UAS atau Salim Cawapres, Peluang Ma’ruf, Din, TGB, Jimly, dan Mahfud Menanjak

ustadz Abdul Somad dan Salim Assegaf (ist)

oleh: Direktur Eksekutif SIGMA Said Salahudin

Diusulkannya nama Ustad Abdul Somad (UAS) dan Habib Salim Segaf Aljufri sebagai kandidat calon Wakil Presiden (cawapres) dari kubu penantang boleh jadi akan ikut mengerek peluang sejumlah nama cawapres di kubu petahana.

Nama-nama cawapres Joko Widodo (Jokowi) yang mungkin saja diuntungkan oleh kemunculan UAS dan Habib Salim diantaranya Kyai Ma’ruf Amin, Din Syamsuddin, Abdul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB), Jimly Asshiddiqie, dan Mahfud MD.

Sebetulnya, nama kelima tokoh itu sudah banyak disebut-sebut memiliki peluang untuk mendampingi Jokowi. Tetapi probabilitas mereka agak terhambat oleh kandidat lain yang berasal dari unsur parpol.

Sebagai orang non-parpol, mereka dianggap tidak punya kontribusi dalam soal pengusulan capres-cawapres. Sementara kandidat dari unsur parpol merasa memiliki modal elektoral untuk mengusung Jokowi.

Nah, ketika kubu penantang berencana memasang tokoh agama sebagai calon pendamping Prabowo Subianto, maka peluang kelima tokoh untuk mendampingi Jokowi bisa ikut menanjak.

Sebab, untuk mengimbangi UAS atau Habib Salim dalam merebut suara pemilih muslim, Jokowi memerlukan figur yang juga memiliki pengaruh kuat dikalangan pemilih muslim.

Dilihat dari daftar nama cawapres yang sudah beredar, nama Kyai Ma’ruf, Pak Din, TGB, Jimly, atau Mahfud MD mungkin menjadi figur yang paling mendekati kriteria dimaksud.

Jika kriterianya diarahkan pada figur ulama murni, maka nama Kyai Ma’ruf dan nama Pak Din sepertinya pantas dipertimbangkan oleh Jokowi.

Figur Kyai Ma’ruf cukup menonjol dikalangan pemilih muslim. Dia sering dijadikan sebagai rujukan oleh para ulama. Dia pimpinan MUI yang menaungi berbagai ormas Islam, sekaligus petinggi di Ormas Nahdlatul Ulama (NU).

Pak Din juga punya ‘background’ yang mirip dengan Kyai Ma’ruf. Dia pernah memimpin MUI, juga pernah memimpin Ormas Muhammadiyah.

Sedikit kelebihan Pak Din dibandingkan Kyai Ma’ruf mungkin karena dia juga dikenal awbagai seorang intelektual dan berasal dari luar Pulau Jawa.

Jika kriterianya diarahkan pada kombinasi ulama sekaligus politisi, nama TGB bisa dipikirkan. Dia pernah memimpin Ormas Islam Nahdlatul Wathan, dan pernah pula masuk dalam kepengurusan Partai Demokrat. Tetapi ‘background’ politik dan seringnya ia dipanggil KPK belakangan ini bisa saja mengurangi kansnya.

Dalam hal kriteria yang diinginkan adalah perpaduan antara figur ulama dan ahli hukum, maka nama Jimly dan Mahfud bisa menjadi pilihan Jokowi.

Banyak orang lebih mengenal Jimly dan Mahfud sebagai pakar hukum tata negara, sebab mereka sama-sama pernah menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi.

Tetapi kedua tokoh itu sebetulnya juga adalah juru dakwah sekaligus pemikir Islam. Jimly saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), sedangkan Mahfud, walaupun sudah agak lama, pernah menjadi Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI).

Sedikit kelebihan Jimly dari Mahfud adalah, Jimly berasal dari luar Pulau Jawa dan tidak pernah masuk dalam tim kampanye Pilpres, sedangkan Mahfud justru pernah menjadi lawan Jokowi ketika menjabat sebagai Ketua Tim Kampanye Prabowo – Hatta Rajasa di Pilpres 2014.

Previous articlePKS Heran Permohonan Kasasi atas Fahri Hamzah Kalah di MA
Next articleKalah di MA, PKS Diminta Segera Ganti Rugi 30 Miliar ke Fahri Hamzah