RSUD Bangil Tingkatkan Kemampuan Pelayanan Deteksi Dini PJB

Pasuruan, PONTAS.ID- Bulan November ini banyak momen peringatan terhadap kesehatan, diantaranya adalah Hari Kesehatan Nasional, Hari ulang tahun Perhimpunan dokter spesialis Kardiovaskular Indonesia, serta Hari anak internasional. Momen tersebut menjadi stimulan bagi kita agar senantiasa meningkatkan kewaspadaan dan perbaikan layanan terhadap berbagai penyakit diantaranya adalah penyakit jantung. RSUD bangil sebagai bagian integral dari layanan Kesehatan masyarakat khususnya di bidang kardiovaskular mengajak kita semua lebih mewaspadai penyakit jantung yang sering didapatkan pada anak-anak yang biasa disebut penyakit jantung bawaan.

dr. David Rubiyaktho, Sp.Jp. menerangkan, Penyakit jantung bawaan (PJB) adalah kelainan pada struktur dan fungsi jantung yang sudah ada sejak lahir. Data epidemiologi di Indonesia menyebutkan angka kejadian PJB sekitar 8 dari setiap 1000 kelahiran. Setiap tahunnya ada penambahan sekitar 32000 kasus baru ditemukan. PJB merupakan salah satu penyebab dari kematian tersering pada bayi dan anak. Ada berbagai jenis PJB yang bisa didapatkan, untuk lebih mudahnya dibedakan menjadi PJB sianotik (membuat jadi biru) dan PJB asianotik (tidak membuat jadi biru).

“Beberapa faktor yang dapat berisiko menyebabkan PJB diantaranya adalah gangguan genetic misalkan down`s sindrom ataupun Riwayat PJB keluarga, Kelainan saat kehamilan seperti diabetes, infeksi, kelahiran prematur, keracunan dan lain-lain. Serta beberapa PJB dapat terjadi tanpa diketahui sebabnya,” terangnya, Senin (21/11/2022)

Menurutnya, Bayi dengan PJB dapat menunjukkan bervariasi tanda dan gejala, namun banyak juga yang tidak bergejala sampai usia dewasa. PJB yang tidak segera dideteksi dan tidak diobati berisiko menyebabkan gagal jantung ataupun kematian.

“Variasi gejala klinis dan besarnya risiko tersebut membuat kita harus lebih mewaspadai PJB ini pada bayi dan anak. Disinilah kita sudah mulai harus mengenal bagaimana deteksi dini dari PJB sejak bayi dan anak,” ucapnya

Deteksi dini dapat dimulai sejak fase kehamilan dimana pada kehamilan ibu dengan risiko tinggi dapat dilakukan deteksi dengan echokardiografi fetal. Sarana ini belum tersedua luas di Indonesia, sehingga hanya terbatas rumah sakit atau fasilitas Kesehatan khusus. Pada saat bayi baru lahir dapat dikerjakan pemeriksaan pulse oximetri dengan mengukur kadar oksigen di jari-jari baik tangan dan kaki yang kadar normalnya diatas 95%. Hasil pengukuran kadar oksigen yang kurang dari 90% mengindikasikan kemungkinan adanya PJB pada bayi/anak sehingga disarankan segera dirujuk ke Rumah Sakit terdekat. Kondisinya tersebut memerlukan pemeriksaan.

RSUD bangil sebagai Rumah Sakit rujukan daerah Pasuruan dan sekitarnya saat ini telah meningkatkan kemampuan pelayanan deteksi dini PJB. Bahkan untuk lebih mendekatkan diri kepada masyarakat Klinik jantung di tanggal 19 November 2022 ini mengadakan serangkaian kegiatan langsung kemasyarakat dengan memberikan layanan penyuluhan Kesehatan jantung anak serta melakukan pemeriksaan echokardiografi pada puluhan bayi dan anak yang diduga menderita PJB. Kegiatan semacam ini diharapkan mampu membantu lebih mengenalkan kepada masyarakat tentang pentingnya deteksi dini pada PJB dan gambaran secara jelas apa yang bisa dikerjakan dalam pengobatan lanjutan pasien PJB.

Penulis: Abdullah

Editor: Yos Casa Nova F

Previous articleMPR Sampaikan Ucapan Duka Kepada Korban Gempa Cianjur
Next articleBupati Asahan Apresiasi Al Fikri Raih Terbaik I Bintang Vokalis Pemilihan Duta Qasidah Tingkat Nasional

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here