KKP Targetkan Kontrak Hingga USD 50 Juta dari JISTE 2019

Nelayan, (Foto: Ist).

Jakarta, PONTAS.ID – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan, mampu menarik kontrak dagang baru sebesar US$ 30-50 juta dari Japan International Seafood and Technology Expo (JISTE) 2019 yang akam digelar pada Rabu-Jumat (21-23 Agustus 2019).

Menurut Direktur Pemasaran Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP Machmud, keikutsertaan Indonesia di JISTE biasanya mampu menghasilkan kontrak baru hampir US$ 50 juta setiap tahunnya.

“Tahun ini, kita juga akan ikut di JISTE yang akan digelar besok Rabu-Jumat. Kami targetkan bisa dapat kontrak baru US$ 50 juta. Biasanya target kita adalah US$ 30-50 juta dari JISTE,” kata Machmud saat dihubungi, Senin (19/8/2019).

Machmud mengatakan, sepanjang semester I tahun 2019, ekspor perikanan Indonesia ke Jepang tercatat naik, baik secara volume (16,95%) maupun nilai (0,28%) dibandingkan periode sama tahun 2018. Yakni, menjadi sebanyak 55,41 ribu ton atau senilai US$ 318,42 juta dari sebelumnya 47,37 ribu ton atau senilai US$ 317,52 juta. Sejak tahun 2015 hingga tahun 2019, kata dia, ekspor perikanan Indonesia ke Jepang tumbuh dengan tren sekitar 0,49% per tahun secara nilai dan 3,01% secara volume.

Dia memaparkan, ekspor udang Indonesia ke Jepang pada semester I tahun 2019 tercatat sebesar US$ 164,48 juta, terkoreksi 1,7% dibandingkan periode sama tahun 2018 yang senilai US$ 167,33 juta. Meski secara volume masih tumbuh 3,71%% menjadi 16,22 ribu ton dari 15,64 ribu ton.

Disusul ekspor tuna, tongkol, dan cakalang yang meningkat 6,17% menjadi US$ 67,35 juta dari sebelumnya US$ 59,42. Secara volume melonjak dari 14,12 ribu ton menjadi 20,55 ribu ton. Serta ekspor cumi, sotong, gurita dari 1,02 ribu ton menjadi 1,10 ribu ton, atau dari US$ 7,17 juta menjadi US$ 9,65 juta.

Data tersebut mencakup 480 kode HS 8 digit, diolah dari BPS. “Ekspor perikanan kita ke Jepang terutama udang baik windu, vaname, dan laut, disusul tuna termasuk tongkol dan cakalang, serta gurita termasuk cumi dan sotong. Sekarang juga lagi tumbuh ekspor sidat kita ke Jepang. Yang belum masuk CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora/ Konvensi Internasional Perdagangan Satwa Liar). Kita harapkan sih memang jangan masuk CITES dulu karena produksinya masih banyak,” kata Machmud.

Selain JISTE, kata Machmud, KKP juga telah mengantongi kontrak dagang baru senilai masing-masing US$ 170 juta dan US$ 150 juta hasil mengikuti expo/ pameran di Boston dan Brussel.

Ekspor Pangasius

Sementara itu, Machmud mengatakan, ekspor ikan patin Indonesia (Indonesian Pangasius) ke Arab Saudi. Setelah memasok sekitar 300 ton untuk kebutuhan jamaah haji Indonesia.

“Kita harapkan sampai akhir tahun 2019 bisa mencapai 1.000 ton ekspor patin ke Arab Saudi. Untuk memenuhi kebutuhan umroh dan pasar komersial di sana,” kata Machmud.

Untuk itu, lanjut dia, KKP mendorong peningkatan produksi patin di dalam negeri. Dengan begitu, kata dia, upaya untuk mencari pasar baru ekspor patin, termasuk ke Afrika, bisa dilakukan.

“Untuk pasar lain kami belum berani karena tergantung produksi,” kata Machmud.

Sebelumnya, KKP merilis, produksi patin Indonesia menunjukkan tren peningkatan. Pada tahun 2018, produksi patin Indonesia meningkat 22,2% menjadi 391.151 ton dibandingkan tahun 2017 yang sebesar 319.966 ton. Dimana, sentra utama produksi patin Indonesia tersebar di wilayah kabupaten Tulungagung (JawaTimur), kabupaten Serdang Bedagai (Sumatera Utara), kabupaten Kampar (Riau), kabupaten Batanghari dan Kabupaten Muaro Jambi (Jambi), kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, kabupaten Banyuasin, dan kabupaten Ogan Komering Ilir (Sumatera Selatan), kabupaten Lampung Selatan, kabupaten Lampung Tengah, dan kabupaten Pringsewu (Lampung), serta kabupaten Banjar (Kalimantan Selatan).

Pada tahun 2017, permintaan impor catfish global mencapai 640,87 ribu ton dengan pasar utama Amerika Serikat (17%), Meksiko (9%), Tiongkok (8%), Brasil (7%), dan Arab Saudi (5$). Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, hingga 48% dipasok dari Vietnam, 36% dari Myanmar, dan sisanya dari negara lainnya.

KKP mengutip UN Comtrade (2019) mencatat, pada tahun 2018, total permintaan impor catfish global meningkat menjadi 641,31 ton, dengan negara tujuan utama Amerika Serikat (19,08%) dan Tiongkok (18,97%). Sedangkan permintaan impor Arab Saudi hanya sebesar 4.503 ton (0,7%) atau turun 85% dibandingkan tahun 2017 (UN Comtrade, 2019).

“Kami terus berkomunikasi dengan pihak Arab Saudi. Apalagi ada indikasi Vietnam berusaha masuk lewat Thailand,” kata Machmud.

Untuk menopang pertumbuhan ekspor patin, lanjut dia, pembudidaya patin di dalam negeri disarankan menggunakan pakan lokal. Pasalnya, kata dia, kebutuhan protein ikan patin hanya sekitar 30%, sehingga masih mampu dipenuhi dari bahan baku lokal.

“Dengan begitu, harganya bisa menyesuaikan dengan ekspor. Karena sekarang ini, meski produksi mulai banyak, masih sulit diekspor. Karena harganya masih tinggi, apalagi setelah diolah, masih terlalu mahal untuk diekspor,” kata Machmud.

Penulis: Hartono

Editor: Idul HM

Previous articlePengamat Soroti Anggaran Penertiban Satpol PP Jakarta Utara
Next articleSalak Gula Pasir Bali Terus Melanglang Pasar Ekspor