Luhut: Kami Ingin Bangun Kemitraan Bukan Diskriminasi

Menko Luhut mengadakan Press Briefing dengan media di Press Club, Brussel (23/4)

Jakarta, PONTAS.ID – Membangun kemitraan dalam posisi yang sama dengan Uni Eropa. Kami tidak ingin melihat ini sebagai tindakan diskriminasi, dalam prosesnya kami ingin membangun dialog antara mitra, keputusan yang diambil bisa memuaskan semua pihak. Hal ini disampaikan Menko Luhut kepada media di Press Club Brussel, Belgia (23-04).

Luhut menyampaikan kepada media, ia tidak datang untuk mengemis atau untuk didikte, tetapi untuk berdialog dengan mitra.” Kami dalam posisi yang setara, kami ingin membangun partnership,” jelas Luhut, seperti dikutip dari keterangan resminya Oleh PONTAS.ID di Jakarta, Selasa( 24/3/2018).

“Kami bukan negara miskin. Kami negara kaya dengan banyak pengalaman. Anda tanya tentang radikalisme, kami pernah mengalaminya. Anda tanya tentang kemiskinan, kami sudah mengalaminya dan sekarang masih melakukan usaha untuh menguranginya, Anda tanya tentang lingkungan hidup kami pun pernah mengalami dan mengalokasikan banyak dana untuk mengatasi ini” ujarnya

Sebelumnya Menko Luhut melakukan pertemuan dengan Komisioner Perdagangan EU H.E. Cecilia Malmström di kantornya. Ketika ditanya media, apa saja yang dibicarakan Menko Luhut dengan Komisioner Malmstrom, ia mengatakan banyak hal yang dibicarakan tentang isu lingkungan hidup, perdagangan, dan juga kelapa sawit.

“Palm oil bukan isu, tapi lebih ke persoalan kemiskinan. Menurut riset Universitas Stamford, kelapa sawit mampu mengurangi kemiskinan hingga 10 juta orang. 51% lahan kelapa sawit dikuasai oleh petani. Sebanyak lebih dari 16 juta orang bergantung pada kehidupannya pada sawit,” jawab Menko Luhut.

Menurut Menko Luhut, ia merasa ada yang janggal karena hanya sawit yang disebutkan, mengapa tidak diterapkan kepada yang lain seperti rapeseed dan bunga matahari.

“Hampir semua sawit yang dikirim dari Indonesia telah mendapat sertifikasi Internasional. Dari segi kesehatan kami sudah melakukan penelitian dan juga meminta konsultan independen ttg dampak sawit pada kesehatan, tidak ada yang salah dengan sawit,” katanya.

Menko Luhut mengatakan kepada Komisioner Malmstrom ia menyampaikan komitmen Indonesia untuk mempercepat proses Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA) yang perundingannya masih berlangsung karena produk Indonesia yang diekspor ke EU bukan hanya sawit.

Ia mengatakan, sama seperti harapannya, Komisioner Malmstrom berharap keputusan yang diambil nantinya bisa memuaskan semua pihalk.

“Kepada Komisioner Malmstrom, saya sampaikam kelapa sawit membantu meningkatkan kehidupan para petani di negara-negara berkembang lainnya, bukan hanya di Indonesia,” katanya kepada wartawan.

Kepada media, Menko Luhut mengatakan kelapa sawit sudah ada sejak lebih dari 150 tahun yang lalu, bukan sesuatu yang baru untuk Indonesia.

“Moratorium sudah diterapkan kami tidak akan menambah lahan sawit lagi. Menurut kami angka 14 juta hektar sudah cukup untuk sawit. Saat ini yang kami lakukan adalah mendidik para petani untuk melakukan peremajaan tanaman dan memberikan mereka penyuluhan tentang bibit unggul, dan pertanian berwawasan limgkungan,” katanya.

Editor: Idul HM

Previous articleTentara Israel Culik 23 Warga Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem
Next articleGo-pay Kolaborasi Program #TrashForCash Libatkan PBI-ICM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here