Soal Rencana Vaksinasi, Medan Belum Jelas

Juru Bicara Satgas Covid-19 Kota Medan, Mardohar Tambunan

Medan, PONTAS.ID – Juru Bicara Satgas Covid-19 Kota Medan, Mardohar Tambunan,  mengatakan, sampai saat ini pihaknya belum dapat memastikan soal vaksinasi yang saat ini tengah digaungkan pemerintah pusat.

“Sampai saat ini, kami belum dapat informasi terkait hal itu. Kami masih menunggu informasi dari pusat. Jadi, tunggu saja perkembangannya,” ungkap Mardohar, saat melakukan sosialisasi Covid 19 di Dinas Kesehatan Kota Medan, Senin (2/11/2020).

Mardohar mengaku, belum berani mengungkapkan soal vaksin tersebut. Menyangkut jadwal, jumlah, profesi dan tehknis pelaksanaannya. Sebab, masalah vaksin sangat sensitif.

Dijelaskannya, penggunaan vaksin tidak boleh sembarangan. Sebab, berfungsi melemahkan virus itu. Tentunya, perlu beberapa penelitian lebih jauh.

“Informasi dari pusat, vaksin ini tidak sembarangan. Termasuk mengenai harga vaksin yang akan dibebankan kepada masyarakat. Jadi, tunggu saja informasi selanjutnya. Di pusat saja belum tahu kapan pasti dilakukan. Apalagi kita ini di daerah,” tambahnya.

Sementara itu ,Mardohar juga menerangkan bahwa penyebaran penularan Covid-19 di Medan semakin hari semakin mengerucut kasusnya.

Berdasarkan data yang dimiliki Satgas Covid-19 Kota Medan per 13 Oktober 2020 lalu, jumlah jenazah yang dimakamkan di TPU khusus Covid-19, Kelurahan Simalingkar B, Kecamatan Medan Tuntungan mencapai 567 jenazah.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 425 orang merupakan warga Kota Medan. Sedangkan sisanya dari luar daerah.

“Ini bukan data terbaru. Ini data pertanggal 13 Oktober. Jumlah jenazah yang dimakamkan di TPU Simalingkar B yakni 567,” ujar Mardohar.

Sedangkan untuk yang suspek Covid 19, kata dia, per Minggu (1/11/2020), jumlahnya mencapai 9.306. Sedangkan jumlah pasien yang sudah pulang mencapai 8.783.

“Sedangkan, yang masih dirawat berjumlah 293. Meninggal sebanyak 391,” katanya.

Terakhir, Mardohar memaparkan, di Kota Medan sendiri tingkat penyebaran Covid-19 sendiri grafik penyebarannya mulai menurun.

“Di bulan September, tingkat penyebarannya mencapai 55 orang per hari. Sedangkan, di Oktober menjadi 44 orang per hari,” pungkasnya.

Penulis: Ayub Badrin

Editor: Riana

Previous articleKonsumsi BBM hingga Avtur Meningkat di DIY
Next articlePeringatan HKD 2020, PUPR Dukung Terwujudnya Kota Layak Huni