
Semarang, PONTAS.ID – Membeli kain batik buat oleh-oleh saat mengunjungi tempat wisata sudah terbilang jamak dan biasa. Tetapi di Semarang Jawa Tengah berbeda. Bagaimana sensasi berbelanja kain atau baju batik sambil belajar membatik sekaligus melihat kampungnya.
Namanya Kampoeng Jadoel atau Kampoeng Batik. Kampung ini terletak tak jauh dari Kota Lama dan Pasar Johar. Tepatnya di Kelurahan Rejo Mulyo RT02.
Di antara keduanya terdapat Bundaran Bubakan, di sini terdapat jalan masuk dengan gapura besar bertuliskan “Kampung Batik Semarang”.
Kampoeng ini memang unik. Hanya satu RT yang dipimpin seorang Ketua RT bernama, Dwi Christianto. “Kampoeng Batik hanya dihuni 24 Warga, dan dari 24 warga ini, hanya 12 rumah yang aktif memproduksi batik,” kata Dwi saat menerima kunjungan Tim Persatuan Wartawan Pemko Medan, Rabu (28/11/2018).
Sebelum masuk kampung ini di depannya dibatasi dengan stand stand yang menjual produk batik mereka. Pelancong boleh membelinya di situ. Tentunya setelah belajar membatik diselembar kain putih yang telah disiapkan dengan merogoh kocek Rp30 ribu. Selesai membatik, hasilnya boleh dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.
Go Internasional
Menurut Dwi Christianto, Kampoeng Batik terinspirasi saat, walikota semarang sebelumnya membuat acara membatik bersama di kampung tersebut.
“Sejak itu, kampung ini dinobatkan menjadi kampoeng batik. Namun tidak bertahan lama. Kampung ini kembali sepi. Tetapi sejak tahun 2016, kampoeng batik menjadi viral setelah dilukis oleh seorang seniman lukis, bernama Luwianto,” jelas Dwi.
Bahkan lukisan yang menceritakan sejarah terbentuknya kampoeng batik yang dilukis di salah satu dinding gang itu saat ini menjadi sangat viral di medsos. “Sekarang malah sudah diketahui manca negara,” tambahnya.
Sementara itu, Luwianto menambahkan, ide menghidupkan kembali Kampoeng Batik ini lantaran lukisan dindingnya viral di Medsos. Sejak itu dirinya mulai menyadarkan kembali beberapa warga untuk kembali menghidupkan Kampoeng Batik walau tanpa bantuan pemerintah.
“Sejak itu perlahan-lahan kampung kami ini mulai kembali didatangi pelancong. Perekonomian masyarakat pun mulai membaik, seiring kedatangan mereka yang datang untuk belajar membatik maupun belanja,” sambung pria asal Jogyakarta ini.
Beda Motif
Salah satu rumah yang sempat dikunjungi Tim Persatuan Wartawan Pemko Medan, menunjukkan seorang wanita tengah membuat skets batik persis di depan rumahnya. Wanita paruh baya itu menyapa ramah.
Batik Semarang berbeda dengan batik Jogyakarta dan solo. Perbedaan tersebut dari sisi motifnya. Kata Luwianto ciri-ciri Batik Semarang bermotif kembang kangkung dan Manuk Pletuk.
Harga Batik Semarang cukup variatif. Dari harga Rp150 ribu hingga Rp5 jutaan tergantung kwalitas dan motifnya.
Edo Pramono (pemandu), yang ikut mendampingi mengunjungi tempat tempat wisata di Semarang menjelaskan, Produksi Batik Semarang tidak kalah kwalitasnya dengan batik, Jogya, Solo dan Pekalongan. “Batiknya ndak luntur mas. Ada malah yang makin dicuci makin cerah warnanya,” ujarnya.
Tiru Kampung Batik
Sementara, Kasubbag Humas Pemko Medan, Hendra Tarigan, saat ditanya tujuan mengunjungi Kampoeng Batik mengatakan, apa yang dilakukan Pemko Semarang dapat menjadi inspirasi dan diadopsi Pemko Medan untuk diterapkan Kota Medan.
“Kampoeng Batik ini sangat menginspirasi kita. Apa lagi dengan adanya Sentra Batik Medan yang diperkenalkan Ketua TPPK Ibu Hj. Maharani dapat meniru tindakan Kampung Batik Semarang agar mampu mendatangkan wisatawan,” pungkas Hendra.
Penulis: Ayub Badrin
Editor: Hendrik JS


























