Aksi Rusuh di Bawaslu, Polri Ungkap 12 Fakta Ini

(ki-ka) Wadireskrimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary Syam Indradi; Kapuspen TNI, Mayjen TNI Sisriadi; Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Mohammad Iqbal dan Kasubdit I Dirtipidum Bareskrim Polri, Kombes Daddy Hartadi dalam jumpa pers di Media Center Kemenko Polhukam, Selasa (11/6/2019)

Jakarta, PONTAS.ID – Kepolisian Republik Indonesia (Polri) kembali mengungkapkan perkembangan penyelidikan dan penyidikan kasus kerusuhan yang terjadi di depan Bawaslu pada 21-22 Mei 2019 lalu.

Pengungkapan ini dilakukan oleh Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Mohammad Iqbal bersama Kapuspen TNI Mayjen TNI Sisriadi didampingi Kasubdit I Dirtipidum Bareskrim Polri, Kombes Daddy Hartadi serta Wadireskrimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary Syam Indradi dalam jumpa pers di Media Center Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Selasa (11/6/2019).

Berikut fakta-fakta yang berhasil dirangkum PONTAS.id dalam jumpa pers tersebut:

1.Perencanaan Matang

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Mohamad Iqbal menyebut ada perencanaan matang di balik kerusuhan di depan Gedung Bawaslu dan wilayah lainnya. Iqbal bahkan menyebut ada master mind (dalang) yang memobilisasi massa ke sejumlah titik kerusuhan itu.

Menurut dia, keberadaan mastermind ini dipastikan berdasarkan perbedaan massa yang melakukan demonstrasi damai di depan Gedung Bawaslu dengan massa yang merusuh di sejumlah titik.

“Massa-massa perusuh itu, juga menyerang anggota Polri, merusak sejumlah fasilitas polisi dan fasilitas publik,” paparnya.

2.Dua Kelompok Massa

Iqbal mengatakan, massa yang ada di Bawaslu tersebut berbeda dengan massa yang melakukan kerusuhan.

Di segmen kedua, kata dia, sekitar pukul 22.30 WIB, tiba-tiba massa perusuh yang jumlahnya diperkirakan 500 orang melakukan pengerusakan dan penyerangan kepada petugas.

Iqbal menambahkan, bahwa pada kejadian itu, massa perusuh yang mulai melakukan penyerangan lebih dulu ke arah aparat Polisi dan TNI. Para personel Polri-TNI saat itu bersifat merespons atas serangan massa perusuh.

“Jadi publik harus paham. Bahwa kejadian kerusuhan yang mengawali adalah massa perusuh karena mereka menyerang duluan. TNI-Polri hanya melaksanakan respons atas penyerangan tersebut. Kami tidak menyerang tapi menghalau. Buktinya banyak,” kata Iqbal.

3.Senjata Aktif

Polri memastikan, senjata api ilegal milik mantan Danjen Kopassus Mayjen (Purn) Soenarko dapat berfungsi dengan baik. Kasubdit 1 Dittipidium Bareskrim Polri Kombes Pol Daddy Hartadi mengatakan, kepastian tersebut didapat berdasarkan uji laboratorium forensik.

Ia menjelaskan, merk dan logo senjata tersebut telah dihapus, tetapi nomor seri masih tertera. Hal itu disampaikan pihaknya untuk membantah pernyataan yang menyebut bahwa senjata api tersebut tidak layak digunakan atau rongsokan.

Selain itu, Polri juga menemukan bahwa dua magazen dan peredam yang ditemukan sesuai dengan senjata tersebut. Dalam jumpa pers, Polri menayangkan video uji coba senpi ilegal yang diduga milik Soenarko.

“Kami menyelidiki dan menyidik dan telah memeriksa 13 orang baik para saksi maupun ahli dari labfor, ahli pidana, maupun ahli Wasendak (Pengawasan Senjata Api dan Bahan Peledak),” ujar Daddy.

Presentasi dari Polri terkait barang bukti senjata aktif terkait kerusuhan 21-22 Mei di depan Gedung Bawaslu yang disampaikan dalam jumpa pers di Media Center Kemenko Polhukam, Selasa (11/6/2019)
4.Bunuh Tokoh Nasional

Dalam acara ini, Polri juga mengungkap rencana pembunuhan empat jenderal. Wadireskrimum Polda Metro Jaya, AKBP Ade Ary Syam Indradi menyebut Kivlan Zen merupakan sosok yang memberi perintah.

Menurutnya, Kivlan juga memberi uang Rp.150 juta kepada tersangka HK untuk membeli senjata api yang akan digunakan saat mengeksekusi atau membunuh empat tokoh nasional itu.

