Polri Bantah Jenderal Tito Terima Duit dari Basuki

Kapolri Jenderal Tito Karnavian (ist)

Jakarta, PONTAS.ID – Polri angkat bicara soal dugaan adanya aliran dana dari pengusaha Basuki Hariman ke kantong Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Nama Tito menjadi sorotan dalam kasus suap impor daging yang menyeret pengusaha Basuki Hariman dan mantan hakim MK Patrialis Akbar.

Hal itu dibeberkan Indonesialeaks dalam tulisannya yang dipublish sebelumnya. Mereka mengaku mendapat dokumen catatan pengeluaran atas nama PT Panorama Indah Sejati, salah satu perusahaan Basuki.

Di dalam dokumen tersebut, kabarnya ada 68 nama pejabat yang tertulis di buku itu dan diduga menerima aliran dana dari Basuki. Salah satunya yakni Tito Karnavian yang saat itu masih menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya.

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Metro Jaya Kombes Adi Deriyan Jayamarta menepisnya. Menurutnya, pihaknya telah menyelidiki dugaan aliran dana yang tercatat di buku merah tersebut langsung kepada Basuki.

“Gini, itu kan tahun 2017 dan kita sudah melakukan proses penyelidikan dan penyidikan kepada Pak Basuki langsung. Sumbernya dari siapa? Pak Basuki,” ujarnya, Selasa (9/10/2018).

Dia mengklaim bahwa Basuki tidak pernah menyerahkan sejumlah uang kepada 68 pejabat yang disebutkan. Termasuk kepada Tito.

“Kita tanya ke dia apa benar pernah memberikan apa yang tercatat dalam buku merah? Kata Pak Basuki tidak pernah. Jadi selesai. Kalau sumbernya saja bilang tidak pernah, kenapa kita bilang ada,” tegas Adi.

Tak hanya membantah aliran dana kepada Tito, dia juga menampik adanya perusakan barang bukti berupa buku merah yang berisi catatan pihak-pihak yang menerima aliran dana dari Basuki.

“Siapa yang bilang diduga dirobek? Gini, sekarang buku merah dijadikan barbuk di pengadilan. Nggak ada apa-apa kan? Pengadilan berjalan lancar,” singgungnya.

“Kalau lo tanya apa ada aliran dana, kalau itu sumbernya Basuki, Basuki sudah saya tanya dan itu tidak benar,” tandas Adi.

KPK Harus Periksa Tito

Sebelumnya, Mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto meminta KPK memeriksa Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian terkait kasus korupsi yang menjerat bos CV Sumber Laut Perkasa Basuki Hariman.

Dia juga mempertanyakan nyali Ketua KPK Agus Rahardjo cs untuk menuntaskan kasus tersebut.

“Pimpinan KPK tengah diuji publik apakah masih punya nyali untuk membongkar kasus ini hingga tuntas, setidaknya memanggil dan memeriksa Tito Karnavian,” kata Bambang dalam keterangan tertulisnya, Senin (8/10/2018).

Bambang menyampaikan itu untuk menanggapi pemberitaan mengenai dugaan perusakan barang bukti berupa buku bank bersampul merah atas nama Serang Noor IR oleh dua penyidik KPK, Ajun Komisaris Besar Roland Ronaldy dan Komisarisaris Harun. Roland dan Harun diduga telah merobek 15 lembar catatan transaksi dalam buku bank tersebut dan membubuhkan tip ex untuk menghapus sejumlah nama penerima uang dari Basuki.

Peristiwa tersebut terekam dalam CCTV di ruang kolaborasi lantai 9 Gedung KPK pada 7 April 2017. KPK telah mengembalikan keduanya ke kepolisian karena dugaan perusakan tersebut.

Isi lembaran buku yang hilang tersebut berisi catatan transaksi keuangan yang dibuat oleh Bagian Keuangan CV Sumber Laut Perkasa Kumala Dewi Sumartono. Keterangan Kumala soal buku tersebut tercatat dalam berita acara pemeriksaan yang dibuat oleh penyidik KPK Surya Tarmiani pada 9 Maret 2017.

Dokumen pemeriksaan tersebut mengungkap keterangan Kumala tentang catatan pengeluaran uang Basuki yang ditengarai salah satunya buat para petinggi polisi, termasuk Tito. Ketika bersaksi untuk kasus yang sama di pengadilan tindak pidana korupsi pada 3 Juli lalu, Kumala mengakui dialah yang membuat buku catatan itu atas perintah Basuki dan atasannya, Ng Fenny, yang menjabat general manager.

Menurut dokumen pemeriksaan yang diperoleh IndonesiaLeaks, Surya meminta penjelasan ke Kumala tentang 68 transaksi yang tercatat dalam buku bank merah atas nama Serang Noor itu. Catatan arus uang masuk dan keluar dalam mata uang rupiah, dolar Amerika, dan Singapura. Tak semua penerima tertulis dengan nama jelas. Sebagian hanya menggunakan inisial.

Seperti tertuang dalam salinan berita acara pemeriksaan itu, ada 19 catatan transaksi untuk individu yang terkait dengan institusi Kepolisian RI. Tertulis dalam dokumen itu bahwa nama Tito Karnavian tercatat paling banyak mendapat duit dari Basuki langsung maupun melalui orang lain. Tertulis di dokumen itu bahwa dalam buku bank merah nama Tito tercatat sebagai Kapolda/Tito atau Tito saja.

Kumala menjelaskan, dalam dokumen pemeriksaan, ada pemberian dana kepada Tito saat ia menduduki kursi Kepala Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya. Tito memegang posisi ini pada Juni 2015 hingga Maret 2016. Empat pengeluaran lain tercatat ketika ia menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme pada Maret-Juli 2016. Aliran lain tercatat sesudah ia dilantik Kepala Kepolisian RI. Nominal untuk setiap transaksi berkisar Rp 1 miliar.

Sebelumnya, sejumlah media nasional yang tergabung dalam Indonesialeaks merilis hasil investigasi mengenai kasus korupsi yang diduga melibatkan para petinggi penegak hukum di negeri ini. Mereka juga mencium adanya indikasi kongkalikong untuk menutupi rekam jejak kasus tersebut dengan cara penghilangan dokumen penyidikan.

Indonesialeaks menulis, Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang dibuat penyidik KPK, Surya Tarmiani, pada 9 Maret 2017 yang memuat keterangan saksi Kumala Dewi Sumartono yang membuat rincian catatan laporan transaksi keuangan dalam kapasitasnya sebagai Bagian Keuangan CV Sumber Laut Perkasa, justru tidak ada di dalam berkas perkara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here