Trotoar Sudirman-Thamrin, Bina Marga dan Dishub Lakukan Persiapan

Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Yusmada Faizal

Jakarta, PONTAS.ID – Dinas Bina Marga DKI dan Dinas Perhubungan DKI siap menjalankan konsep penataan trotoar di Jalan Sudirman-Thamrin.

Salah satunya, penataan trotoar Jalan Sudirman-MH Thamrin yang memiliki panjang 6.6 kilometer nantinya akan dilengkapi spot budaya dan spot edukasi.

Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Yusmada Faizal mengatakan, trotoar Jalan Sudirman-MH Thamrin akan disiapkan empat spot budaya. Masing-masing spot budaya itu tersebar di depan gedung Panin. Kemudian di bawah jembatan semanggi, di depan BNI 46 dan di depan gedung landmark.

“Jadi konsep trotoar yang akan kita tata ini tidak hanya sekadar untuk berjalan kaki. Tapi ada ruang-ruang ekspresi,” ujarnya, Kamis (8/3/2018).

Yusmada mengungkapkan, untuk sarana edukasi, pihaknya akan menyiapkan lantai kaca di muka trotoar. Lantai kaca transparan tersebut disediakan agar warga bisa melihat langsung jaringan infrastruktur bawah trotoar.

“Itu kita namakan spot edukasi. Di bawah itu kan ada jaringan utilitas dan pipa-pipa. Itu akan kita buat kaca transparan agar warga bisa teredukasi mengenai trotoar,” tandasnya.

Siapkan Rekayasa Lalin
Sementara itu, Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta akan menyiapkan sistem rekayasa lalu lintas (lalin) di sekitar lokasi penataan trotoar Sudirman- MH Thamrin.

“Semua pengerjaan fisik itu butuh dukungan rekayasa lalu lintas. Itu yang akan kita berikan,” ujar Sigit Wijatmoko, Wakil Kepala Dishub DKI Jakarta, Sigit Wijatmoko, di Jakarta, Kamis (8/3/2018).

Ia menjelaskan, selain rekayasa lalu lintas, pihaknya juga akan mengusulkan desain angkutan umum yang representatif di jalur penataan trotoar Sudirman-MH Thamrin.

“Kita akan sesuaikan jumlah jalur dengan desainnya. Kemudian lokasi pemberhentian busnya,” katanya.

Sigit juga menyampaikan akan berkoordinasi dengan PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta terkait pagar proyek MRT.

“Kita akan bicarakan soal membuka pagar proyek yang sudah selesai. Karena kalau kita bicara rekayasa lalu lintas perlu ruang tambahan,” tandasnya.

Penulis: Edu
Editor: Hendrik JS

Previous articleMK Gelar Sidang Perdana Uji Materi Terhadap UU MD3
Next articleGanjil Genap Tol Cikampek Mulai Berlaku, Ini yang Dilakukan Jasa Marga