DPR Prihatin 24 Anak Suku Asmat Tewas

Jakarta, PONTAS.ID – Anggota Komisi IX DPR RI Okky Asokawati mengaku prihatin dengan kondisi kesehatan yang yang menimpa anak-anak suku Asmat, Papua. Setidaknya, dalam empat bulan terakhir 24 anak di wilayah itu meninggal dunia.

Tentu saja, kata dia, hal ini menjadi ironi di tengah upaya Presiden Joko Widodo melakukan pembangunan infrastruktur di sejumlah daerah, termasuk Papua.

“Persoalan kesehatan warga, khususnya yang menimpa anak dan ibu, harus mendapat perhatian serius oleh pemerintah. Ini tragedi kesehatan di Papua, pemerintah harus buat terobosan dan prioritaskan layanan kesehatan,” kata Okky kepada dalam keterangan pers, Senin (15/1/2018).

Sekretaris Dewan Pakar DPP PPP ini berharap pemerintahan Jokowi-JK yang fokus terhadap pembangunan infrastruktur di Papua harus diimbangi juga dengan pemenuhan hak dasar bagi warga di sana.

“Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah mestinya juga memberikan perhatian yang serius terhadap daerah-daerah khususnya yang masuk kategori zona merah dalam hal kesehatan,” jelasnya.

Menurut Okky, keberadaan Inpres No 9 Tahun 2017 tentang Percepatan Pembangunan Kesejahteraan untuk Papua dan Papua Barat yang diteken pada 11 Desember 2017 lalu oleh Presiden Jokowi harus segera dikonkretkan kerjanya di lapangan.

Meski Inpres ini cenderung terlambat, terang dia, namun adanya Inpres ini, perangkat pemerintah dapat segera bertindak dan melakukan langkah-langkah nyata, khususnya terkait bidang kesehatan di Papua dan Papua Barat.

“Persoalan yang terjadi di Kabupaten Asmat, Papua, pernah saya singgung dalam rapat kerja dengan Menteri Kesehatan beberapa waktu lalu. Sayangnya, jawaban pemerintah justru menunjukkan kebingungan dalam menangani persoalan tersebut,” terangnya.

Ia mendesak 27 instansi Kementerian/Lembaga yang berada di pusat, sebagaimana amanat Inpres 9/2017 agar segera membuat terobosan atas masalah yang menimpa warga Papua, dan daerah-daerah lainnya yang teridentifikasi memiliki persoalan kesehatan.

“Agar Inpres tersebut memiliki makna bagi masyarakat Papua dan Papua Barat, pimpinan Kementerian dan Lembaga agar segera melakukan langkah nyata untuk bertindak atas persoalan tersebut, khususnya bidang kesehatan yang terjadi di Provinsi di ujung Timur Indonesia ini,” pungkasnya.

Sebelumnya, sebanyak 24 anak meninggal akibat kejadian luar biasa campak disertai gizi buruk di Kabupaten Asmat, Papua, dalam empat bulan terakhir. Jumlah korban bisa bertambah karena Pemerintah Kabupaten Asmat masih melakukan pendataan.

Di Rumah Sakit Agats, ibu kota Kabupaten Asmat, Jumat (12/1), terdapat 12 anak berusia di bawah lima tahun (balita) dirawat. Tubuh mereka kurus dengan kondisi kesehatan belum stabil. Salah satu di antara mereka adalah Theresia Bewer (4), bocah asal Kampung Beritem, Distrik Agats. Berat badan Theresia cuma 10 kilogram. Ia terserang campak disertai radang paru-paru.

Pihak rumah sakit berupaya optimal merawat anak-anak itu, antara lain dengan memberikan makanan tambahan berupa biskuit khusus anak dan susu. Pasien juga mendapatkan cairan infus dan oksigen.

Kondisi dan jumlah tempat tidur memadai. Ada tiga bangsal dan dua ruangan khusus untuk merawat pasien. Di setiap bangsal terdapat dua hingga tiga pasien. Adapun ruang khusus, yakni VIP dan HCU (high care unit), dihuni empat anak yang kondisi kesehatannya belum stabil.

Data 24 korban meninggal akibat kejadian luar biasa (KLB) campak dan gizi buruk dihimpun dari laporan tokoh agama di Asmat dan tenaga medis RS Agats.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here