Soal Maskapai Asing, Pengamat Minta Pemerintah Perbaiki Industri Penerbangan

Jakarta, PONTAS.ID – Pengamat Penerbangan, Alvin Lie menyarankan kepada pemerintah untuk memperbaiki industri penerbangan ketimbang harus repot-repot mengkaji masalah masuknya maskapai asing ke Indonesia untuk mengatasi tingginya harga tiket pesawat.

“Mungkin kita harus perbaiki aturan-aturan yang ada. Misal insentif (untuk maskapai),” kata Alvin di Jakarta, Kamis (20/6/2019).

Dia menambahkan insentif tersebut terutama harus dirasakan juga untuk maskapai yang membuka penerbangan dengan pesawat propeller di kota-kota terpencil. Dengan begitu, maskapai akan lebih mudah untuk melayani penerbangan di daerah-daerah lain.

Terlebih, belum lama ini Kemenhub baru saja menurunkan tarif batas atas (TBA) tiket pesawat hingga 16 persen. Alvin menilai hal tersebut juga menjadi salah satu pertimbangan maskapai asing untuk memikirkan terlebih dahulu jika ingin masuk ke Indonesia karena membuat maskapai tidak fleksibel.

“Maskapai justru bertengger terus di TBA. Kalau dengan peraturan begini, saya yakin pemain asing tidak mau masuk ke Indonesia karena tidak efektif,” jelas Alvin.

Sejak 2019, kata Alvin, tidak ada lagi maskapai asing yang masuk ke Indonesia. Padahal, menurut dia, pemerintah Indonesia sama sekali tidak melarang karena Air Asia bisa masuk ke Indonesia dengan komposisi 51 persen saham milik Indonesia dan 49 persen milik asing.

“Kalau industri kita aktraktif, profit besar, tidak perlu Pak Jokowi undang, dia (maskapai asing) sudah masuk. Tapi masalahnya mereka tidak mau. Maskapai nasional ini saja mau nangis sudah berdarah-darah,” ujar Alvin.

Bisa Jadi Opsi

Sementara itu, Pengamat penerbangan Ziva Narendra mengatakan kehadiran maskapai asing tentu bukan satu-satunya solusi, tapi bisa jadi opsi.

“Opsi ini menjadi menarik. Kalau bisa meningkatkan persaingan yang sehat dan pangsa pasarnya bisa terlayani. Why not?,” ujar Ziva di Jakarta.

Ziva menambahkan, semakin banyak pemain dalam industri pesawat tanah air, maka kompetisinya akan lebih menarik.

Tentu harga kian kompetitif, pemerintah harus mempertimbangkan rute dan juga ketertarikan wisatawan untuk mau bepergian dengan air line tersebut. Selain itu, fix cost masing-masing maskapai tentu berbeda. Maka itu juga perlu dipertimbangkan, menurut Ziva.

Penulis: Luki Herdian

Editor: Risman Septian

Previous articleAcuan Evaluasi Kinerja, Plt. Bupati Asahan Pakai Laporan BPS
Next articleSoal Isu TDL Naik, Menteri ESDM Membantah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here