DPR Nilai Budaya Baca Siswa Masih Rendah

Jakarta, PONTAS.ID – Anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifa Amaliah menyoroti budaya membaca di kalangan siswa masih rendah padahal pemerintah telah mencanangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sejak 2015.

Politikus dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengatakan penilaian atas budaya membaca di kalangan siswa yang masih rendah itu berdasarkan berbagai studi.

Menurut Ledia, perlu ada evaluasi dan penguatan program Gerakan Literasi Sekolah secara menyeluruh agar bisa lebih menjawab mengapa setelah ada Gerakan Literasi Sekolah, budaya membaca di kalangan siswa masih rendah.

Evaluasi yang dilakukan, kata anggota DPR yang membidangi masalah pendidikan ini, bagaimana sarana dan prasarana pendukung program Gerakan Literasi Sekolah, bagaimana koordinasi lintas kementeriannya, dan terutama bagaimana implementasi program tersebut di lapangan.

Ia mengingatkan mengasah budaya membaca pada siswa akan sangat mempengaruhi kualitas generasi muda masa depan.

“Membaca dapat membantu siswa memperluas wawasan, menambah ilmu, mengolah pikiran dan menjadi batu pijakan sebelum menghasilkan karya tulis,” katanya dalam keterangan pers, Rabu (28/2/2018).

Ia mengatakan budaya gemar membaca harus disiapkan, ditumbuhkan, diasah, dibimbing dan diberi sarana prasarana yang memadai, tidak cukup hanya diberi tugas, imbauan, lalu diharapkan tumbuh menguat dengan sendirinya.

Magister Psikologi ini menjelaskan, selama ini budaya baca di kalangan siswa di Indonesia seringkali hanya disederhanakan pada ukuran minat baca.

Padahal budaya membaca memiliki aspek lebih luas dan mendalam termasuk pada kemudahan akses, pembiasaan diri, contoh dari lingkungan, dan tentu saja kebijakan yang mendukung.

Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 23 tahun 2015 memberikan trobosan penting dengan mewajibkan setiap hari ada 15 menit waktu membaca sebelum kegiatan belajar berlangsung, tetapi peraturan itu belum terealisasi dengan baik, katanya.

Menurut dia, peraturan itu belum terealisasi dengan baik karena perpustakaan belum memadai, kegiatan membaca sebelum belajar mengajar tidak rutin dilakukan, tidak ada evaluasi, atau bahkan karena tenaga pendidik dan orangtua tidak memberikan contoh gemar membaca.

Ia mengusulkan buku-buku di sekolah perlu diperbanyak, begitu pula perpustakaan keliling untuk menjangkau masyarakat pedalaman.

Para guru perlu diberi pelatihan dan penguatan program literasi, dan bahkan orangtua pun perlu digandeng membangun budaya baca ini menjadi kebiasaan siswa.

Previous articleDPR Dorong Pemerintah Perbanyak Jurnal Nasional Terakreditasi
Next articlePemerintah Harus Stop Impor Beras