Jakarta, PONTAS.ID – Dalam rangka memperkuat destinasi Tanjung Kelayang yang ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai satu diantara 10 Destinasi Pariwisata Prioritas, pihak Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menginisiasi revitalisasi Desa Sijuk, Tanjung Kelayang, Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung (Babel).
Staf Ahli Menteri Pariwisata Bidang Multikultural, Esthy Reko Astuti mengungkapkan bahwa revitalisasi situs heritage berupa renovasi bangunan masjid kuno, kelenteng, rumah adat Melayu dan perkampungan di Desa Sijuk tersebut telah dimulai pada tahun 2018 lalu dan berlanjut pada tahun 2019 ini.
Pihak Kemenpar menggandeng Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI), dengan melibatkan stakeholder pariwisata sebagai kekuatan Pentahelix (akademisi, pelaku bisnis, komunitas, pemerintah, dan media) dalam melakukan proses revitalisasi Desa Sijuk yang memiliki daya tarik wisata multikultural heritage tersebut.
Dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung di Hotel Santika Tanjung Pandan, Esthy menyebutkan bahwa atraksi wisata multikultural heritage di Desa Sijuk meliputi masjid dan klenteng kuno yang dibangun sekitar tahun 1.800-an.
Kemudian ada pula rumah adat Melayu yang dibangun sekitar tahun 1940-an yang sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya, serta perkampungan dan kawasan Pecinan itu banyak diminati wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wisnus).
“Ada sebanyak 60 bangunan heritage (rumah Melayu) di sana. Tahun lalu, kita mulai merevitalisasi 5 rumah khas Melayu sebagai pemicu dan kita lanjutan tahun ini sebanyak 20 rumah dengan melibatkan kekuatan Pentahelix utamanya industri dan komunitas masyarakat setempat,” kata Esthy dalam siaran pers Kemenpar, Minggu (24/2/2019).
Dalam kesempatan yang sama, Dekan FIB UI, Prof. DR. Andrianus L.G. Waworuntu mengatakan, keberadaan daya tarik wisata multikultural heritage Desa Wisata Sijuk berperan penting dalam mendukung Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Kelayang, sebagai kawasan pariwisata prioritas yang menempatkan marine tourism sebagai produk wisata utamanya.
“Sijuk heritage penting untuk mendukung marine tourism sebagai wisata utama Tanjung Kelayang,” ujar Andrianus.
Dia lantas memberikan contoh pariwisata Bali di era tahun 1970-an, yang menempatkan wisata pantai (marine tourism) sebagai unggulannya, kemudian berkembang dengan culture tourism.
“Destinasi wisata prioritas Tanjung Kelayang bisa berkembang seperti itu,” imbuhnya.
Revitalisasi Desa Sijuk ini pun disebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan dari budaya tradisional (traditional culture) menjadi modern kreatif industri, seperti misalnya meningkatkan rumah tradisional menjadi modern dengan arsitektur nusantara yang lebih menarik.
Desa Sijuk yang dikembangkan sebagai destinasi wisata multikultural heritage ini, juga sejalan dengan portofolio bisnis pariwisata nasional, yang menempatkan culture sebesar 65 persen, nature 30 persen, dan manmade 5 persen.
Disebutkan bahwa pengelolaan destinasi (Destination Management Organisation/DMO) di tingkat desa keberhasilannya sangat ditentukan saat perencanaan dan penelitian, dalam hal ini melibatkan dunia akademisi FIB UI. Pengelolaan DMO desa wisata apabila perencanaannya tidak dilakukan dengan baik membawa dampak negatif baik pada aspek sosial maupun lingkungan.
Sementara itu Tim Percepatan Pembanguan Destinasi Wisata Prioritas Kemenpar, Larasati Sedyaningsih menyebutkan bahwa dalam mengembangkan KEK Tanjung Kelayang, pihaknya fokus pada peningkatkan konektivitas penerbangan dari negara sumber wisatawan mancanegara (wisman), antara lain Singapura dan Malaysia, serta memasukan Tanjung Kelayang sebagai destinasi Global Geopark Network (UNESCO).
“Belitung merupakan destinasi pariwisata dengan pertumbuhan tertinggi mencapai 25 persen atau di atas pertumbuhan pariwisata nasional sebesar 23 persen. Tahun 2017, Belitung dikunjungi 379.274 wisatawan, terdiri atas 9.358 wisman dan 369.916 wisnus,” kata Larasati.
Wisman yang berkunjung ke Belitung antara lain berasal dari Malaysia, Singapura, Korea Selatan, China, dan Jepang sebagai ‘Top 5 Country’, serta dari Australia, India, USA, dan Jerman.
Sementara itu untuk meningkatkan kunjungan wisman, Belitung memiliki event pariwisata unggulan, antara lain Festival Tanjung Kelayang, Pesta Nelayan di Desa Padang Kandis, serta Wisata Pantai Tanjung Pendam, dan Patung Dewi Kwam Im di Vihara Tertua di Belitung.
Editor: Risman Septian




























