Hemat 440 Juta per-Tahun, Pemerintah Dorong Penggunaan Green Chiller

Dirjen EBTKE Kementerian ESDM, Rida Mulyana saat melihat green chiller di gedung Phapros Semarang

Jakarta, PONTAS.ID – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong penggunaan teknologi green chiller. Pasalnya, teknologi ini merupakan sistem pendingin berbasis hidrokarbon yang ramah lingkungan serta dapat menghemat listrik hingga 30 persen.

Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Rida Mulyana saat meresmikan pemasangan dua chiller hidrokarbon pada fasilitas gedung produksi PT. Phapros, Tbk di Semarang (4/5/2018) lalu.

Tercatat, PT. Phapros Tbk di Semarang, Jawa Tengah, menjadi pelaku industri pertama yang menggunakan sistem pendingin hidrokarbon tersebut di Indonesia dengan kapasitas masing-masing sebesar 231.9 kW. Sistem yang dipasang ini diperkirakan mampu menghemat penggunaan listrik sampai dengan 394.311 kWh/tahun atau setara dengan Rp 440 juta/tahun.

“Dengan penghematan bisa mencapai 440 juta pertahun, ini merupakan proyek yang sangat menguntungkan. Pengembalian biaya investasi selama 2,52 tahun, seharusnya ini bisa diterapkan oleh industri sejenis,” jelas Rida Mulyana, seperti dikutip PONTAS.id dari laman esdm.go.id, Senin (7/5/2018).

Efek Rumah Kaca
Menurut Rida, sistem tersebut memiliki banyak manfaat, diantaranya menurunkan biaya operasional karena menggunakan teknologi yang lebih efisien. Teknologi tersebut juga akan beroperasi dengan tekanan kerja yang 20 persen lebih rendah dibandingkan dengan refrigeran fluorocarbon.

Teknologi ini kata Rida, diharapkan dapat mengurangi konsumsi energi antara 17-30 persen dibandingkan dengan penggunaan refrigeran fluorocarbon.

Selain dapat menghemat penggunaan dan biaya listrik, implementasi chiller berbasis hidrokarbon ini juga mampu mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 356 ton Carbon Dioxide (tCO2) per tahun atau 7.121 tCO2 selama 20 tahun (masa pakai).

Sebagai informasi, Chiller hidrokarbon pertama mulai dipasang di pabrik Phapros pada akhir 2017, menyusui kemudian chiller kedua pada Januari 2018. Chiller tersebut digunakan untuk mendinginkan berbagai ruangan untuk produksi obat, penyimpanan dan pembiakan bakteri di gedung produksi Phapros di Semarang.

Kementerian ESDM, lanjut Rida, terus mendorong para pelaku industri agar dapat melaksanakan program konservasi dan efisiensi energi, “Sehingga komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebagaimana dideklarasikan dalam Paris Agreement dapat terwujud,” pungkasnya.

Editor: Hendrik JS

Previous articleAlunan Angklung Menggetarkan Markas Besar PBB
Next articleWisata Yoga dan Kuliner Vegetarian Jadi Daya Tarik Wisman India