Pekerja Ungkap Penyebab Anjloknya Kinerja Garuda

Ilustrasi pesawat milik maskapai Garuda Indonesia

Jakarta, PONTAS.ID – Serikat Pekerja (SP) PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Menteri BUMN Rini Soemarno memangkas jumlah anggota direksi dari sembilan menjadi enam orang. Pasalnya, jumlah direksi ini menyebabkan kinerja keuangan Garuda merugi hingga USD 207,5 serta melorotnya 58 persen nilai saham Garuda.

Selain itu, SP Garuda juga meminta agar kinerja direksi dievaluasi, bahkan dilakukan pergantian direksi yang profesional dari internal perseroan, “Terlebih lagi, beberapa tugas direksi masih tumpang tindih dan perseroan tidak menunjukkan peningkatan kinerja,” ujar Ketua Umum Serikat Karyawan Garuda (Sekarga), Ahmad Irfan di Restoran Bumbu Desa, Cikini, Jakarta, Selasa (23/1/2018).

Ahmad mencontohkan, keberadaan direktur kargo, padahal perseroan tidak memiliki pesawat kargo atau frighter, “Pendapatan dari lini kargo pun tidak menunjukkan peningkatan kentara,” imbuhnya.

Kemudian, lanjut Ahmad, perseroan juga tercatat memiliki direktur produksi sementaa di sisi lain perseroan telah memiliki direktur operasi dan direktur teknis. Kedua jabatan itu disebut berakibat pada tumpang tindihnya peran direktur. Selain itu, ada juga kursi untuk direktur pelayanan. “Garuda sudah merugi dengan menambah anggota direksi. Ini yang menurut kami sangat, sangat, kurang tepat,” imbuh Ahmad.

Layanan Pelanggan Dikurangi
Kemudian terkait operasional Garuda, Ahmad mengungkapkan, manajemen malah memangkas biaya ke pelanggan, salah satunya dengan penumpang perjalanan rute pendek tidak akan lagi menikmati permen dan minuman hangat.

“Tak cuma itu, layanan bagasi untuk penumpang kelas pertama yang tersedia di setiap kota, kini hanya tersisa di Jakarta dan Kualanamu. Kami mendukung efisiensi, tetapi yang benar, jangan total cost (biaya) dipotong,” katanya.

Ahmad menjelaskan, puncak kekesalan mereka terjadi pada penundaan penerbangan yang sempat terjadi pada Desember 2017, di mana manajemen tidak menyiapkan backup sistem penugasan pilot dan awak kabin pada saat migrasi ke sistem baru.

Sementara itu, Ketua Harian SP Tomi Tampatty menambahkan, pihaknya telah menyampaikan seluruh keluhan pekerja kepada manajemen perseroan, “Sayangnya, manajemen terkesan menjaga jarak. Kami agak miris dengan status bintang lima, tetapi pelayanan dikurangi,” ujar Tomi.

Sebagai informasi, Serikat Karyawan Garuda (Sekarga) beranggotakan sekitar 1.800-an karyawan dari total 3 ribu-an karyawan perseroan. Sementara, Asosiasi Pilot Garuda (APG) beranggotakan sekitar 1.200-an pilot dari total 1.300 pilot perseroan.

Editor: Hendrik JS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here