Indonesia Tuan Rumah Pusat Gambut Internasional

Jakarta, PONTAS.ID – Indonesia resmi menjadi tuan rumah berdirinya International Tropical Peatland Center (ITPC). Pusat riset gambut internasional itu mewadahi berbagai kegiatan riset, berbagi pengalaman serta kebijakan dalam mengelola gambut.

“Kami melihat adanya kebutuhan untuk mengumpulkan pengetahuan dan mengembangkan kapasitas guna meningkatkan aksi pelestarian lahan gambut tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara-negara tropis lainnya,” kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya usai meluncurkan ITPC di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Selasa (30/10).

Turut hadir dalam peluncuran tersebut Menteri Lingkungan Hidup dan Pariwisata Republik Kongo Arlette Soudan-Nonaults, Direktur Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan Republik Demokratik Kongo Jose Ilanga Lofonga, Direktur Eksekutif UN Environment Programme (UNEP) Erik Solheim, dan Koordinator Kebijakan dan Sumber Daya Kehutanan Food and Agriculture Organization (FAO) Tina Vanhanen.

Menteri Siti mengatakan, di level global, kurangnya pemahaman mengenai lahan gambut seringkali menimbulkan masalah dalam program pelestariannya. Pengetahuan dan riset seputar lahan gambut, lanjutnya, sebenarnya telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Namun, para pengambil kebijakan belum memanfaatkannya secraa optimal.

“Dalam rangka itulah kita meluncurkan ITPC ini. Pada praktiknya, upaya pelestarian gambut membutuhkan dukungan pengetahuan yang banyak dan teknologi yang tepat. Pusat gambut ini akan menjadi tempat belajar bagi negara lain yang ingin mengetahui tentang wilayah gambut tropis dan bagaimana merestorasi, serta merawatnya,” ujarnya.

Menteri Siti menambahkan upaya Indonesia dalam menjaga gambut kini telah mendapat apresiasi. Pemerintah telah melakukan langkah korektif dalam pengelolaan gambut pascakejadian karhutla 2015. Di antaranya, moratorium pengeringan lahan gambut dan penegakkan hukum.

Menteri Arlette Soudan-Nonaults dan Direktur Jenderal Jose Ilanga Lofonga sebelumnya melakukan kunjungan ke Kalimantan Barat untuk melihat langsung pengelolaan gambut di Indonesia. Mereka mengapresiasi pengelolaan lahan gambut RI telah maju. Pemerintah dinilai tak hanya sukses melakukan manajemen gambut tapi juga melakukan restorasi.

Menurut Menteri Arlette, lembah gambut di Kongo merupakan ekosistem gambut terbesar kedua di dunia dan memiliki potensi menyerap karbon setara dengan tiga tahun emisi gas rumah kaca global. Kehadiran pemerintah Republik Kongo dan Republik Demokratik Kongo ke Indonesia untuk mempelajari pengelolaan gambut amat penting dalam berbagi pengetahuan, pengalaman, dan kebijakan.

Badan Pengembangan dan Inovasi Penelitian Kehutanan dan Lingkungan Indonesia bersama dengan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) di Bogor akan berfungsi sebagai tuan rumah bagi sekretariat sementara ITPC. Pemerintah Indonesia, tutur Menteri Siti, secara terbuka mengundang negara-negara lain, mitra pendanaan, ilmuwan, dan kolaborator lain untuk bergabung dengan ITPC.

Direktur Eksekutif UNEP Erik Solheim menyatakan kolaborasi antarnegara dalam pelestarian gambut amat penting. ITPC bisa menjadi instrumen strategis berbagai negara yang ingin menerapkan praktek terbaik pengelolaan gambut.

Editor: Idul HM

Previous articleJemput Bola Barang Bukti, Warga Apresiasi Terobosan Kejari Sergai
Next articleDVI Pastikan Tak Satupun Kantong Jenazah Dalam Kondisi Utuh