Pilkada 2018, Isu SARA Masih Sangat Kental

Direktur Eksekutif Perludem Titi Anggraini, (Foto:Ist)

Jakarta, PONTAS.ID – Pemilihan Kepala daerah sedang berlangsung di Nusantara Indonesia, banyak isu-isu sensitif yang sudah melekat terjadi di dalam benak masyarakat, tetapi masyarakat saat itu sudah dapat menentukan mana yang baik dan mana yang benar. Pilkada serentak tahun ini yang akan digelar 27 Juni 2018 mendatang tampaknya masih dibayang-bayangi dengan penggunaan isu suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA) pada Pilkada DKi Jakarta pada 2017 lalu.

Salah satu contah yang sudah terjadi di dalam Pilkada DKI Jakarta dengan masuk nya Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama akibat kasus penistaan agama demi menjegalnya terpilih kembali sebagai gubernur DKI Jakarta dan munculnya larangan untuk tidak mendoakan pendukungnya, tampaknya menjadi cerminan buasnya isu SARA dalam Pilkada Jakarta itu.

Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini memandang sentimen SARA masih mengancam kelangsungan Pilkada 2018 dan juga Pemilu maupun Pilpres 2019 karena, antara lain, persaingan ketat para partai politik.

“Di dalam kompetisi yang sangat sengit, di mana pertarungan itu begitu luar biasa untuk memenangkan pilkada, akan selalu ada pihak-pihak atau oknum yang menggunakan cara ilegal tapi dianggap efektif untuk memenangkan pilkada. Jadi kalau ditanya apakah politik SARA akan digunakan lagi di 2018? Kemungkinan itu selalu ada dan sangat mungkin,” kata Titi selaku Direktur Eksekutif Perludem, Jakarta, Kamis, (11/1/18).

Titi pun menambhakan, bahwa di Pilkada 2018 menjadi sangat menentukan, mengingat eksistensi dan kekuatan kompetisi partai akan diuji secara langsung. Banyak yang melihat Pilkada 2018 sebagai pemanasan menuju Pemilu dan Pilpres 2019 karena tiga provinsi yang meggelar pilkada tahun ini Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur memiliki jumlah penduduk besar. Jadi siapa pun yang menguasai ketiga wilayah itu diperkirakan akan bisa memuluskan langkah untuk pemilihan tahun depan.

“Jadi 2018 itu istilahnya menjadi pemanasan, semacam batu uji. Menjadi medium untuk menguji kekuatan partai dan kekuatan mesin partai dalam memenangkan pemilu. Jadi kalau dia bisa menang di Pilkada akan melahirkan psikologi positif bagai partai dan pemilih lantaran jarak yang sangat berdekatan antara Pilkada 2018 dan Pemilu 2019,” ujarnya.

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here