
Jakarta, PONTAS.ID – Pakar ekonomi Faisal Basri menampik pernyataan yang menyebut perekonomian Indonesia dikuasai asing. Bahkan jika dilihat secara jernih sektor per sektor, tidak dapat diambil kesimpulan terjadinya penguasaanasing terhadap perekonomian bangsa.
Hal ini ditegaskan Faisal Basri saat menjadi pembicara dalam diskusi yang digelar Tim di Media Center Jokowi-Ma’ruf Amin, Jl. Cemara No. 19, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (2/10/2018).
“Indonesia menguasai hampir di seluruh sektor ekonomi. Misalnya sektor Perbankan, mulai dari Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia kemudian Bank Central Asia. BCA itu punya Pak Budi Hartono, orang Indonesia juga. BRI semuanya Indonesia. Jadi mana yang asingnya dominan?” kata Faisal
Demikian halnya dengan sektor telekomunikasi, salah satu BUMN milik Indonesia, PT Telekomunikasi Indonesia kata Faisal yang menguasai sektor ini. “Demikian juga Freeport sekarang sudah 50 persen +1. Itu tidak dikuasai asing lagi. Republik Indonesia yang menguasainya,” kata Faisal.
Untuk sektor Migas, lanjut dia, juga dikuasai perusahaan nasional PT Pertamina, bahkan perusahaan seperti PT Chevron Pacific Indonesia masih kalah dibanding BUMN migas tersebut.
“Pertamina menguasai 60 persen ladang minyak di Indonesia. Memang produk Pertamina masih kurang, tetapi karena diberikan ladang-ladang yang sudah tua dan habis kontraknya. Bagusnya Pertamina juga melakukan eksplorasi sumur-sumur baru, tidak hanya menerima muntahan saja. Jadi, industri pusat migas terbesar itu Pertamina,” ungkap Faisal.
Faisal juga mencontohkan, industri pertambangan, seperti PT Aneka Tambang, PT Bukit Asam, Adaro Energy adalah perusahaan yang dimiliki oleh orang-orang Indonesia.
Sementara dari sektor perusahaan konstruksi, Indonesia kata Faisal juga menguasai sektor kontraktor, seperti PT Pembangunan Perumahan, PT Adhi Karya, dan PT Waskita Karya.
Di sektor transportasi, Faisal mengungkapkan PT Kereta Api Indonesia (KAI) menjadi satu-satunya perusahaan yang menguasai termasuk dengan hadirnya Railink, anak perusahaan PT KAI yang menkhususkan diri dalam transportasi dari dan ke bandara.
“MRT punya Jakarta, Jepang cuma kontraktor dan pemberi pinjaman, tapi tidak menguasai operasinya. 100 persen Indonesia. Penerbangan seperti Lion, Garuda, Sriwijaya, semua kita (Indonesia) termasuk penguasaan bandara di Indonesia yang dikelola oleh BUMN.
“Kalau teman-teman ke Indianapolis (AS), bandaranya dioperasikan oleh asing yaitu British Airport Authority. Kalau kita, Pelabuhan Indonesia, hampir semuanya, kecuali satu, New Priok,” pungkasnya.
Penulis: Stevanny Andriani
Editor: Pahala Simanjuntak



























