarang cukup menggembirakan. Misalnya dapat terlihat dari kondisi ekspor ikan yang signifikan tiap tahun yang selalu di atas 10 persen kenaikannya. Bahkan semester pertama tahun ini kenaikan ekspor ikan sudah menyentuh 12,8 persen dibanding semester tahun lalu.

Meskipun dari kenaikan itu, ujar Susi bukan volumenya yang naik tajam melainkan value atau nilainya. Kenaikan value dan bukan volume ini menurut Susi justru bagus karena artinya sudah diterapkan penangkapan selektif pada komodits ikan. “Bukan asal tangkap ikan lagi dengan value murah-murah,” ujarnya.

Editor: Idul HM

Previous articleLapangan Tembak Diusulkan Dibuat Mirip Punya Paspampres
Next articleDPR Adang Divestasi Freeport, Hasto: Jokowi Pilih Kerja Keras

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here