
Jakarta, PONTAS.ID – Balai Perbenihan Tanaman Hutan (BPTH) Wilayah II akan mengembangkan enam tanaman unggulan di Wilayah Sulawesi, yaitu tanaman jabon merah, cempaka, jati, nantu, sengon dan bitti.
Direktur Perbenihan Tanaman Hutan (PTH) Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (PDASHL) Mintarjo mengatakan enam jenis tanaman hutan tersebut memiliki kesesuaian tempat tumbuh yang baik di Sulawesi.
“Jenis-jenis tanaman kayu ini disamping memiliki kesesuaian tempat tumbuh di Sulawesi, juga mempunyai nilai ekonomi yang bagus dan potensi pasar yang besar,” kata Mintarjo, Kamis (30/8).
Enam jenis tanaman ini direkomendasikan untuk dikembangkan sebagai tanaman unggulan di Sulawesi.
“Dengan menggunakan benih yang unggul juga memiliki masa panen yang cepat 6-12 tahun,” lanjut Mintarjo.
Sedang untuk penghijauan lingkungan dan penanaman pada hutan alam, dapat ditambahkan jenis kayu mewah berdaun panjang seperti kayu ebony, dan kayu kumea.
“Kedua jenis ini tidak direkomendasikan untuk penanaman pada hutan tanaman baik HTI maupun hutan rakyat, karena memerlukan waktu puluhan tahun untuk memanennya sehingga tidak menarik. Pada hutan produksi alam dapat dilakukan pemanenan secara tebang pilih,” tuturnya.
Untuk kayu bitti, Kepala BPTH Wilayah II Djoko Iriantono menjelaskan nilai ekonomi dan manfaatnya sebagai bahan dasar Kapal Pinisi. Hanya kayu bitti yang cocok untuk bahan pembuatan kapal tersebut.
Sementara nilai ekonomi dan manfaat kayu cempaka dipakai untuk pembuatan rumah tongkonan khas Toraja. Sehingga kayu cempaka ini perlu dikembangkan.
Berdasarkan catatan di Persemaian Permanen (PP) Kabupaten Gowa tahun 2018, target dan realisasi produksi bibit jabon merah dari target 150 ribu batang realisasi 178 ribu batang. Kemudian, target kayu bitti 25 ribu batang realisasi 34.396 batang, untuk jati 125 ribu batang realisasi 62.103 batang. Sementara jati KBK 18 ribu batang realisasi 3.508 batang, dan stek jati wanagama/jati mega target 2 ribu batang realisasi 200 batang.
Total target produksi bibit PP Gowa 2018 sebanyak 1 juta batang, terdiri atas jenis tanaman kayu-kayuan, dan tanaman buah-buahan seperti durian, sukun, nangka, petai, jengkol, dan mangga.
Dalam perkembangannya lokasi PP juga sering dijadikan tempat pendidikan cinta lingkungan dan tempat belajar teknik membuat bibit berkualitas serta penelitian bagi pelajar dan mahasiswa, dan dapat dikembangkan untuk wisata alam.
Untuk diketahui, di Provinsi Sulsel terdapat tiga unit PP yang erletak di Gowa, Maros, dan Pinrang Toraja, dengan target total produksi 2,8 juta bibit.
Melalui penyediaan bibit gratis dari persemaian permanen dapat diperoleh manfaat peningkatan ekonomi dan kualitas lingkungan di Sulsel. Di antaranya, hutan rakyat dikelola secara berkelanjutan dan dapat menjamin kebutuhan industri pengolahan kayu dan hasil hutan bukan kayu, serta lingkungan yang hijau dan sehat.
Editor: Idul HM


























