Cegah Radikalisme, Polda Kalteng Terapkan ANTAX dan Tolak HPUS

Kabid Humas Polda Kalimantan Tengah, AKBP Hendra Rochmawan (tengah), didampingi Kompol Benito Haerlanda (kiri) dan Kompol Zepni Aska saat berbicara kepada wartawan di Command Center Cyber Patrol, Polda Kalteng, Rabu (21/11/2018)

Palangka Raya, PONTAS.ID – Command Center (Pusat Komando) Patroli Siber Polda Kalimantan Tengah terus berupaya melakukan langkah-langkah preventif mencegah munculnya radikalisme.

Aplikasi ANTAX (Anti Hoax) dan terobosan kreatif Tolak HPUS (Hoax, Pornografi, Ujaran kebencian dan SARA) menjadi unggulan untuk memantau lalu lintas informasi yang berpotensi menimbulkan keresahan bagi masyarakat.

“Aplikasi ini merupakan inisiasi pak Direktur Reskrimsus Polda Kalteng, Kombes Pol Adex Yudiswan dan menjadi aplikasi unggulan Polda Kalteng melakukan patroli siber,” ungkap penanggungjawab Command Center Polda Kalteng, Kompol Benito Haerlanda kepada wartawan di Mapolda Kalteng, Rabu (21/11/2018).

Dengan aplikasi ini lanjut Benito, masyarakat dapat melaporkan langsung informasi maupun video ke Command Center untuk dianalisa dan kemudian disimpulkan kebenarannya. “Jika dari kesimpulan informasi dan video tersebut terbukti tidak benar, akan ditindaklanjuti Tim Cyber Unit V Polda Kalteng,” kata dia.

Sementara itu, Unit V Tim Cyber Ditreskrimsus Polda Kalteng hingga saat ini telah menangani 12 kasus terkait hoax, “Sepuluh kasus telah dilimpahkan ke kejaksaan, dan 2 kasus sudah masuk proses persidangan,” kata Kompol Zepni Aska.

Tindakan yang ditempuh Tim Cyber kata Aska, berdasarkan informasi yang didapat dari empat sumber yakni, Patroli Cyber, Humas Polda Kalteng, informasi intelijen dan laporan dari masyarakat.

“Untuk itu kami harapkan masyarakat semakin bijak dalam bermedia sosial. Berhati-hatilah dengan jari Anda agar terhindar dari masalah,” pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kabid Humas Polda Kalimantan Tengah, AKBP Hendra Rochmawan, mengungkapkan saat ini tengah menjalankan program “Safe and Related Netizen” untuk mencegah netizen (warganet) terpapar paham radikal.

“Kita lindungi netizen dari paham radikal dengan tidak menyebar hoaks (berita bohong) dan ujaran kebencian (hate speech). Jika sudah terlanjur dan bersedia minta maaf dan berjanji tidak mengulangi lagi, kita maafkan,” kata dia.

Selain itu, pihaknya lanjut Hendra, juga berkunjung ke kampus-kampus dan sekolah-sekolah serta kantor-kantor pemerintah.

“Kita juga buat group WhatsApp memudahkan komunikasi dengan seluruh pihak terkait dan kelompok-kelompok masyarakat adat dan tokoh agama,” pungkasnya.

Penulis: Pahala Simanjuntak
Editor: Hendrik JS.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here