Jakarta, PONTAS.ID – Startup yang bergerak di bidang agrikultur atau pertanian, Vestifarm, berhasil menjadi jawara dalam ajang kompetisi Get In The Ring (GITR) Jakarta 2019, yang diselenggarakan oleh perusahaan coworking space terbesar di Indonesia, CoHive.
Salah satu judges atau dewan juri di dalam event GITR Jakarta 2019, Devina Halim menjelaskan kriteria startup yang layak menjadi pemenang dalam kompetisi ini. Dan salah satunya adalah startup tersebut harus memiliki value proposition yang baik.
“Dan punya interm of the business model, interm of the landscape. Yang juga emang all dia punya better change the winning global competition,” kata Devina usai acara Grand Final GITR Jakarta 2019 di Gedung CoHive 101, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (11/4/2019).
Wanita yang merupakan Investment Associate East Ventures ini menambahkan, alasan juri memilih Vestifarm sebagai pemenang, karena startup yang berdiri tahun 2017 itu dianggap layak mewakili Indonesia di kancah internasional karena bergerak di bidang pertanian. Diketahui, Indonesia merupakan negara agraris.
“Dan kita lihat value proposition dia (Vestifarm) itu sangat unik. Karena dia spesifik main di hal-hal yang items. Jadi menurut aku sih bakal jadi unik untuk selling point nantinya,” ujarnya.
Startup pemenang dari GITR Jakarta 2019 akan mendapatkan tiket ke Berlin, Jerman untuk beradu dengan para pemenang dari negara-negara lain. Selain itu, pemenang juga mendapat kesempatan mengakses sumber investasi, pelatihan dan mentoring, serta jaringan bisnis yang berskala internasional.
Ditempat yang sama, CEO Vestifarm, Dharma Anjarrahman mengaku mengapresiasi gelaran GITR Jakarta 2019 tersebut. Pasalnya, dia merasa kompetisi ini sangat unik dibandingkan dengan kompetisi antar startup lainnya yang pernah dia ikuti.
“Ini konsepnya sangat unik dan pengalamannya beda banget. Kita masuk ring kayak orang mau tinju terus saling punch dengan argument masing-masing,” tutur dia.
Usai menjadi pemenang Get In The Ring 2019, Dharma berharap startup-nya dapat berkembang, karena kini Vestifarm baru memiliki 15 karyawan.
“Target kedepannya kita membantu petani di Indonesia, jumlah petani kita di indonesia itu ada 40 juta. At least yang punya lahan itu kita bantu ada 26 juta. Ekspektasi kita itu lebih banyak membantu petani. Biar petani-petani taraf hidupnya bisa meningkat. Di sisi lain supaya masyarakat indonesia punya alternatif investasi yang halal,” jelasnya.
Dia pun memaparkan, bahwa Vestifarm merupakan perusahaan berbasis financial technology (fintech), yang mencoba mengatasi masalah tingginya risiko gagal panen karena kondisi cuaca yang tak menentu, serta membantu petani dan peternak yang kerap kesulitan mendapatkan kredit dari bank.
Sementara itu Head of Corporate Communication CoHive, Kartika Octaviana menyatakan kompetisi global GITR Jakarta 2019 ini tidak hanya membuka jalan bagi para startup untuk mendapatkan relasi di skala nasional saja, tetapi juga skala internasional.
Dia menilai, pesatnya pertumbuhan startup di Indonesia tak diiringi dengan usaha berkelanjutan. Masalah pun sering dijumpai terkait kurangnya pemahaman akan model bisnis yang teruji, serta minimnya pendanaan. Salah satu solusi adalah dengan memperluas akses terhadap investor, inkubator dan akselerator bisnis.
“Kami berharap bahwa Get In The Ring Jakarta 2019 ini dapat menjadi jalan bagi startup nasional untuk mengharumkan nama bangsa di kancah internasional,” kata Kartika.
Tahun ini adalah kali kedua CoHive menyelenggarakan kompetisi GITR, yang merupakan kerjasama dengan Get in the Ring Foundation, sebuah organisasi yang memiliki jaringan di 100 negara dan bertujuan untuk memberikan dukungan bagi para inovator untuk tumbuh lebih cepat dengan membangun jaringan yang kuat di dunia.
GITR Foundation bekerja sama dengan berbagai organisasi, korporasi, dan lembaga pemerintahan berupaya mendorong para startup agar turut menciptakan solusi dari berbagai permasalahan di dunia.
Penulis: Risman Septian
Editor: Idul HM




























