Jakarta, PONTAS.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung, Jawa Barat, siap membantu pengusaha di sektor pariwisata untuk membangun wisata nomadik (nomadic tourism), dengan memanfaatkan potensi daya tarik wisata alam (nature) berupa hutan, danau, gunung, dan perkebunan, dengan memberikan izin secara gratis.
Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Kabupaten Bandung, H. Agus Firman Zaeni dalam temu dialog dengan 50 jurnalis peserta outbound yang diadakan Biro Komunikasi Publik Publik (Komblik) Kementerian Pariwisata (Kemenpar) di Restoran Pinisi Glamping Lakeside Rancabali Ciwidey, Kabupaten Bandung, Kamis (2/8/2018).
“Kabupaten Bandung punya daya tarik alam yang besar untuk dikembangkan sebagai wisata nomadik. Namun, dalam hal penggunaan lahan harus kerjasama dengan Perum Perhutani, PTPN, dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSD). Kami siap membantu pengusaha untuk memanfaatkan potensi alam itu menjadi obyek wisata yang menarik tapi tetap mengedepankan konservasi alam dan mensejahterakan masyarakat setempat,” kata Agus dalam siaran pers Kemenpar, Sabtu (4/8/2018).
Agus yang hadir dalam kesempatan itu ditemani oleh Kepala Biro Komblik Kemenpar, Guntur Sakti menambahkan bahwa pihaknya siap memberikan rekomendasi kepada pengusaha wisata nomadik sehingga memudahkan untuk melakukan kerjasama dengan pihak Perum Perhutani, PTPN dan BKSD.
“Ini telah kami buktikan ketika pengusaha membangun Glamping Lakeside Rancabali Ciwidey ini. Kami beri izin gratis. Tanpa uang untuk sebatang rokok pun,” ujarnya.
Agus melanjutkan, meskipun dalam usaha itu restribusi maupun uang PNBP tidak masuk ke Pemkab, namun multiplier dari kegiatan pariwisata itu sangat besar dalam penciptaan lapangan kerja maupun kesejahteraan, karena wisatawan yang datang membelanjakan uangnya langsung kepada masyarakat setempat.
Dari hasil pertemuan dengan Perum Perhutani yang difasilitasi oleh Kemenpar di Yogyakarta baru-baru ini disepakati bahwa Perhutani akan mempermudah investor yang ingin membangun wisata nomadik yang lokasinya di Kabupaten Bandung relatif banyak dan menarik.
Sementara itu pengelola Glamping Lakeside Rancabali Ciwidey Lutfi Naufal mengatakan, kemudahan perizinan yang diberikan oleh Disparbud Kabupaten Bandung sangat membantu dalam kelancaran usaha pariwisata mereka.
“Kami menjadi mudah menyakinkan pada Perhutani dan PTPN dalam mengelola glamour camping (Glamping) di lahan mereka. Yang terpenting konsepnya jelas terutama dengan mengutamakan konsep pelestarian alam dan pemberdayaan masyarakat. Di Glamping Lakeside Rancabali Ciwidey yang kami mulai sejak 2016 ini banyak memperkerjakan keluarga karyawan perkebunan,” ucap Lutfi.
Sementara itu Kepala Biro Komblik Kemenpar Guntur Sakti mengatakan, nomadic tourism dan digital destination merupakan program unggulan Kemenpar.
“Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menilai nomadic tourism memiliki value ekonomi tinggi dan treatment-nya juga relatif mudah, sehingga menarik para pelaku industri pariwisata untuk mengembangkan bisnis ini, terutama untuk aksesibilitas dan amenitasnya. Karena konsep ini cepat memberi keuntungan komersial. Kemenpar akan mengembangkan nomadic tourism di empat destinasi prioritas yaitu Danau Toba, Labuan Bajo, Mandalika, dan Borobudur yang nantinya akan menjadi pilot project,” kata Guntur.
Untuk diketahui, nomadic tourism adalah gaya berwisata baru di mana wisatawan dapat menetap dalam kurun waktu tertentu di suatu destinasi wisata dengan amenitas yang portable dan dapat berpindah-pindah.
Selain itu, gaya berwisata ini pun sangat cocok bagi suatu destinasi wisata yang sangat potensial namun daya dukung amenitas masih rendah. Maka, nomadic tourism ini akan menjadi solusi sementara yang sifatnya permanen bagi wisata tertentu di Indonesia.
Dengan kata lain yang dimaksud nomadic tourism adalah wisata temporer baik akses maupun amenitasnya yang akan diterapkan untuk menjangkau destinasi alam potensial di kepulauan yang sulit dijangkau, seperti Maluku misalnya.
Nomadic tourism, khususnya untuk amenitas seperti glamping banyak diminati para traveller dunia sebagai salah satu pilihan selain hotel berbintang. Fasilitas glamping mulai dikembangkan di sejumlah destinasi unggulan di Tanah Air seperti Bali, Lombok, Jawa Barat, dan Belitung.
Menurut data jumlah backpacker atau wisatawan kelana di seluruh dunia mencapai 39,7 juta terbagi dalam 3 kelompok besar, yakni flashpacker atau digital nomad sekitar 5 juta orang yang menetap sementara di suatu destinasi sembari bekerja, lalu glampacker atau milenial nomad sekitar 27 juta orang dengan mengembara di berbagai destinasi dunia yang instagramable.
Dan yang terakhir yakni luxpacker atau luxurious nomad sebanyak 7,7 juta orang lebih suka mengembara untuk melupakan hiruk-pikuk aktivitas dunia. Para luxpacker ini lebih menyukai fasilitas amenitas glamping di kawasan wisata alam, seperti danau, pegunungan, pantai, atau persawahan dan sungai.
Editor: Risman Septian




























