Menu warung itu adalah makana khas Nusantara, seperti belut goreng dibalur tepung tipis, rempeyek udang, dan sayur nangka muda. Makanan yang menjadi andalan adalah ayam kampung dan sambel dadak.
Hasto Kristiyanto masuk ke ruang dapur Warung Makan Bu Gundil. Dengan menggunakan penggorengan ukuran besar, Hasto mengaduk racikan bumbu-bumbu khas Nusantara. Ternyata, salah satu rahasianya, semua masakan itu dimasak dengan api dari kayu bakar.
“Dengan menggunakan kayu bakar maka menciptakan sebuah kombinasi aroma yang luar biasa khas Nusantara. Jadi, semua dimasak di sini,” kata Hasto Kristiyanto.
Saat memasak, Hasto Kristiyanto didampingi seorang anak Bu Gundil. Dari dia didapatkan informasi bahwa untuk sayur gori (sayur nangka) yang ada di penggorengan, ada 11 jenis bumbu. “Itulah kayanya cita rasa Indonesia. Kalau makanan barat itu biasanya cuma dua bumbu. Biasanya garam dan lada. Kalau masakan Indonesia sampai 11 bumbu,” ujar Hasto Kristiyanto.
Dia juga sempat menanyakan sejarah berdirinya warung makan itu. “Warung ini berdirinya pada 1990-an,” kata anak Bu Gundil.
“Dulu ini warung orangtua saya. Orangtua saya sudah meninggal dunia. Jadi, saya yang meneruskan Warung Bu Gundil. Makanya, saya meneruskan namanya Bu Gundil biar tidak lupa masa lalu,” sambungnya.
Mendengar ucapan itu, Hasto menyahut, “Jas Merah. Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah,” ujar Hasto Kristiyanto.
Warung itu menyajikan masakan asli Indonesia dan seluruh komponennya tidak ada yang impor. Warung Makan Bu Gundil, menurut Hasto Kristiyanto, membuktikan bahwa tak semua harus impor, terutama di bidang pangan. Hal ini sekaligus membantah pernyataan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto mengenai pemerintah yang selalu impor.
“Jadi, kalau Pak prabowo mengatakan impor, impor, impor, ini ada yang impor tidak? Tidak ada impornya. Dari ayam, tahu, kemudian belutnya enak sekali, gurih, dan menyajikan kekayaan bumbu Nusantara,” kata Hasto Kristiyanto.
EDITOR: IDUL HM




























