Jakarta, PONTAS.ID – Ketum PPP Romahurmuziy (Rommy) mengatakan rentetan kejadian penyerangan ulama dilakukan oleh eks orang kuat di RI dan terkait kepentingan Pilpres.
Sontak atas pernyataan itu membuat para elit politik geram dan cenderung menyebut hal itu sangat tendesius.
Ketua DPP PAN Yandri Susanto menilai sangat tidak setuju dengan apa yang disampaikan oleh ketum PPP itu.
“Kalau misalkan seperti Ketum PPP menyimpulkan seperti itu, kan ada tendensius kepada pihak tertentu kan. Apalagi sudah mengarah membuat ciri-ciri orang kuat, yang berpengaruh, mau lengser, apa,” kata Ketua DPP PAN Yandri Susanto saat dihubungi, Jumat (23/2/2018).
Menurut Yandri, sebaiknya semua pihak menahan diri dengan komentar komentar yang dapat memecah belah persatuan, seperti milik Rommy. Yandri meminta elite politik menciptakan situasi yang kondusif.
“Saya kira tafsir-tafsir ini kan bisa membuat semacam suasana semakin tidak kondusif. Artinya bisa membuat saling curiga antar-elite negeri ini, kan. Maka untuk mengehtikan itu semua, saya kira yang paling tepat itu adalah mengungkap ada apa di balik ini semua,” ucap Yandri.
Ketimbang memberi komentar atas isu ini, Yandri lebih menyoroti soal pengungkapan kasus. Bagi Yandri, jangan saling menyalahkan, apalagi jika pemerintah tak mampu mengungkap motif di balik kasus-kasus tersebut.
“Saya kira ini adalah tugas tantangan pemerintah saat ini dan dia nggak bisa menyalahkan orang lain. Dia kan diberi mandat oleh rakyat untuk menyelesaikan persoalan bangsa, termasuk persoalan ulama,” katanya.
“Tidak boleh karena ketidakmampuan dia mengungkap secara detail, secara riil, komprehensif terus menyalahkan pihak lain atau justru menuding pihak lain isu ini sebagai pilpres dan itu sangat tidak sehat dan malah sangat kejam pernyataan itu,” imbuh anggota Komisi II DPR itu.
Hal Senada juga dikatakan Wasekjen PKB Daniel Johan menyebut pengungkapan nama pelaku akan membantu proses penegakan hukum dan bukan didasari atau disebut-sebut eks orang kuat dan terkait Pilpres 2019.
“Langsung ungkap dong kalau memang tahu, biar aparat segera menindak. Kalau nggak diungkap, kan sama saja mau melindungi pelaku, sekaligus membiarkan ulama menjadi korban,” ujar Daniel.
Menurut Daniel, ulama, termasuk para pemuka agama lain, ialah panutan masyarakat. Dia mengatakan ulama mesti mendapat jaminan rasa aman dalam menyampaikan dakwah.
“Kalau tidak diungkap secara jelas, malah akan semakin menimbulkan kecurigaan di antara kekuatan politik dan masyarakat. Dan itu yang harus dihindari sehingga adu domba dan menebar rasa takut antarmasyarakat yang umumnya menjadi tujuan dari teror ini, agar tidak terjadi,” ucap Daniel.
Sebelumnya, Rommy sapaan akrab Romahurmuziy menyatakan, berdasarkan analisis tim pencari fakta yang diterjunkan PPP yang telah mengumpulkan informasi dari sejumlah lokasi penyerangan pemuka agama. Tim itu juga sudah menyampaikan laporan ke DPP PPP.
Temuan-temuan yang sudah dilaporkan lalu dianalisis oleh PPP. Hasil analisis awal, PPP mengidentifikasi ada kelompok yang memiliki kemampuan melakukan tindakan sistematis dan terencana terkait penyerangan terhadap para pemuka agama. Hasilnya, mengarah ke dua pihak yakni penguasa dan pihak di luarnya.
Identifikasi bahwa ada kelompok berkuasa atau yang pernah berkuasa terkait penyerangan terhadap ulama lalu dianalisis lagi. Analisis didasarkan pada siapa untung dan siapa rugi. Dilanjutkan Rommy, penyerangan terhadap ustaz-ustaz kampung di masa lalu, pertama bertujuan memberikan pesan kepada masyarakat sipil agar tidak mencoba-coba menurunkan Soeharto. Tujuan kedua adalah membangun persepsi publik bahwa negara dalam kondisi tidak aman, sehingga harus dipimpin oleh Soeharto, yang memiliki latar belakang militer.




























