Batam Berpontensi Pusat Klaster Industri Elektronik Bernilai Tambah Tinggi

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bersama Kepala Divisi Module, Assembly, and Testing PT Infineon Technologies Hari Subronto (kanan) memperhatikan proses produksi semikonduktor ketika mengunjungi PT Infineon Technologies di Batam, (13/4/2018).

Jakarta, PONTAS.ID – Kementerian Perindustrian dorong Batam menjadi pusat pengembangan klaster industri elektronik yang bernilai tambah tinggi. Upaya ini untuk mendukung implementasi Making Indonesia 4.0, karena industri elektronik merupakan salah satu dari lima sektor manufaktur yang akan menjadi percontohan dalam penerapan teknologi di era revolusi industri keempat.

“Hingga sekarang yang telah berkembang di Batam itu industri berbasis perkapalan, yang juga mensuplai marine offshore. Sektor ini terpengaruh dengan siklus harga perminyakan,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto ketika melakukan kunjungan kerja di Batam, Kepulauan Riau, Jumat (13/4).

“Saat ini, perekonomian Batam hanya dua persen. Untuk itu, kami tengah memacu daya saing industri berbasis elektronik. Selain itu, yang juga menjadi potensi adalah industri maintenance, repair, and overhaul (MRO),” papar Menperin dalam keterangan tertulis  yang diterima PONTAS.id, di Jakarta, Senin (16/4/2018).

Peluang besar memajukan industri elektronik di Batam, diyakini Airlangga, karena di kota tersebut terdapat kawasan industri yang 70 persennya diisi oleh produsen elektronik beserta penghasil beragam komponen pendukungnya.

Menperin Mencontohkan, di kawasan industri Batamindo, telah berdiri PT Infineon Technologies sejak tahun 1999 yang memproduksi semikonduktor dan solusi sistem untuk kebutuhan komponen elektronik di sektor otomotif, komunikasi dan energi.

“Perusahaan ini sebagai top three di dunia. Di bidang energi, produknya nomor satu di pasar. Mereka mampu memenuhi kebutuhan untuk komponen elektronik power plant, smartphone dan otomotif,” ungkap Menperin

menurut Airlangga, pihaknya terus berupaya menarik investor masuk lebih banyak agar semakin memperdalam struktur industrinya dan meningkatkan nilai tambah produknya terutama untuk memenuhi pasar ekspor.

“Kebanyakan industri di Batam itu untuk global market, karena potensinya dekat dengan Singapura dan lokasinya sangat strategis, sehingga harusnya bisa tumbuh lebih tinggi,” ujarnya. Apalagi, pasar industri elektronik untuk komponen otomotif masih cukup besar.

Lebih lanjut, komponen elektronik yang juga bernilai tambah tinggi seperti yang digunakan di perangkat smartphone. Terlebih lagi, saat ini pengguna gadget semakin banyak, sehingga dapat mendorong Batam mewujudkan klaster industri yang menghasilkan multiplier effect. “Batam ini kan jadi outsourcing untuk produksi smartphone. Isi dari smartphone kan ada chips, dan chips itu telah diproduksi di Batam,” imbuhnya.

Menperin menyebutkan, empat langkah strategis yang telah disiapkan dan akan dijalankan dalam upaya mengakselerasi pengembangan industri elektronik di Indonesia agar mampu memasuki era Industri 4.0, yaitu menarik pemain global terkemuka dengan memberikan paket insentif menarik, mengembangkan kemampuan dalam memproduksi komponen elektronik yang bernilai tambah tinggi.

“Kami juga terus berupaya agar industri elektronik di Indonesia mengurangi ketergantungan kepada bahan baku atau komponen impor. Untuk itu, kami memacu industri elektronik dalam negeri agar tidak hanya terkonsentrasi pada perakitan, tetapi juga terlibat dalam rantai nilai yang bernilai tambah tinggi,” paparnya.

Selain mengunjungi kawasan industri Batamindo dan meninjau PT Infineon Technologies, dalam agenda kerja di Batam saat itu, sebelumnya Menperin memberikan pemaparan mengenai Implementasi Industi 4.0 di Indonesia pada Rapat Koordinasi Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan Bank Indonesia.

Editor: Idul HM

Previous articleAntisipasi Krisis Pariwisata, Ukus: Diperlukan Sinergi Stakeholder Pariwisata
Next articleMenpar Siapkan Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata