Jakarta, PONTAS.ID – Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut B. Pandjaitan melakukan rapat koordinasi penanganan sampah di Bali. Sampah di Bali menurut Menko Luhut sudah menjadi masalah yang besar. Perharinya Bali bisa memproduksi sampah sebanyak 3.000 ton bahkan lebih.(13/03).
Berawal dari postingan sebuah akun Facebook bernama Rich Horner membagikan pengalamannya menyelam di laut Nusa Penida, Bali.
“Jadi sekarang rupanya itu sampah lewat dari Utara ke Selatan, bahkan kemarin sampai ramai diviralkan itu sehari kemudian sudah tidak ada”, kata Menko Luhut.
“Ini masalah global. dari China sampahnya juga datang ke kita masuk pada waktu sekarang ini,” kata Menko Luhut.
Untuk mengatasi hal tersebut, tambah Menko Luhut, pemerintah setempat sedang bekerja bagaimana mengedukasi masyarakat Bali untuk memanfaatkan sampah-sampah tersebut.
“Jadi sekarang kita mau coba take care itu. Nah sekarang timnya sedang bekerja, bagaimana menjaring, bagaimana mengedukasi rakyatnya, kemudian bagaimana juga mengolah sampah nya”, kata Menko Luhut, dikutip dari siaran pers laman maritim.go.id, Rabu, (14/3/2018).
Menurutnya Bali yang banyak tergantung pada pariwisata harus kompak dengan melibatkan semua kabupaten dan kota untuk pengelolaan sampah. Masalah sampah ini selain berbahaya bagi kesehatan warga Bali, tapi juga berbahaya bagi daerah-daerah wisata karena mengurangi minat kunjungan tourist.
“Akan ada 15.000 orang datang ke Bali dalam annual meeting IMF-WB, Bali akan menjadi hub sebelum tamu-tamu ini bergerak ke destinasi-destinasi yang lain. Bali adalah pintu gerbang, saya minta ini menjadi perhatian” ujar Menko Luhut.
Menko Luhut juga mengajak peserta rapat untuk memberi perhatian khusus pada masalah sampah, “Terlepas dari adanya annual meeting IMF-World Bank masalah sampah ini tetap jadi issue yang penting. Bali ini ada di peringkat ke-6 destinasi wisata dunia. Dan kita satu-satunya negara Asia yang masuk dalam daftar itu. Kalau kita biarkan saja masalah sampah ini, hanya akan merugikan kita sendiri. Sampah ini masalah kita ramai-ramai” kata Menko Luhut.
Lebih lanjut Menko Luhut menjelaskan 80% sampah laut berasal dari darat. Sampah plastic ada dimana-mana.
Sampah Mengancam
Menko Luhut juga mengingatkan bahwa potensi pariwisata sebagai sumber pendapatan negara. Sementara sampah dapat mengancam potensi penerimaan dari sektor pariwisata. “Pada tahun 2019 kita akan menerima 20 miliar dollar dari tourist. Tourist ini membuat ekonomi kita jalan. Tourist perlu dikelola dengan baik agar tidak terbang ke tempat lain,” katanya.
Tumpukan sampah di Bali menurutnya sudah mengkhawatirkan. Ia juga memaparkan hasil penelitian di pasar ikan Makassar dan UC Davis California yang memperlihatkan perut ikan sudah berisi plastik, karena ikan mengkonsumsi sampah plastik. “Ini sangat mengkhawatirkan karena berbahaya bagi kesehatan bila dikonsumsi, merusak imunitas tubuh.
Kita perlu melihat anak, cucu, cicit kita kedepan akan menjadi korban dari sampah yang tidak kita kelola,” katanya. Rapat ini dihadiri oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya, Menteri Perhubungan Budi Karya, Gubernur Bali dan jajaran pemerintah daerah.
Editor : Idul HM


























