Jakarta, PONTAS.ID – Beredar kabar PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada sejumlah pilot, khususnya yang berstatus kontrak. Berdasarkan jumlahnya, ada sekitar 150 pilot berstatus kontrak yang menjadi korban efisiensi maskapai pelat merah ini.
Menanggapi hal itu, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pun merespons isu PHK tersebut. Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan, pihaknya menyerahkan hal tersebut kepada manajemen.
Dia meminta maskapai pelat merah ini untuk menghitung dampak Corona, baik dari sisi bisnis maupun efisiensi yang dilakukan. Menurutnya, Garuda punya sejumlah pilihan, termasuk pilihan yang sulit untuk ditempuh manajemen.
“Kita serahkan kepada manajemen Garuda untuk menghitung dampak dari Corona, konsekuensi terhadap binisnya termasuk efisiensi-efisiensi yang dilakukan supaya Garuda tetap bisa bertahan dan bisa operasi. Pasti mereka punya pilihan-pilihan, kita tahu pilihan-pilihan yang sulit,” kata Arya, Rabu (3/6/2020).
Arya bilang, keputusan yang diambil Garuda pasti telah dihitung secara matang.
“Sehingga bagi kita, keputusan yang diambil Garuda pasti yang dipikirkan secara matang, baik secara bisnis maupun manajemen,” jelasnya.
Sekedar informasi, mulai 1 Juni 2020, pihak PT Garuda Indonesia dikabarkan telah memutus kontrak pilot mereka sebanyak 150 pilot.
“Yang sudah dinyatakan dapat pemberitahuan ya sekitar 150 bahwa mereka akan diberhentikan per 1 Juni,” ujarnya.
Keputusan ini, dikatakannya dampak hantaman COVID-19 terhadap industri penerbangan tanah air. Pandemi Corona awalnya menghantam sektor pariwisata nasional, setelah itu baru merembet ke industri penerbangan.
Dia pun memprediksi keputusan PHK kepada pilot garuda akan terus bertambah, setidaknya ada sekitar 700 pilot termasuk yang status pegawai tetap akan terkena.
“Kita memprediksi kemungkinan di Garuda terjadi pengurangan sampai 700 pilot totalnya,” ungkapnya.
“Ini memang dampak COVID seperti ini, bisa dilihat sendiri bandara seperti apa, penumpang seperti apa, wah anjloknya nggak kira-kira. Penerbangan nomor dua, pariwisata duluan,” tambahnya.
Penulis: Luki Herdian
Editor: Riana




























