Cacat Total Sejak Lahir, Begini Kondisi Anak Penjual Pecal Siram

SERGAI, PONTAS.ID – Seorang bocah bernama Suryati (12) warga Dusun VI, Desa Ujung Rambung, Kecamatan Pantai Cermin, Sergai divonis dokter mengalami cacat total sejak dilahirkan oleh ibunya.

Anak kedua dari pasangan suami istri (pasutri) Sutrisno (43) dan Sepiani (40), mengalami keterbatasan fisik saat sejak baru dilahirkan.

Ketika disambangi awak media di rumahnya, Senin (27/9/2021) bocah berkulit putih dan berambut ikal ini, tak berdaya dengan kondisi fisik yang dialaminya.

Mata yang tak bisa melihat (buta), mulut yang tak bisa berbicara serta kaki yang tak bisa berjalan, lengkaplah penderitaan bocah yang dilahirkan Suryati, yang hanya mampu menangis dan mengurung di dalam kamarnya.

Kalaupun ingin keluar kamar, tampak jalannya mengesot dan menggapai kesana kemari untuk keluar dari kamarnya, karena untuk minta bantuan bibirnya tak mampu berucap apapun.

“Kondisi anak saya dari lahir sudah begi ni, pada waktu itu Bidan yang membantu saya melahirkan berkata,setelah anak saya lahir anak ini bertuah, jangan disia-siakan. Dirawat, jangan sering di pukul dan di marahi,” papar Sepiani sambil menahan tangis.

Ketika anaknya Suryati berumur tiga bulan, lanjut Sepiani ia sempat membawa anaknya ke bidan untuk melakukan pemeriksaan.

“Saya bawa ke bidan, bidan merujuk bawa ke Puskesmas Perbaungan, saya bertanya dan konsultasi di puskesmas. Terlebih dahulu saya urus surat-suratnya untuk berobat di puskemas, saya tanya sakit apa anak saya ini. Setelah di periksa, dokter mengatakan ibu jangan sakit hati, anak ibu cacat total,” sambungnya.

Dokter pada saat itu mengatakan kondisi mata Suryati buta, dan kelainan dari otak kirinya yang mengecil. Selanjutnya, dokter mengatakan kepada Sepiani, kalaupun dibawa terapi, ada perubahan tapi enggak banyak.

“Sempat memang kita bawa terapi,dan diberikan susu yang harganya cukup mahal, satu Minggu bisa habis Rp 150 ribu. Setelah terapi, Suryati bisa duduk. Sekitar lima bulan lah saya beli susu itu, karena keterbatasan biaya, setelah lima bulan enggak pernah diberikan susu lagi,” ujar Sepiani.

“Kondisi perekonomian kami tak mampu apalagi di masa sulit sekarang ini akibat Pandemi Covid-19. Saya hanya penjual Pecal siram yang berkeliling kampung sementara suami Sutrisno petani menanam sayur,” ungkapnya

“Saya berjualan pecal keliling sudah ada tujuh tahunan. Penghasilan berjualan pecal ini, ya dicukup-cukupi lah untuk kebutuhan sehari-hari. Kadang saya terima jahitan celana koyak orang juga,” sambungnya

Saat disinggung apakah ada kendala selama mengandung, wanita yang berprofesi sebagai penjual pecal keliling mengatakan tidak ada masalah, proses melahirkan juga berjalan normal.

“Malah dari ketiga anak saya, yang anak saya Suryati ini paling gampang melahirkannya. Ini anak kedua saya dari tiga bersaudara,” ujar Sepiani.

Yang dialami Suryati saat ini, paling tidak kalau mau makan ia biasanya menangis, buang air kecil dan air besar juga begitu.

Upaya yang telah dilakukan kedua orangtua Suryati ialah, konsultasi kepada beberapa dokter, dan disarankan untuk melakukan terapi.

“Cuma ya itu, mau pergi terapi tidak memiliki biaya lagi, mau dibuat gimana. Belum lagi untuk kebutuhan dua orang anak saya. Yang paling besar masih SMA, sedangkan yang paling kecil masih SD,” tandas Sepiani dengan nada pasrah.

Penulis: Andy Ebiet
Editor: Rahmat Mauliady

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here