Soal Diskon Tiket Pesawat, Pengamat: Hanya Sedikit yang Menikmati

Jakarta, PONTAS.ID – Pemberian diskon sebesar 50% untuk penerbangan berbiaya murah dengan hari dan jam tertentu dinilai kurang efektif. Harga tiket pesawat terjangkau tersebut hanya sedikit penumpang yang menikmatinya.

Sekedaar informasi, asal tahu saja, diskon tiket pesawat akan diberikan pada Selasa, Kamis dan Sabtu. Adapun jam diberikannya diskon pada pukul 10.00-14.00.

Pengamat Penerbangan, Gatot Raharjo menilai, penerbangan pada pukul 10.00 hingga 14.00 memang jam dengan sepi penumpang. Pada jam tersebut biasa dilakukan untuk penumpang berlibur atau yang tidak dikejar kepentingan tertentu.

Padahal, lanjutnya, prinsip penerbangan itu kecepatan. Penumpang pesawat akan melihat waktu kedatangan di tempat tujuan, bukan waktu keberangkata.

“Jadi yang paling ramai itu ya pagi dan sore. Jam 05.00 atau 06.00 sampai jam 10.00 atau di mana orang berangkat mau ada urusan bisnis atau kerja dan sore di atas jam pulang kerja. Karena mereka lihat pesawat itu cepat, jadi kalau berangkat jam 06.00 bisa sampai jam 08.00 dan bisa langsung kerja,” kata Gatot di Jakarta, Kamis (11/7/2019).

“Kalau berangkat jam 10.00 sampai tujuan jam 12.00 mau ngapain? Makan siang?” guraunya.

Di samping itu, penerbangan berbiaya murah biasanya menggunakan waktu terbang sekira 2-3 jam. Kemudian, fasilitas yang didapat pasti tidak ada makanan.

“Di atas (waktu penerbangan) sebenarnya masyarakat sudah jarang yang naik, karena lama dan tidak ada makanan. Kalau yang jauh umpamanya ke Indonesia timur, berangkatnya lebih banyak malam hari, sampai tujuan pagi. Jadi tidak capek,” turunya.

Oleh karena itu, penerapan kebijakan yang baru dikeluarkan pemerintah dirasa kurang efektif. Apalagi harga diskon dan kursinya terbatas.

Selain itu, pengawasan pemerintah terhadap pemberian diskon juga masih dipertanyakan. Bagaimana pemerintah tahu bahwa maskapai sudah menjual tiket sebanyak yang disyaratkan?

“Ini kan sifat penjualan tiket itu dinamis. Biasanya yang dijual yang termahal baru turun-turun pakai sub-classes. Lalu bagaimana cara pemerintah mengawasi penjualannya? Jadi intervensi Pemerintah dalam hal ini kurang tepat tepat dan rawan dimanipulasi,” tuturnya.

Turunkan Inflasi

Disisi lain, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto mengatakan, adanya penurunan tarif tiket pesawat berbiaya murah ini bisa menekan terjadinya inflasi. Sebab berkaca pada Juni lalu saja angkutan udara ini telah mencatatkan deflasi.

“Kemungkinan ya, nanti ada low cost carrier untuk hari-hari tertentu, jam tertentu hari tertentu itu akan menarik (inflasi) ke bawah,” kata Suhariyanto.

Pria yang akrab disapa Kecuk itu mengaku optimis kebijakan tersebut akan kembali menyumbang deflasi, seperti yang terjadi pada Juni 2019. Sebab, pada bulan lalu, komponen harga tiket pesawat untuk pertama kalinya menyumbangkan deflasi terhadap indeks harga konsumen.

Pada Juni 2019, komponen transportasi udara mengalami deflasi sebesar 0,14 persen. Deflasi pada sektor ini disebabkan oleh penurunan Tarif Batas Atas (TBA) oleh pemerintah pada pertengahan Mei lalu.

“Kemarin ada penurunan TBA saja sudah menyumbang deflasi 0,04 persen, signal yang bagus,” jelas dia

Tidak Ada Diskon Khusus

Sebelumnya, pemerintah menyebut tak memerlukan aturan khusus yang mengikat para pemangku kepentingan dalam penyediaan tiket pesawat berbiaya murah (low cost carrier/LCC).

Upaya pemberian tarif murah memang dilakukan pihak maskapai dengan memberikan diskon sebesar 50% dari Tarif Batas Atas (TBA) pada penerbangan tertentu.

Dalam upaya penurunan tarif ini memang melibatkan tujuh pihak, yakni pemerintah, pihak maskapai yakni Citilink dan Lion Air, pihak operator bandara yakni Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II, AirNav Indonesia, serta Pertamina sebagai penyedia avtur.

“Untuk pelaksanaan kebijakan tidak diperlukan aturan khusus, enggak perlu ada Permenko, enggak perlu ada Permenhub,” kata Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono

Menurutnya, aturan tidak diperlukan dalam kebijakan ini karena semua pihak terkait memang telah bersepakat untuk menyediakan tiket murah. “Karena ini kesepahaman semua pihak dalam rangka menyediakan tiket murah,” tambahnya.

Meskipun tanpa aturan yang mengikat, Susi meyakini, setiap pihak yang terlibat dalam kebijakan ini akan mematuhi ketentuan yang telah disepakati bersama. Sebab, pemerintah menjanjikan akan mengawasi implementasinya.

Bahkan ada sanksi bagi maskapai yang tidak menerapkan kebijakan diskon tarif tiket pesawat tersebut. Adapun pemberian sanksi akan diserahkan oleh masing-masing regulator yang bersangkutan, yakni Kementerian Perhubungan dan Kementerian BUMN.

Selain itu, pemerintah juga akan terus melakukan evaluasi penerapan kebijakan sebulan sekali. Sementara evaluasi secara teknis akan dilakukan setiap minggunya.

“Dengan adanya kebijakan diskon ini ada loss share (berbagi beban biaya yang hilang). Maka dievaluasi teknis setiap minggu kami bahas dua hal yakni total loss-nya dan loss sharing-nya,” kata dia.

Sekedar informasi, terdapat 208 penerbangan dari dua maskapai Low Cost Carrier (LCC) yang mendapatkan penurunan harga tiket angkutan udara per Kamis (11/7) pukul 00.00 WIB. Sebanyak 62 di antaranya berasal dari maskapai Citilink, sementara sisanya dari Lion Air. Seluruhnya dikenakan penurunan 50 persen dan diaplikasikan terhadap 30 persen kursi per penerbangan.

Penurunan harga tiket diberlakukan pada jadwal tertentu, yakni haru Selasa, Kamis dan Sabtu dengan penerbangan antara pukul 10.00 hingga 14.00 WIB. Beberapa rute yang mendapatkan penurunan harga adalah penerbangan Lion Air Cengkareng-Surabaya nomor penerbangan JT718 dengan jadwal pukul 13.40 WIB dan JT686 dengan rute Cengkareng-Denpasar yang memiliki jadwal pukul 13.50 WIB. Selain itu, penerbangan Citilink QG22 Cengkareng-Denpasar.

Penulis: Luki Herdian

Editor: Risman Septian

Previous articleKomisoner KPU Sergai Keteteran Jawab Pertanyaan Hakim
Next articleAtasi Defisit Neraca Perdagangan, Pemerintah Harus Turunkan Tarif Bea Masuk Barang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here