Taman Nasional Gunung Halimun Salak Tambah Koleksi Satwa

Jakarta, PONTAS.ID – Kabar bahagia datang dari Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), dimana telah menetas secara alami dan selamat, seekor anak burung Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) di Pusat Suaka Satwa Elang Jawa (PSSEJ) Loji, Bogor, Jawa Barat (7/7/2020).

Anak burung Elang Jawa tersebut merupakan hasil dari pasangan “Rama” (Jantan) dan “Dygta” (Betina) di kandang rehabilitasi. Setelah menunggu 42 hari lamanya, akhirnya telur yang dierami Dygta berhasil menetas dengan selamat.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, memberikan nama “Parama”, yang dalam bahasa Indonesia, berarti paling unggul. Kelahiran Parama ini diharapkan menjadi simbol keunggulan Kementerian LHK dan para konservasionis dalam upaya pelestarian satwa liar khususnya Elang Jawa di Indonesia.

Kepala Balai TNGHS, Ahmad Munawir, pada keterangan tertulisnya (17/7/2020), menyebut, Rama dan Dygta adalah sepasang burung Elang Jawa yang diserahkan oleh petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur kepada PSSEJ Loji untuk memulai program rehabilitasi.

Lalu, satwa tersebut di kandang karantina selama kurang lebih satu bulan, dipantau perilaku, kesehatannya dan diajarkan untuk mengenali pakan alami dalam rangka untuk memulihkan sifat alaminya.

Setelah dievaluasi baik dari segi medis umum dan perilaku selama di kandang karantina, Elang Jawa ini dipindah ke kandang rehabilitasi. Pemindahan sepasang Elang Jawa ini setelah dinilai awal mereka mempunyai kemungkinan dilepasliarkan di alam.

Setelah 14 bulan direhabilitasi di kandang yang berbeda dengan ukuran 20 m x 10 m x 7 m, kemudian pada 3 Februari 2020 kedua Elang Jawa ini disatukan ke dalam satu kandang sama dengan ukuran lebih besar yaitu 20 m x 10 m x 15 m. Rama dan Dygta sengaja dipasangkan sebelum nantinya akan dilepasliarkan secara bersama-sama.

“Berdasarkan hasil pemantauan, kedua burung tersebut menunjukkan perilaku yang baik untuk dilepasliarkan secara bersama, bahkan mereka pernah tertangkap kamera CCTV melakukan perkawinan,” jelas Munawir.

Menurut Munawir, saat pemantauan rutin (28/5/2020), perawat menemukan sebutir telur Elang Jawa di lantai kandang, di atas tanah di sela-sela serasah rumput dan ranting-ranting kayu kering. Sejak penemuan tersebut, petugas kemudian mengamati 24 jam dengan menambahkan kamera CCTV resolusi tinggi guna memonitor proses pengeraman sampai menetasnya telur tersebut.

Dan, yang ditunggu pun tiba. Peristiwa bersejarah akhirnya datang, seperti terekam CCTV tepat pada Selasa (7/7/2020), pukul 10.24 WIB telur yang dierami Dygta menetas. Kejadian ini baru diketahui oleh petugas pada pagi keesokan harinya pukul 07.00 WIB melalui layar CCTV.

Kejadian kawin, bertelur, mengeram secara alami dan menetas di dalam kandang rehabilitasi tentunya menjadi momen sangat penting di dalam upaya konservasi Elang Jawa yang saat ini masuk kategori jenis satwa terancam punah atau Endangered Species menurut Red List oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Saat ini, Parama terlihat sangat sehat, induk jantan dan betina secara rutin bergantian merawat dan menjaga. Induk betina rutin memberikan makan dan menghangatkannya pada jam-jam tertentu.

Munawir juga mengabarkan, pada Kamis (16/07/2020) ada pelepasliaran satwa liar dilindungi berupa satu ekor elang jenis Ular Bido (Spilornis cheela) berjenis kelamin jantan di kawasan konservasi TNGHS. Pelepasliaran di masa Pandemi Covid-19 ini merupakan upaya pemerintah bersama berbagai pihak untuk melestarikan dan mensejahterakan satwa liar. Jadi, kegiatan pelepasliaran pun tetap mengikuti protokol kesehatan Covid-19.

Elang Ular Bido bernama “Raja” adalah serahan dari Balai KSDA Jakarta (20/02/2020). Berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi, baik dari sisi medis maupun pola perilaku, penilaian terhadap elang ini dinyatakan siap dilepasliarkan. Elang Ular Bido ini di release setelah melewati masa rehabilitasi selama kurang lebih 6 bulan di PSSEJ Loji.

“Elang Ular Bido merupakan jenis burung pemangsa (Raptor) di TNGHS, keberadaanya sebagai top predator di alam sangat penting sebagai pengatur rantai makanan sehingga keseimbangan ekosistem dapat terjaga,” ungkap Munawir.

Penulis: Abriyanto Mohammad

Editor: Riana

Previous articleMPR Ajak TNI, Umat Islam & Nasionalis Bersatu Jaga Pancasila
Next articleTabrak Truk, Sopir Bintang Tapanuli Tewas di Tempat