TPA Cahaya Kencana Sengaja Cemari Sawah? Ini Faktanya

Pemilik sawah mendatangi kubangan limbah TPA Cahaya Kencana milik Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan

Kabupaten Banjar, PONTAS.ID – Pecemaran limbah sawah warga Desa Sungai Landas Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan yang berasal dari Tempat Pembuangan Sampah (TPA) Cahaya Kencana milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) diduga disengaja.

Saat PONTAS.id mendatangi lokasi, aparat desa setempat bersama pemilik sawah menunjukkan asal muasal limbah sebelum mencemari puluhan hektar sawah mereka.

Sekretaris Desa Sungai Landas, Muhammad Subqi menunjukkan sebuah kubangan berukuran diameter sekitar 4 meter tepat di belakang TPA Cahaya Kencana dipenuhi cairan hitam dan sampah.

“Dari kolam ini (limbah) kemudian saat musim hujan akan mengalir ke kebun karet dulu sebelum turun ke sawah warga,” sebut dia sambil menunjuk kubangan berisi cairan hitam bercampur sampah, Minggu (20/9/20).

Jadi, sambung dia, yang terkena dampak lebih dulu tanaman karet dan tanaman buah. Tanaman yang dilewati air dari kolam ini langsung mati. “Bukan hanya tanaman (karet, buah, padi) saja. Bahkan ikan-ikan juga mati,” bebernya.

Dia kembali menunjukkan asal limbah sebelum masuk kolam kubangan sambil menunjuk saluran berukuran lebar sekitar 40cm menuju kearah dalam TPA Cahaya Kencana.

“Saluran ini tidak terlihat seperti rembesan. Tapi kelihatan rapi dan teratur seperti sengaja dibuat,” curiga dia.

Di dalam saluran tersebut juga terlihat cairan hitam yang mengalir dari arah TPA Cahaya Kencana turun ke kubangan berisi limbah hitam bercampur sampah.

Tuntut Ganti Rugi
Salah satu pemilik sawah, Zainal Abidin (60) warga RT 1 Desa Sungai Landas mengaku sejak sawahnya tercemar limbah produktifitas hasil padi menurun drastis. Bahkan hasil padi yang didapat kualitasnya sangat buruk dan tidak enak dimakan.

Diingatnya, Sebelum tercemar dari 8 borongan (petak) sawah hasil padi setiap panen dapat sampai 70 belek (kaleng 20 liter).

“Namun sejak tercemar hasilnya tinggal 12 belek. Setelah diproses jadi beras tersisa 4 belek (80 liter). Itu pun, berasnya berwarna merah dan berbau. Tidak enak dimakan,” keluh Zainal Abidin.

Dikatakannya, sebelum ada TPA Cahaya Kencana, lingkungan di desanya terutama sawah warga sangat baik dan bersih.

“Air disini jernih. Bahkan bisa langsung diminum. Tapi setelah ada TPA Cahaya Kencana mencemari, air yang masuk ke sawah berwarna hitam dan beracun sampai ikan saja mati,” sesal dia.

Zainal mengaku bersama warga pemilik sawah lainnya yang terdampak pencemaran menuntut tanggungjawab dari pemerintah, terutama Dinas Lingkungan Hidup selaku pemilik TPA Cahaya Kencana.

“Kami menuntut ganti rugi karena tidak bisa bertani. Kemudian juga menuntut TPA Cahaya Kencana tidak mengaliri sawah kami dengan limbah,” harap dia.

Penulis: M. Apriani
Editor: Pahala Simanjuntak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here