Jakarta, PONTAS.ID – Ratusan pohon yang ditebang pada proyek Revitalisasi Monumen Nasional (Monas) saat ini tidak jelas keberadaannya. Tidak ada jejak pohon di tiga kebon bibit milik Dinas Kehutanan DKI Jakarta di Jagakarsa, Jakarta Selatan yang dikunjungi PONTAS.id, Jumat (31/1/2020).
“Lahan kebon ini masih dalam tahap pembangunan. Jadi tidak ada pohon yang dari Monas dikirim ke sini. Kantornya saja belum diisi. Semuanya masih tahap pembangunan,” ungkap salah seorang pekerja di proyek Kebon Bibit, Jl. Sirsak, Jagakarsa, Jakarta Selatan saat ditemui PONTAS.id, siang tadi.
Padahal, sehari sebelumnya, Sekretaris Komisi B DPRD DKI Jakarta, Pandapotan Sinaga mengaku bahwa pohon yang ditebang itu keberadaannya masih ada di kebun bibit Dinas Kehutanan DKI Jakarta. Hal ini diketahui setelah pihaknya melakukan pengecekan terhadap lokasi perawaran pohon yang ditebang itu.
“Kalau jumlah persisnya saya tidak tahu, karena waktu ke sana tidak saya hitung. Tapi yang jelas pohonnya masih ada,” kata politisi PDIP ini saat ditemui PONTAS.id di Gedung DPRD DKI Jakarta, Kamis (30/1/2020).
Tak hanya di kebon bibit Jl. Sirsak, informasi yang sama juga disampaikan para pekerja di kebon Dinas Kehutanan DKI Jakarta, yang berada di Jl. Taman, Ciganjur maupun yang berada di Jl. Durian, Jagakarsa.
“Belum sampai di sini pak. Kemungkinan masih di Monas atau di tempat lain, kami tidak tahu. Kalau di sini memang belum pernah kita terima pohonnya,” kata pekerja di Jl. Durian sembari meminta namanya tidak disebutkan.
Ditanam Kembali
Beberapa waktu lalu, Kepala Unit Pengelola Kawasan (UPK) Monas Muhammad Isa Sarnuri memastikan, pohon yang dicabut hanya dipindahkan ke sisi pelataran lain.
“Sebagian pohon akan ditanam lagi di pelataran sisi barat dan timur Monas. Sebanyak 150 pohon berukuran besar dipindahkan ke pelataran selatan, sedangkan 55 pohon kecil dipindahkan ke bagian barat dan timur.
“Jadi pohon-pohon itu akan dipindahkan. Kalau tidak bisa dipindahkan akan kami buat baru. Sisa pohon yang tidak digunakan memang sudah dalam kondisi rusak,” kata Isa.
Senada dengan Isa, Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta Suzi Marsitawati mengatakan, pohon-pohon yang ditebang itu akan dipindahkan atau ditanam kembali di sisi selatan.
Suzi berujar pohon-pohon itu dibawa ke kebun bibit milik Dinas Pertamanan dan Hutan Kota di Jl. Sirsak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, untuk disehatkan terlebih dahulu selama 2 hingga 3 bulan, “Pohon itu kami akan suburkan lagi, sehatkan lagi,” kata Suzi.
Kejelian PSI
Terbongkarnya skandal revitalisasi Monas ini bermula ketika Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menyoroti perusahaan kontraktor PT Bahana Prima Nusantara (PT. Bahana) yang memenangkan tender revitalisasi Monas tersebut.
Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PSI, Justin Adrian Untayana dalam cuitan akun twitternya @JustinPsi, mengunggah:
“Pemprov @DKIJakarta lelang konstruksi Penataan Monas, nilai HPS Rp71,3 M. Pemenang: PT. Bahana Prima Nusantara Alamat: Jl. Nusa Indah No 33, Ciracas, Jaktim. Dicek di Google Map, lokasinya kurang meyakinkan nih,” kata Justin lewat cuitannya, Senin (20/1/2020) lalu.