Tiga eksekutor disiapkan membunuh atau mencari orang yang bisa membunuh Menteri Polhukam Wiranto, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan, Staf Khusus Presiden Jokowi bidang Intelijen Gories Mere, dan Menko bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan.

Rencana pembunuhan ini bermula dari pertemuan HK dengan Kivlan di bilangan Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada bulan Maret 2019. Dalam pertemuan HK mengaku diberi uang oleh Kivlan sebesar Rp.150 juta untuk membeli dua senjata laras pendek dan dua senjata laras panjang.

“Uang tersebut Rp150 juta dalam bentuk dolar Singapura langsung saya tukar di money changer,” ujar HK, dalam video testimoni yang ditayangkan.

5.Incar Yunarto Wijaya

Selain empat tokoh nasional. IR alias Irwansyah dalam testimoninya mengaku Kivlan menunjukkan alamat dan foto Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya sebagai sasaran untuk dibunuh.

IR mengaku sudah dua kali mengintai kediaman Yunarto. Dia mendatangi rumah Yunarto bersama Yusuf menggunakan mobil  dan mengambil gambar aktivitas di alamat yang diberikan Kivlan.

“Saya kasih uang operasional Rp.5 juta untuk bensin, makan, dan uang kendaraan lalu saya jawab siap. Beliau (Kivlan) bilang lagi ‘kalau ada yang bisa eksekusi saya jamin anak istrinya dan liburan ke manapun’,” kata IR menirukan janji Kivlan.

6.Tak Pakai Peluru Tajam

Dalam kesempatan kali ini, Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Mohammad Iqbal kembali menegaskan,  personel kepolisian hanya dilengkapi dengan gas air mata, water cannon, peluru karet, dan peluru hampa selama menghadapi aksi massa.

“Untuk beberapa kali saya sampaikan di publik bahwa personel pengamanan 21-22 Mei, baik TNI-Polri, tidak dilengkapi dengan peluru tajam,” kata dia.

Iqbal memaparkan banyak personel kepolisian yang bertugas menjadi korban amuk massa. Setidaknya ada 225 personel Polri harus menjalani rawat jalan dan 8 personil rawat inap.

Salah satunya ialah Wakapolsek Jatinegara AKBP Agus Sumarno. Menurut Iqbal, kepala Agus dihantam batu konblok oleh perusuh rahangnya harus dioperasi. “Kemudian AKP Ibrahim patah tangannya,” paparnya.

7.Senjata Mematikan

Kepolisian menyebut senjata-senjata yang digunakan massa perusuh pada 21-22 Mei tergolong mematikan.

Kadiv Humas Mabes Polri, Inspektur Jenderal Pol Muhammad Iqbal mengatakan senjata-senjata yang ditemukan itu mulai dari senjata tajam jenis klewang hingga panah beracun. Selain itu ada juga molotov dan petasan roket yang dijadikan alat untuk menyerangan petugas.

“Bukan hanya benda kecil, tapi pakai benda mematikan. Seperti molotov. Petasan roket. Itu berbahaya dan mematikan. Ada juga panah, panahnya beracun. Klewang. bahkan batu-batu konblok sudah disiapkan untuk menyerang petugas,” kata dia.

8.Informasi dari Denpom

Kasubdit I Dirtipidum Bareskrim Polri, Kombes Daddy Hartadi menambahkan, pihaknya mengungkap awal mula kasus kepemilikan senjata api ilegal yang diduga milik Mayjen TNI (Purn) Soenarko dan HR, bermula dari surat Danpuspom TNI kepada Kapolri Jenderal Tito Karnavian pada 18 Mei soal hasil penyelidikan pengiriman senjata api.

Dari surat Puspom TNI itu, Polri lantas membuat laporan model-A dengan dugaan tindak pidana menerima, menyimpan, menguasai, menyembunyikan, atau menyerahkan senpi ilegal pasal 1 UU Darurat.

Dari dasar laporan polisi itu Daddy mengatakan pihaknya melakukan penyelidikan dan pemeriksaan terhadap 13 orang saksi dan ahli. Kemudian, dari hasil pemeriksaan polisi, anggota BAIS berhasil mengamankan seorang bernama Z di Bandara Soekarno Hatta pada 15 Mei.

“Senpi tersebut hasil pemeriksaan saksi adalah milik saudara S yang berasal dari sitaan GAM di Aceh dimiliki September 2011 sejak pensiun dari anggota TNI,” ujarnya.

9 Korban Tewas

Sementara itu, terkait sembilan korban tewas selama kerusuhan, Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Mohammad Iqbal mengaku belum bisa menyimpulkan pihak yang bertanggung jawab atas korban tewas tersebut.

