Data Pengguna Bocor, Bisnis FaceBook Terguncang

CEO Facebook, Mark Zuckerberg

Jakarta, PONTAS.ID – Kongres Amerika Serikat dan Parlemen Eropa kembali berencana memanggil bos Facebook Mark Zuckerberg. Pasalnya, 50 juta data pengguna FaceBook diakses secara tidak patut oleh salah satu perusahaan konsultan yang bekerja untuk tim kampanye Presiden Donald Trump.

Para wakil rakyat di AS, Inggris dan Eropa telah menyerukan investigasi terkait laporan berbagai media massa bahwa perusahaan analisis politik Cambridge Analytica mengakses data pengguna Facebook untuk menciptakan teknik-teknik kampanye melalui media sosial demi mendukung Donald Trump.

“Selubung kotak hitam praktik pengelolaan data Facebook telah terbuka. Dan hal ini tidak bagus,” kata profesor hukum pada Universitas Maryland Frank Pasquale, seperti dilansir ABC News, Selasa (20/3/2018).

Sebelumnya, Senator John Kennedy dari Partai Republik meminta Zuckerberg untuk bersaksi di Kongres, sementara Senator Ron Wyden dari Demokrat telah melayangkan surat untuk menanyakan kebijakan FaceBook dalam berbagi data pengguna dengan pihak ketiga.

Rusak Reputasi FaceBook
Perkembangan terbaru ini menjadi ancaman terbaru bagi reputasi Facebook yang sebelumnya juga telah tercoreng terkait dugaan pemanfaatan tools (pengaturan) FaceBook oleh pihak Rusia untuk mengarahkan pemilih AS dengan posting-posting berita hasutan dan bohong pada saat sebelum dan sesudah Pemilu AS tahun 2016 lalu.

Sebelumnya, pihak FaceBook mengaku telah menyewa perusahaan forensik digital Stroz Friedberg untuk mengaudit secara menyeluruh perusahaan Cambridge Analytica.

Untuk hal ini FaceBook telah sepakat dengan Cambridge Analytica agar membuka akses seluas-luasnya ke server-server dan sistem mereka.

Akibat skandal ini, harga saham Facebook sempat tertekan 7 persen atau hampir 40 miliar
dolar dari nilai kapitalisasinya menyusul kekhawatiran terganggunya bisnis FaceBook dengan peraturan yang akan dibuat menyusul kebocoran data pengguna FaceBook.

Jebak Politisi
Terpisah, pihak Cambridge Analytica membantah keras tudingan tersebut dan mengaku
telah menghapus semua data FaceBook yang mereka peroleh lewat aplikasi pihak ketiga pada 2014 silam.

Cambridge Analytica berdalih bahwa mereka akhirnya menyadari bahwa informasi itu tak sejalan dengan aturan perlindungan data yang berlaku.

Namun tak lama setelah melontarkan bantahan, saluran televisi Inggris Channel
4 News menyiarkan video para eksekutif Cambridge Analytica membahas suap dengan mantan agen rahasia dan para pekerja seks Ukraina untuk menjebak para politisi.

Editor: Hendrik JS

Previous articleRI Genjot Datangkan Wisatawan Selandia Baru
Next articleOTM, Dorong Pariwisata Banyuwangi Go Internasional

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here