Soal Penambahan Kuota Ekspor Freeport, Kementerian ESDM Bilang Begini

Tambang Freeport/Foto: Ist

Jakarta, PONTAS.ID – Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) masih belum menerima pengajuan resmi penambahan kuota ekspor konsentrat dari PT Freeport Indonesia (PTFI).

Jika tidak segera diserahkan maka penambahan kuota baru akan diproses pada Agustus mendatang. Adapun, tambahan yang diusulkan perusahaan tersebut sebesar 300 ribu ton.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM, Yunus Saefulhak, mengatakan, pihaknya masih menunggu pengajuan resmi dari Freeport Indonesia paling lambat 31 Juli 2019.

“Revisi RKAB baru bisa dilakukan setelah trwiulan kedua. Juni Juli sudah boleh. Tapi prosesnya Agustus,” kata Yunus di Jakarta, Selasa (30/7/2019).

Yunus menegaskan, penambahan produksi bukan dari kegiatan tambang terbuka (open pit) Grabsberg. Sebabnya, saat ini produksi Freeport dari kegiatan tambang menurun seiring masa transasi ke tambang bawah tanah.

Kata dia, penambahan produksi Freeport berasal dari bijih (ore) tembaga yang belum diolah menjadi konsentrat. Hanya saja dia belum mau membeberkan kuota tambahan yang diajukan Freeport.

“Dia kan ngolah ore ore yang dulu hanya stockpile kemudian diproduksi, ngambil dari itu kan namnya produksi,” beber Yunus.

Sebelumnya, sebagaimana diwartakan bisnis.com, Chief Executive Officer Freeport-McMoRan, Richard C. Adkerson, mengatakan, selama semester I/2019, Freeport Indonesia masih menggunakan kuota ekspor yang disetujui sebelumnya, yakni pada 8 Maret 2019 sebanyak 198.282 ton konsentrat untuk satu tahun.

Adapun, kuota tersebut menyusut drastis dari periode sebelumnya yang mencapai 1,25 juta ton.

Dia mengungkapkan, Freeport Indonesia telah meminta persetujuan dari Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kuota ekspor tersebut lantaran volume produksi yang diperkirakan lebih tinggi dari rencana awal.

Terkait produksi, Freeport Indonesia akan menjadikan produksi pada Grasberg Block Cave yang merupakan salah satu tambang bawah tanah di Grasberg sebagai kontributor terbesar pasca-peralihan dari tambang terbuka.

Adapun, hingga Semester I/2019, produksi dari Grasberg Block Cave mencapai 6.200 metrik ton (MT) per hari atau naik 58,9% dari dari 3.900 MT per hari pada semester I/2018. Selain Grasberg Block Cave, blok tambang bawah tanah lainnya adalah Deep Mill Level Zone (DMLZ), Deep Ore Zone, dan Big Gossan dengan masing-masing produksi selama semester I/2019 sebanyak 7,200 MT per hari, 25,700 MT per hari, dan 5,500 MT per hari.

Penulis: Riana

Editor: Stevanny

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here