Biodiesel Digenjot, Menko Luhut: Tahun 2023 Masuk B100

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman (Menkomar), Luhut Binsar Pandjaitan.

Jakarta, PONTAS.ID – Menteri Koordinator bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan, mengatakan, saat ini Pemerintah terus menggenjot kebijakan pencampuran minyak sawit (CPO) dan bahan bakar (biodiesel). Menurutnya, kebijakan tersebut dipresidksi bakal menggenjot harga CPO yang saat ini sedang lesu.

Kata dia, apabila rencana ini berhasil ia yakin Indonesia tidak perlu khawatir dengan pembatasan ekspor ke Eropa yang saat ini dipersulit karena berbagai alasan seperti lingkungan.

Selain itu, ia juga yakin melalui kebijakan biodiesel ini, penyerapan sawit di dalam negeri dapat semakin meningkat sampai-sampai dapat memperbaiki harga sawit di angka 600-700 dolar AS per ton.

“Jadi, nanti kita lihat kelapa sawit kita ini akan banyak kita gunakan sendiri, sehingga dengan demikian ekspor ke Eropa itu tidak jadi bergantung lagi, sehingga kita berharap harganya bisa 600-700 dolar AS,” kata Luhut, di Jakarta, Selasa (13/8/2019).

Selain membuat harga CPO naik dan lebih stabil, Luhut menyebut, kebijakan biodiesel akan menekan impor migas. Campuran minyak sawit dalam hal ini FAME ke bahan bakar akan mengurangi impor BBM.

“Impor BBM kita itu Rp 300 triliun,” tukasnya.

Lebih jauh, Luhut menargetkan, Indonesia sudah dapat menggunakan biodiesel dengan kandungan 100 persen Fatty Acid Methyl Esther (FAME) yang bersumber dari tanaman sawit per 2023.

Luhut mengatakan, hal ini dimungkinkan karena proses pengembangan biodiesel Indonesia cukup cepat. Ia mencontohkan pada tahun 2020 nanti, B30 sudah dapat digunakan. Dan setahun berikutnya, ia mengatakan, B50 sudah dapat digunakan.

“Kita masuk B30 Januari tahun depan. 2021 sudah B50. Lalu tahun 2023-2024 masuk B100,” tuntas Luhut.

Penulis: Riana
Editor: Stevanny

Previous articleAturan Mobil Listrik Masih di Kemenkumham
Next articleBos BRI No Comment soal Perombakan Direksi BUMN