Soal Listrik, Jonan Sebut RI Masih Kalah Jauh dengan Tiongkok

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan

Jakarta, PONTAS.IDHari ini, Rabu (9/10/2019), Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI), yang terdiri dari perusahaan di bidang kelistrikan menggelar seminar dan pameran Hari Listrik ke-74 (HLN) di Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta. Hadir membuka acara tersebut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan.

Dalam kesempatan tersebut, Jonan membandingkan kapasitas litsrik terpasang di Tiongkok dan Indonesia yang jauh berbeda. Di Tiongkok, kapasitas listrik terpasangnya sebesar 1.100 GW.

Meskipun masih kalah jauh, kapasitas listrik terpasang diakuinya telah mengalami peningkatan mencapai 19 GW sejak 2014. Adapun pada 2014, kapasitas listrik terpasang mencapai 50 GW.

Sementara itu, data PLN, hingga kuartal I/2019, kapasitas pembangkit terpasang telah mencapai 58 GW sedangkan hingga akhir tahun ini diprediksi akan menjadi 69 GW, dan pada 2024 jumlahnya diprediksi akan mencapai 90 GW.

“Kapasitas terpasang listrik Tiongkok besarnya 1.100 GW itu kalau dibandingkan kapasitas terpasang akhir tahun kita mencapai 15 kali. Jumlah penduduknya empat kali dari Indonesia tetapi kapasitas terpasangnya 15 kali,” tutur Jonan, dalam acara Hari Listrik Nasional, di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (9/10/2019).

“Renewable mereka berapa, 300 GW besar sekali. Ini harapannya, mulai sekarang saya sangat berharap rekan PLN ini lebih pikirannya terbuka untuk renewable,
Karena infrastruktur kelistrikan adalah kegiatan jangka panjang,” sambung Jonan.

Meski begitu, mantan Menteri Perhubungan ini menilai, upaya yang dilakukan Indonesia untuk meningkatkan kapasitas listrik terpasang sudah maksimal. Bahkan, tambahnya, Indonesia berhasil menambah kapasitas listrik 40 persen dalam waktu lima tahun.

“2014 menurut catatan saya, kurang lebih 50 GW. sekarang 65 GW. Sampai 2019 ya kira-kira 69 GW hampir 70 gw. 19 GW tambahan kapasitas terpasang selama lima tahun ini. Saya terima kasih sama IPP dan PLN. Ini 40 persen dalam waktu lima tahun,” tukas Jonan.

“Dan harapannya mulai sekarang, saya sangat berharap rekan-rekan PLN lebih terbuka EBT, pikirannya tidak bisa short term minded dari tahun ke tahun, karena infrastruktur ketenagalistrikan kegiatan jangka panjang,” tukasnya.

Lebih jauh, Jonan memberikan apresiasi atas bantuan sambungan listrik gratis dari stakeholder dan pegawai Kementerian ESDM, PLN, dan BUMN yang telah mencapai 525 ribu sambungan listrik dari sekitar 700 ribu rumah yang belum berlistrik. Pegawai Kementerian ESDM mampu mengumpulkan hampir 3.000 sambungan listrik, pegawai PLN 40 ribu sambungan, 100 ribu sambungan dari BUMN, dan 325 ribu sambungan dari stakeholder Kementerian ESDM.

“Saya mengucapkan terima kasih untuk sambungan listrik gratis. PLN dan Ditjen Ketenagalistrikan mengidentifikasi 700 ribu rumah tangga yang kurang mampu. Biaya pasang listrik sekitar Rp 700.000, rumah tangga ini tidak mampu. Apa yang kita usahakan? Kita menggalang semua stakeholder untuk partisipasi. Kurangnya 125 ribu. Kita minta Plt. Dirut PLN untuk selesaikan sisanya, karena ini bisnisnya PLN,” tutur Jonan.

Selanjutnya, untuk rasio elektrifikasi, Jonan menyebut, capaian saat ini telah melampaui target RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah nasional).

“Saat ini (rasio elektrifikasi) telah mencapai 98,83 persen. Harapannya bisa 99% di tahun ini. Kalau di RPJMN target akhir 2019 (rasio elektrifikasinya) 97,6%, jadi kita sudah jauh melebihi. Ini juga dilaporkan di sidang kabinet, ini merupakan capaian luar biasa, melebihi target,” tuntas Jonan.

Penulis: Riana

Editor: Stevanny

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here