Dalam unggahannya, wakil ketua Fraksi PSI DKI ini juga menyertakan dua buah foto lokasi yang ditulis sebagai alamat perusahaan pemenang tender revitalisasi Monas tersebut yaitu di Jl. Nusa Indah No. 33 RT.01 RW.07 Ciracas Jakarta Timur -Jakarta Timur (Kota) -DKI Jakarta.
Perusahaan Misterius
Dan itu, hingga saat ini, upaya PONTAS.id menyusuri keberadaan perusahaan PT Bahana tak kunjung berhasil layaknya mencari perusahaan misterius.
Terakhir, saat mencari salah seorang pengurus PT Bahana, Muhidin Shaleh yang disebutkan beralamat di Jl. Plumpang 8, No.43 RT.04 RW.05, Kelurahan Rawa Badak Selatan, Koja Jakarta Utara merujuk laman resmi Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) yakni lpjk.net, ternyata nama tersebut beralamat di Ciledug, Tangerang, Banten.
“Dia tidak di sini, hanya pinjam KTP dan KK saja. Kalau tinggalnya di Ciledug,” kata Sekretaris RT.04 RW.05, Mahdi kepada PONTAS.id, Sabtu (24/1/2020).
Demikian juga, upaya sebelumnya mendatangi dua alamat yang disebut-sebut merupakan kantor pemenang proyek revitalisasi Monas senilai Rp.64 miliar ini tidak membuahkan hasil.
“Saya tidak mengetahui nama perusahaan tersebut. Dan nama Direktur yang abang sebut tadi tidak pernah saya dengar,” kata salah seorang petugas di Komplek Perkantoran Cempaka Putih, Jl. Letjend Suprapto No.160, Jakarta Pusat mengaku bernama David kepada PONTAS.id, Rabu (22/1/2020).
Pria yang mengaku telah bekerja di komplek tersebut sejak tahun 1991 itu menambahkan, meski tidak mengenal perusahaan tersebut, wartawan dipersilakan menanyakan ke kantor asosiasi perusahaan jasa konstruksi yang ada di komplek tersebut.
“Coba aja ke situ, mungkin mereka lebih tahu. Kalau saya, baik nama perusahaan maupun nama Direktur yang disebutkan tadi, tidak pernah saya dengar. Bisa jadi ada bisa jadi tidak,” pungkasnya.
Saat disambangi ke salah satu kantor asosiasi perusahaan jasa konstruksi, tiga orang yang ada di dalam kantor menolak menanggapi, “Coba aja tanya pak Abas, dia yang lebih tahu. Kalau kami jawab nanti malah salah. Tapi pak Abas juga baru saja keluar ke lapangan, kemungkinan tidak kembali lagi ke sini,” kata mereka.
Sewa Kantor
Kedatangan PONTAS.id ke komplek ini untuk melanjutkan pencarian keberadaan kantor PT Bahana. Pasalnya, meski mengantongi kontrak Rp.64 miliar, ternyata kondisi kantornya masih berstatus menyewa komplek percetakan ‘Cahaya 33 Digital Printing’ yang berada di kawasan pemukiman, Jl. Nusa Indah No.33, Ciracas, Jakarta Timur.
“Mereka di sini sewa sejak 2014. Kalau mau konfirmasi langsung aja ke kantornya di Letjend Suprapto nomor 160, Jakarta Pusat. Kalau sekarang orangnya belum datang,” kata pengelola kantor Cahaya 33, Sri Sudarti menjawab PONTAS.id, Rabu (22/1/2020).
Menurut Sri, PT Bahana menyewa dari pihaknya lantaran terkendala zonasi perizinan kantor.
“Kan perkantoran itu harus ada di zona perkantoran. Kebetulan dia (Bahana) kantornya tidak di zona perkantoran sehingga dia sewa di sini,” kata Sri.
Penulis: Pahala Simanjuntak/Edi Prayitno
Editor: Luki Herdian




























