Jakarta, PONTAS.ID – Perang dagang yang tengah dilakoni Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) ternyata tidak memengaruhi belanja impor mereka. Hal itu terlihat dari permintaan atas produk minyak sawit asal Indonesia yang mengalami pertumbuhan sepanjang semester pertama 2018.
Pada enam bulan pertama, Tiongkok mengimpor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya sebesar 1,82 juta ton. Terdapat kenaikan hingga 23 persen atau 343,31 ribu ton dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang hanya 1,48 juta ton.
“Peningkatan permintaan itu tidak terlepas dari diberlakukannya kebijakan penurunan pajak pertambahan nilai untuk minyak nabati dari 11 persen menjadi 10 persen yang efektif sejak 1 Mei 2018,” ujar Direktur Eksekutif, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sardjono melalui keterangan resmi, Jumat (27/7).
Di luar CPO, untuk pertama kalinya, Tiongkok membuka pasar biodisel bagi Indonesia.
Produk bahan bakar berbasis minyak nabati itu mulai masuk ke ‘Negeri Tirai Bambu’ pada Juni lalu dengan volume sebesar sebesar 185,86 ribu ton.
Sikap tersebut sangat bertolak belakang dengan rival perang dagang mereka, yakni AS, yang berupaya menutup akses pasar bagi biodiesel dan produk hasil sawit Indonesia lainnya.
Kendati berusaha menghambat produk sawit Indonesia, pada kenyataannya, ekspor CPO dan produk turunannya ke ‘Negeri Paman Sam’ tetap mengalami pertumbuhan.
Sepanjang semester pertama tahun ini, AS mengimpor 611,08 ribu ton produk minyak sawit, naik 13% dari periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar 542,70 ribu ton.
Kendati mengalami kenaikan permintaan di dua negara raksasa itu, kinerja ekspor minyak sawit Indonesia pada semester pertama 2018 mengalami pelemahan. Volume ekspor minyak sawit Indonesia, baik minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), palm kernel oil (PKO) dan turunannya termasuk oleochemical dan biodiesel tercatat hanya mampu mencapai 15,30 juta.
Angka tersebut turun 2% dibandingkan capaian periode yang sama tahun lalu. Kala itu, volume ekspor mencapai 15,62 juta ton.
Editor: Idul HM




























