Bangun LRT, Ratu Prabu Pinjam Uang China

Proyek pembangunan LRT

Jakarta, PONTAS.ID – PT Ratu Prabu Energi Tbk (ARTI) akan meminjam uang Export-Import Bank of China (China Eximbank) mendanai proyek pembangunan Light Rail Transit (LRT) Jakarta, Bogor, Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek). Sebab proyek ini membutuhkan investasi USD 28 miliar – USD 30 miliar atau Rp 378 triliun hingga Rp 405 triliun. (USD 1 = Rp 13.500)

“Jadi sindikasi, pemimpinnya Eximbank China, mereka sudah menyanggupi,” tutur Direktur Utama Ratu Prabu Grup, Burhanuddin Bur Maras, Selasa (9/1/2018).

Namun, Bur Maras mengatakan belum ada keputusan pasti berapa total dana yang akan dikucurkan oleh Eximbank China. “Komitmen jumlah dana masih akan menunggu izin pembangunan dari pemerintah provinsi (pemprov) DKI Jakarta. Jika mendapatkan persetujuan pemerintah, mereka bersedia kucurkan dananya,” terang Bur Maras.

Selain Eximbank China, perbankan asal Jepang dan Korea juga telah menunjukan ketertarikannya. Menurut Bur Maras, sejumlah bank dari Jepang akan menyambangi kantornya Senin pekan depan (15/1/2018).

Selanjutnya, Ratu Prabu kata Bur Maras tak lupa akan meminta bantuan perbankan dari dalam negeri, meski pihaknya belum melakukan diskusi dengan perbankan nasional.
“Karena di Indonesia, tentu perputaran uang melibatkan bank dalam negeri. Itu sudah pasti,” tegasnya.

Bisnis Menguntungkan
Bur Maras memaparkan, proyek LRT Jabodetabek ini menguntungkan karena berdasarkan
studi yang dilakukan oleh dua lembaga konsultas asal Amerika Serikat (AS) dan Australia, Internal Rate of Return (IRR) proyek LRT sebesar 10,9 persen.

“Itu bagi bisnis menguntungkan, karena sembilan persen saja sudah untung. Nah itu kalau mau pinjam uang di bank bunganya 6,7 persen, sedangkan dengan China hanya dua persen,” kata Bur Maras.

Selanjutnya, Bur Maras mengklaim bisa melunasi seluruh pinjaman proyek LRT dalam jangka waktu 10 tahun hingga 15 tahun. Berdasarkan hitungannya bersama lembaga konsultan asal Amerika Serikat (AS) dan Australia, LRT Jabodetabek berpeluang mencatatkan pendapatan sebesar USD 15 juta per hari.

“Total penduduk yang mondar-mandir di Jakarta ini menurut Bappenas 10 juta penduduk, kami ambil misalnya 5 juta penduduk saja, dengan tiket USD 3 untuk pulang dan pergi maka satu hari pendapatan mecapaiUSD 15 juta,” papar Bur Maras.

Dari keuntungan ini, perusahaan kata dia, akan menggunakan 70 persen sampai 80 persen untuk biaya operasional dan perawatan. “Jadi sisa 30 persen atau 40 persen, kami bisa kembalikan dana dengan waktu relatif singkat,” jelas Bur Maras
Editor: Hendrik JS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here