BPS Perkirakan Ramadhan 2018 Harga Kebutuhan Terkendali

Ilustrasi

Jakarta, PONTAS.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan harga-harga kebutuhan pokok jelang Ramadan dan Lebaran 2018 akan lebih terkendali. Hal tersebut menyusul komitmen dari pemerintah untuk menjaga harga tetap stabil pada dua momen tersebut.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, saat ini pemerintah terus berkoordinasi untuk mengantisipasi kenaikan harga barang kebutuhan pokok pada Ramadan dan Lebaran.

“Antisipasi harga barang jelang puasa, pemerintah sudah koordinasi dan berkomitmen untuk menjaga inflasi pada bulan puasa dan Lebaran,” ujar dia di Kantor BPS, Jakarta, Senin (2/4/2018).

Suhariyanto mengatakan, Pada tahun lalu, harga barang kebutuhan pokok pada Ramadan dan Lebaran relatif terkendali, bahkan jauh lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tren tersebut diharapkan bisa berlanjut pada tahun ‎ini, harga di bulan puasa Insya Allah akan lebih terkendali,” kata dia.

Namun demikian, ‎ada sejumlah komoditas yang tetap harus menjadi perhatian pemerintah, seperti harga cabai, bawang dan bumbu-bumbuan lain. Sebab, komoditas ini rawan akan kenaikan harga jika pasokannya terganggu akibat panen yang mundur atau barangnya rusak karena musim hujan.

“Tapi yang perlu diantisipasi lagi dari komposisi yang ada sekarang harga bumbu-bumbuan nampaknya masih akan berfluktuasi karena pengaruh cuaca. Seperti cabai rawit, bawang merah, bawang putih. Itu komoditas yang tidak tahan lama, dan cuaca juga kurang bagus sehingga bisa disadari bawang merah itu harganya bisa berfluktuasi tinggi sekali. Kemungkinan masih ada (kenaikan harga),” ujar dia.

Sementara untuk beras, Suhariyanto menyatakan hal tersebut akan relatif terkendali karena masih akan ada panen pada bulan ini. Dengan pasokan yang cukup, diharapkan haraga pangan ini tidak melonjak.

“Beras juga bisa di-handle karena panen raya itu pada bulan Maret dan masih akan panen besar di bulan April, sehingga saya berharap harga beras masih akan terkontrol dan akan turun lagi, lebih tajam lagi sesuai keinginan Presiden sehingga pada bulan puasa nanti bisa terkendali,” tutur dia.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, inflasi Maret 2018 sebesar 0,2 persen. Angka ini lebih tinggi dibanding inflasi Februari 2018 yang sebesar 0,17 persen dan berbanding terbalik dibanding Maret 2017 yang terjadi deflasi 0,02 persen.

Suhariyanto mengatakan, inflasi ini didorong oleh kenaikan sejumlah harga komoditas pada Maret lalu.‎ “Perkembangan harga sejumlah komoditas pada Maret 21018 secara umum mengalami kenaikan,” ujar dia di Kantor BPS, Jakarta, Senin 2 April 2018.

Dia menjelaskan, inflasi tahun kalender 2018 yaitu Maret 2018 terhadap Desember 2017 sebesar 0,99 persen. Sedangkan inflasi tahun ke tahun yaitu Maret 2018 terhadap Maret 2017 sebesar 3,4 persen. “Dengan memperhatikan dalam APBN, angka 3,4 persen ini relatif terkendali‎,” jelas Suharyanto.

Menurut Suhariyanto, dari 82 kota IHK, 57 kota mengalami inflasi, sedangkan sisanya sebanyak 25 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Jayapura sebesar 2,1 persen dan inflasi terendah terjadi di Sumenep yaitu 0,01 persen.

“Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Tual sebesar 2,3 persen dan deflasi terendah di Bulukumba sebesar 0,01 persen,” ujarnya.

Editor: Idul HM

 

Previous articlePersiapan Revolusi Industri 4.0, Pemerintah Bentuk Komite Industri
Next articleDPRD Desak Pemprov DKI Tertibkan Kafe Liar di Jakarta Timur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here