Polisi menduga sembilan orang yang meninggal itu bagian dari kelompok perusuh. “Kita harus sampaikan, bahwa sembilan korban meninggal dunia kami duga penyerang, perusuh. Duga ya, diduga perusuh,” kata  Iqbal

Terkait kepentingan penyelidikan itu, Iqbal menyatakan, Polri sudah membentuk tim investigasi yang dikomandoi oleh Inspektur Pengawasan Umum Polri.

Tim investigasi itu, menurut Iqbal, saat ini sedang berproses dan berjalan. Bahkan, kata Iqbal, tim bekerja dan berkoordinasi dengan Komnas HAM.  Ia menjanjikan, Polri bakal transparan dalam mengungkap seluruh rangkaian peristiwa.

Kapuspen TNI, Mayjen TNI Sisriadi (kedua dari kiri) saat menjawab pertanyaan wartawan Hartadi dalam jumpa pers di Media Center Kemenko Polhukam, Selasa (11/6/2019)
10.Loyalitas TNI

Sementara itu, terkait munculnya keraguan masyarakat soal loyalitas anggota TNI  kepada mantan pimpinannya yang sudah tidak aktif di TNI, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Brigjen TNI Sisriadi memastikan bahwa seluruh prajurit di institusinya loyal terhadap Panglima TNI.

“Loyalitas prajurit TNI lurus ke atas, dari prajurit kepada komandan, lalu komandan kepada Panglima TNI. Bukan loyalitas yang mendua,” kata Sisriadi.

Oleh karena itu, dia menilai apapun yang terjadi di masyarakat, tidak akan bisa merusak struktur organisasi TNI yang solid.

11.Adu Domba TNI-Polri

Terkait viralnya surat dari Densus 88 yang viral di media sosial, Kadiv Humas Polri Irjen Polisi M Iqbal membantah Densus 88 akan melakukan penangkapan terhadap perwira TNI aktif.

Kabar tersebut dipastikan bohong atau hoaks yang  sengaja disebar untuk menggoyang kekompakan TNI-Polri.

“Hoaks dan narasi yang beredar di media sosial yang saya duga adalah untuk menggoyang sinergitas TNI-Polri. Kepolisian tidak memiliki kewenangan menangkap anggota TNI aktif,” ujar Iqbal.

Hal ini juga ditegaskan Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Sisriadi, “TNI-Polri tetap solid dan tidak terganggu hoaks yang beredar di media sosial. TNI-Polri tidak akan mudah dibenturkan oleh pihak tertentu melalui hoaks,” tegas Sisriadi.

12.Tim Mawar

Kepolisian mengklaim masih melakukan penyelidikan atas dugaan keterlibatan Fauka Noor Farid dalam peristiwa kerusuhan 22 Mei 2019. Untuk itu, kepolisian bakal segera mengagendakan pemeriksaan terhadap Fauka yang merupakan mantan anggota Tim Mawar Kopassus TNI AD.

Iqbal menjelaskan bahwa rencana pemeriksaan Fauka bukan karena hanya pemberitaan majalah Tempo semata, tetapi juga karena ‘nyanyian’ salah satu tersangka kerusuhan 22 Mei. berinisial MN alias Kobra Hercules>

Dalam BAP, Iqbal mengatakan bahwa Kobra Hercules mengaku kerap berkoordinasi dan bertemu dengan Fauka di sebuah tempat untuk membicarakan pengerahan masa pada tanggal 21-22 Mei 2019.

“Memang saudara F itu sudah disebut namanya oleh salah satu tersangka inisialnya MN atau banyak yang menyebutnya Kobra Hercules,” ujarnya.

Sejauh ini baru Fauka saja yang bakal diperiksa, sementara anggota Tim Mawar lainnya belum diagendakan.

Menanggapi hal ini, mantan Komandan tim mawar, Mayjen TNI (Purn) Chairawan membantah terlibat dalam kerusuhan 21-22 Mei 2019. Ia mengaku mengetahui kerusuhan berasal dari televisi yang pada saat itu sedang berbuka puasa di rumahnya.

“Kalau ditanya, saya tahu atau enggak, saya tahunya dari TV. Karena waktu itu bulan puasa, saya buka puasa di rumah. Ya di rumah saja saya,” kata Chairawan di gedung Dewan Pers, Jakarta Pusat, Selasa (11/6/2019).

Chairawan mengaku siap untuk diklarifikasi mengenai keberadaannya pada saat kerusuhan 21-22 Mei.

Kemudian, Chairawan juga menegaskan bahwa Tim Mawar sudah bubar setelah putusan pengadilan di tahun 1999, “Kami sekarang bekerja masing-masing karena memang sudah bubar,”ujarnya.

Penulis: Pahala Simanjuntak
Editor: Hendrik JS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here