Sergai, PONTAS.ID – Nelayan di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) mengeluhkan anjloknya harga jual ikan di pelelangan di tengah merebaknya Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Seperti yang terjadi di kawasan TPI (Tempat Pelelangan Ikan) di Sialangbuah Kecamatan Teluk Mengkudu, Sergai.
“Biasanya ikan Tamban, Selar Kuning dan Anak Gembung kami jual Rp.8 – 10 ribu per-Kg. Sekarang hanya dibeli Rp.3 – 5 ribu,” ungkap seorang Buyung, saat ditemui PONTAS.id usai melaut, Kamis (2/4/2020).
Buyung, warga Desa Bagan Kuala Kec. Tanjung Beringin ini mengakui ikan hasil tangkapannya bukan dari jenis ikan ekspor. Padahal dia bersama tetangga nya yang mayoritas merupakan nelayan tradisional, “Pergi malam dan pulang siang hari,” keluhnya.
Ditambahkan Buyung, dia bersama nelayan lainnya juga hanya mengandalkan tuasan, (pohon buatan di tengah laut).
“Kalau mau dikeluhkan sama siapa? Sementara kutengok pejabatnya masih sibuk membahas Pilkada ketimbang mencegah virus. Malah yang kerap ke desa cuma Polisi dan Koramil saja,” katanya.
Senada disampaikan nelayan lainnya bernama Malik (34). Warga Dusun Taiwan, Desa Sialang Buah ini juga mengatakan meski kerap mendapatkan hasil minim, namunterpaksa melaut demi menghidupi keluarga.
“Kami tetap melaut. Kalau tidak, bagaimana nasib anak istri kami dirumah mau makan apa? Padahal, sebelum Corona merebak kami Nelayan tradisional ini juga sudah cukup susah,” kata Malik menjawab PONTAS.id usai menimbang ikan.
Menurutnya, sekalipun ikan hasil tangkapannya relatif banyak, namun menjadi tidak berarti akibat anjloknya harga ikan.
“Kami maklum dengan kondisi toke kami yang tak bisa mengirim ikan keluar. Sementara untuk penjualan domestik (dalam negeri) juga daya beli masyarakat sangat jauh berkurang. Ini dampak adanya imbauan agar tidak keluar rumah, membuat pasar sepi pembeli,” katanya.
Namun hingga berita ini dipublikasikan, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sergai, Sri Wahyuni Pancasilawati belum memberikan tanggapan. Dihubungi baik melalui ponselnya maupun melalui pesan singkat tak kunjung membalas.
Penulis: Andy Ebiet
Editor: Pahala Simanjuntak




























