Jakarta, PONTAS.ID – Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi Sukamdani memprediksi bahwa target devisa dari sektor pariwisata di tahun 2019 ini yang telah ditetapkan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) sebesar 20 miliar dolar AS, masih agak berat untuk diraih.
Pasalnya, berkaca pada target devisa pariwisata di tahun 2018 lalu yang sebesar 17 miliar dolar AS juga tidak tercapai. Tapi, target itu tentunya bisa diraih dengan kerja keras, serta harus ada usaha yang luar biasa dari para stakeholder.
Oleh karena itu, PHRI memberikan 4 poin saran yang dapat dilakukan untuk memacu devisa dari sektor pariwisata. Pertama, mengonversi program branding menjadi selling.
Menurut Hariyadi, pemerintah dan pelaku usaha cukup berhasil melakukan branding. Namun, penjualan produk pariwisata terbilang cukup sulit karena biaya iklan dan promosi cenderung terbatas.
“Tanpa pendanaan yang efektif akan susah untuk mendapatkan target itu (devisa US$20 miliar). Perlu adanya anggaran untuk iklan dan sosialisasi dalam menjual produk-produk wisata,” kata Hariyadi, Senin (7/1/2019).
Kedua, membuat program kerja sama dengan maskapai penerbangan. Adanya tambahan devisa tentunya berasal dari tambahan jumlah wisatawan mancanegara, yang mayoritas datang menggunakan pesawat.
Kerja sama dengan maskapai dapat dilakukan dengan melakukan promosi pariwisata di pesawat dan bandara, serta memberikan fasilitas terminal low-cost carrier (LCC).
Ketiga, mengoptimalkan jaringan promosi melalui diaspora dan generasi muda. Kemenpar sudah membentuk Generasi Pesona Indonesia (GenPI) untuk menyemarakkan pariwisata di kalangan muda dan juga media sosial.
Namun, ada segmen yang belum tergarap yakni diaspora, yang memiliki jaringan kuat di suatu negara. Keberadaan diaspora menjadi salah satu peluang promosi pariwisata Indonesia.
Keempat, pembenahan destinasi wisata dalam hal kebersihan dan keamanan. Oleh karena itu, perlu adanya kerja sama dengan pemerintah daerah.
Hariyadi menambahkan, salah satu tantangan dalam mendatangkan wisman ialah persoalan bencana. Hal ini dapat ditanggulangi dengan menonjolkan wisata-wisata alternatif di tempat lain.
“Misalnya di Bali jumlah wisman sampai 5 juta orang. Kalau Bali ada apa-apa, ini sangat mempengaruhi jumlah kunjungan. Jadi pariwisata daerah lain juga dapat ditonjolkan,” ujarnya.
Sebelumnya Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya mengungkapkan bahwa pada akhir 2019 sektor pariwisata nasional akan menghasilan devisa sebesar 20 miliar dolar AS. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan target 2018 yang sebesar 17 miliar dolar AS.
“Pariwisata merupakan industri paling mudah dan murah untuk dapatkan devisa jadi tahun 2017 itu 15 miliar dolar AS, 2016 sebesar 13,5 miliar dolar AS, tahun ini 17 miliar dolar AS, tahun depan 20 miliar dolar AS,” kata Arief di komplek DPR RI, Jakarta, Kamis (16/8/2018).
Dengan sumbangan 20 miliar dolar AS di 2019, Arief berharap bahwa sektor pariwisata masuk dalam salah satu penyumbang devisa terbesar.
Adapun, langkah yang dilakukan pemerintah adalah gencar melakukan pemasaran, pengembangan destinasi baru, dan penyiapan sumber daya manusia (SDM) dengan kualitas terbaik.
“Ketika 20 miliar dolar AS maka diharapkan pariwisata sudah menjadi penghasil devisa terbesar,” tutup dia.
Editor: Risman Septian



























