Tujuh Strategi ESDM dalam Pengembangan Ketenagalistrikan

Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jisman Hutajulu, saat acara peluncuran Indonesia Electricity and Energy Institute

Jakarta, PONTAS.ID – Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jisman Hutajulu, menuturkan, pemerintah berkomitmen memenuhi target bauran energi pembangkitan tenaga listrik untuk energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23% pada tahun 2025. Terlebih, tren global untuk pembangkitan tenaga listrik tengah menuju transisi energi bersih.

“Di Indonesia, transisi dari energi fosil menuju energi bersih melalui peningkatan kapasitas pembangkit tenaga listrik dari EBT ini terlihat dari total kapasitas terpasang pembangkit EBT. Sampai dengan bulan Juni 2020, kata dia, jumlahnya mencapai 10.427 MW atau 14,69% dari total kapasitas terpasang pembangkit nasional,” papar Jisman, saat acara peluncuran Indonesia Electricity and Energy Institute (IEEI) secara virtual, Jumat (13/11/2020).

Lebih lanjut, Jisman menyampaikan pula upaya-upaya yang dilakukan pemerintah dalam pengembangan ketenagalistrikan ke depan. Pertama, fleksibilitas pengembangan pembangkit EBT dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) 2019-2028.

Dalam RUPTL tersebut, percepatan pencapaian target bauran dan penambahan pembangkit EBT dapat dilakukan di luar rincian RUPTL PLN 2019-2028 sesuai kebutuhan sistem kelistrikan lokal.

Kedua, pengembangan smart grid sesuai Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2019-2038. Pada tahun 2020, smart grid sudah mulai diimplementasikan di beberapa daerah di Jawa-Bali dan secara bertahap diterapkan pada sistem di luar Jawa-Bali.

“Melalui pengembangan smart grid, penyaluran tenaga listrik lebih efisien dan pemulihan gangguan lebih cepat. Selain itu smart grid dapat menurunkan biaya operasi dan pengelolaan bagi perusahaan listrik dan pada akhirnya dapat menurunkan tarif listrik serta mengendalikan beban puncak yang dapat membantu menurunkan tarif listrik,” kata Jisman.

Ketiga, revisi Grid Code. Jisman menyebut revisi Grid Code saat ini sedang dalam proses penyelesaian dan diharapkan akan segera selesai pada tahun ini.Keempat, pengembangan Distributed Generation, Microgrid and Distributed Storage.

Jisman menyampaikan, saat ini, PLN tengah melakukan studi pemasangan baterai di Bali dengan kapasitas 50 MW / 200 MWh. Jika studi ini layak, maka baterai menjadi alternatif untuk mitigasi kekurangan daya jangka pendek, dan dapat menjadi cadangan untuk generator EBT intermittent.

“Selain itu, terus dikembangkan Alat Penyimpan Daya Listrik (APDAL) untuk melistriki daerah-daerah perdesaan,” kata Jisman.

Kelima, pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap. Sejak diterapkannya Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 49 tahun 2018, konsumen PLN dapat memasang PLTS atap.

Jisman mengatakan, melalui aturan ini konsumen dapat menghasilkan listrik mereka sendiri, dan bahkan mengekspornya ke PLN.

“Hingga semester I 2020, jumlah solar PV atap yang telah dibangun 2.346 pelanggan dengan total kapasitas 11,5 MWp,” Jisman menyampaikan.

Keenam, draft Peraturan Presiden tentang EBT. Konsep peraturan terkait pembelian tenaga listrik dan harga patokan pembelian tenaga listrik EBT oleh PLN dalam bentuk Peraturan Presiden tengah disusun Kementerian ESDM.Ketujuh, penggunaan energi bersih di kawasan wisata.

Kawasan wisata diharapkan tidak lagi menggunakan batu bara atau pembangkit listrik berbasis high speed diesel (HSD) dengan mengganti pembangkit fosil secara bertahap dengan pembangkit berbasis gas atau EBT yang ramah lingkungan.

Penulis: Riana

Editor: Stevanny

Previous articlePHE OSES Rampungkan Seismik Laut 3D Lebih Cepat
Next articleRasio Desa Berlistrik Nasional Capai 99,52 persen